Perempuan Afghanistan selepas berbelanja di salah satu toko di Kabul, Ahad (5/12/2021). | AP/Petros Giannakouris

Internasional

Taliban Minta Pengusaha Cina Berinvestasi di Afghanistan

Taliban telah meminta para pengusaha, khususnya asal Cina, untuk berinvestasi di Afghanistan.

BAGHDAD -- Taliban telah meminta para pengusaha, khususnya asal Cina, untuk berinvestasi di Afghanistan. Saat ini Afghanistan tengah menghadapi krisis ekonomi dan kemanusiaan yang memburuk.

"Kami berharap semua pengusaha, khususnya investor Cina, berinvestasi di Afghanistan dan Emirat Islam Afghanistan (pemerintahan Taliban) akan memastikan keamanan mereka," kata wakil juru bicara pemerintahan Taliban Bilal Karimi, Senin (13/12), dilaporkan Khaama Press.

Bulan lalu, Program Pembangunan PBB (UNDP) memperingatkan sektor perbankan Afghanistan berisiko runtuh. Hal itu dipicu oleh memburuknya likuiditas dan peningkatan pinjaman bermasalah. "Sistem pembayaran keuangan dan bank Afghanistan berantakan," kata UNDP dalam laporannya pada 22 November dikutip laman BNN Bloomberg.

UNDP mengatakan penurunan simpanan bank harus diselesaikan dengan cepat. Hal itu guna meningkatkan kapasitas produksi Afghanistan yang terbatas dan mencegah runtuhnya sistem perbankan. Menurut analisis UNDP, rasio pinjaman bermasalah di Afghanistan naik menjadi 57 persen pada September. Perkiraan awal tahun, angkanya hanya mencapai 30 persen.

Sementara total simpanan perbankan di Afghanistan diperkirakan bakal berakhir pada 2021 sebesar 165 miliar afghani atau sekitar 1,8 miliar dolar AS. Jumlah itu turun 40 persen dari tahun lalu. "Dengan kondisi saat ini, rasio NPL (non-performing loan) tampaknya meningkat, yang kemungkinan akan menyebabkan runtuhnya UMKM dan sektor perbankan," ungkap UNDP.

Kepala UNDP Afghanistan Abdallah al Dardari menjelaskan, tantangan lain yang dihadapi Afghanistan adalah hilangnya kapasitas pembiayaan perdagangan. "Karena sebagian besar impor pangan dibiayai melalui sistem perbankan," ujarnya.

Dia menjelaskan, PBB dan organisasi internasional membutuhkan sektor perbankan yang berfungsi untuk menyalurkan bantuan keuangan guna mengatasi krisis kemanusiaan di Afghanistan. Al Dardari mengatakan Afghanistan dapat menghadapi kelaparan yang merajalela. Kecuali masyarakat internasional mengambil tindakan segera untuk membantu sektor keuangan.

Sementara itu, Kepala kantor Kabul meminta ribuan masyarakat Afghanistan yang menunggu dokumen mereka untuk bersabar. Ribuan warga Afghanistan masih berkerumun di depan kantor paspor untuk mendapatkan dokumen agar bisa keluar dari negara itu.

photo
Pendiri Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar (kiri) dan Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi berfoto selepas pertemuan di Tianjin, Cina, pada awal 2021. - (AP/Li Ran/Xinhua)

Saat ini, musim dingin semakin mendekat dan krisis ekonomi kian dalam serta berkurangnya bantuan pemerintah asing sejak Taliban merebut kekuasaan bulan Agustus lalu. Ribuan warga pun berkumpul di depan kantor pusat paspor di Afghanistan.

"Kami telah berusaha sebaik mungkin untuk membuka kembali kantor tapi kami masih mengalami kekurangan peralatan," kata kepala kantor paspor Kabul Alam Gul Haqqani Ahad, kemarin.

Kantor terpaksa ditutup bulan lalu karena peralatan yang digunakan untuk mengeluarkan dokumen biometerik rusak. Alat itu rusak setelah dipaksa memproses ribuan pengajuan paspor per hari. Meskipun begitu permintaan masih tetap tinggi.

Walaupun kantor ditutup selama berpekan-pekan, ratusan orang berkumpul di depannya sambil membawa dokumen yang disimpan di dalam plastik. Mereka kerap diusir oleh pasukan keamanan Taliban.

"Saya yakin kantor akan dibuka kembali dan kami akan memenuhi semua pengajuan. Saya pastikan pada masyarakat tidak akan ada yang meninggalkan kantor kami tapi memiliki alasan untuk marah," katanya.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat