Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

15 Dec 2021, 03:30 WIB

Belajar dari Pengalaman

Belajar dari pengalaman akan membuat seseorang mawas diri dan hati-hati dalam melakukan sesuatu.

OLEH NUR FARIDAH

Pepatah mengatakan, pengalaman adalah guru terbaik. Bukan hanya pengalaman dirinya sendiri, melainkan juga pengalaman dari orang lain. Pengalaman atau peristiwa buruk diambil pelajarannya agar tidak dilakukan dan pengalaman atau peristiwa baik agar dilakukan terus.

Banyak orang yang tidak belajar dari pengalaman, akibatnya kerap kali terjerembab dua kali. Nabi mengingatkan, “Seorang mukmin tidak akan jatuh dua kali di lubang yang sama.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ibnu Utsaimin dalam kitabnya, Syarh Riyadhus Shalihin, mengatakan, “Seorang mukmin tidak jatuh dalam lubang yang sama dua kali karena ia sudah waspada, pintar dan cerdas. Maka, hal ini menunjukkan bahwa hendaknya seseorang itu memiliki kecerdasan, supaya tidak terulang kembali tertimpa kemudaratan.”

Dikisahkan, seseorang yang begitu takjub dengan kepribadian dan kesalehan Imam Hasan al-Bashri pernah bertanya, “Siapa yang mendidik Anda memiliki pribadi seperti ini?”

Hasan al-Bashri menjawab pendek, “Diriku sendiri.” “Bagaimana bisa seperti itu?” tanya orang itu lagi. Hasan menguraikan, “Jika aku melihat keburukan pada orang lain, aku berusaha menghindarinya. Jika aku melihat kebaikan pada orang lain, aku berusaha mengikutinya. Dengan begitulah aku mendidik diriku sendiri.” 

Belajar dari pengalaman, baik pengalaman pribadi maupun orang lain, akan membuat seseorang mawas diri dan hati-hati dalam melakukan sesuatu. Ia tidak melakukan kesalahan dua kali atau berkali-kali. Justru ia akan terus-menerus memperbaiki diri.

Makin seseorang melakukan perbaikan, maka kualitas dirinya akan semakin meningkat. Imbasnya, kehidupannya pun menjadi lebih baik. Pada akhirnya, seperti dikatakan Nabi dalam hadisnya, ia akan menjadi orang yang bahagia hidupnya, “Orang bahagia adalah yang dapat mengambil pelajaran dari (pengalaman atau peristiwa) orang lain.” (HR al-Baihaqi).

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya, Fath al-Bari, yang merupakan syarah dari kitab Shahih al-Bukhari, berkata, “Seorang Muslim harus terus waspada, jangan sampai lalai, baik dalam urusan agama maupun dunianya.”

Orang beriman sudah pasti menginginkan kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Alquran menyebutkan, “Maka, di antara manusia ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia’, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS al-Baqarah [2]: 200-202).

Jika kita mampu belajar dari kesalahan pada masa lalu, kemudian memperbaiki secara sungguh-sungguh apa yang salah, sembari belajar hal-hal yang baik dari orang lain untuk kita tiru dan lakukan, kita akan menjadi manusia yang maju dan bahagia.


×