Orang tua mendampingi anaknya membaca buku di Jalan Dalem Kaum, Kota Bandung, Rabu (8/12/2021). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Opini

Membangun Budaya Membaca

Keluarga menjadi fundamen awal penguatan anak-anak untuk membaca buku.

ANGGI AFRIANSYAH, Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Riset Kependudukan BRIN

Pada suatu pagi, seorang teman yang merupakan dosen dan sejarawan muda dari satu kampus negeri di Palangka Raya, bercerita via Whatasapp tentang beberapa buku penting yang perlu dibaca. Ia pembaca yang teguh dan penulis produktif.

Banyak referensi penting terutama terkait literatur sejarah saya dapatkan darinya. Obrolan berlanjut ke cerita terkait pengalaman kecil kami mengakses bahan bacaan. Menurut penuturannya, setiap pekan, orang tuanya  rutin membelikan Majalah Bobo.

Ia bercerita, pamannya, kepala SMP, dan sarjana muda pendidikan sejarah, memiliki koleksi perpustakaan cukup lengkap. Di perpustakaan keluarga itu, ia asyik membaca komik, majalah, ensiklopedia anak, dan bacaan lain.

Lalu, saya mafhum mengapa ia dan keluarganya menjadi akademisi andal. Mereka keluarga yang akrab dengan buku sejak dini. Cerita itu, semakin menguatkan bahwa kesukaan membaca merupakan proses kebudayaan. Ia tidak hadir ujug-ujug atau otomatis.

 

 
Keluarga menjadi fundamen awal penguatan anak-anak untuk membaca buku.
 
 

Keluarga menjadi fundamen awal penguatan anak-anak untuk membaca buku.

Jim Trelease, penulis buku best seller The Read-Aloud Handbook: Membaca Buku dengan Nyaring, Melejitkan Kecerdasan Anak (edisi terjemahan, terbit 2021) bercerita banyak bagaimana membacakan buku secara nyaring penting bagi perkembangan anak.

Membaca 30 menit sebelum tidur, membacakan secara nyaring dan melibatkan anak terhadap proses membaca penting dalam membangun budaya baca.

 “Bukan banyak mainan yang ada di rumah yang membuat perbedaan dalam kehidupan anak, tetap perbendaharaan kata-kata,” ujar Trelease. Kata-kata itu didapat dari buku-buku bacaan.

Dalam buku tersebut, Trelease juga menjabarkan banyak riset yang menunjukkan betapa keluarga miskin, yang paling kesulitan membangun budaya baca karena memang tidak ada buku yang bisa dibaca.

Mencipta para pembaca, dilakukan melalui pendidikan di rumah dan sekolah. Terutama untuk pendidikan di rumah, Trelease menyebut, anak-anak seperti spons kecil yang menyerap semua kata ataupun nilai dari orang tua.

 
Mulai dari mempromosikan keterampilan mendengarkan, meningkatkan jumlah kosa kata yang didengar bayi, mengembangkan rentang perhatian dan memori, membantu bayi mempelajari kata-kata yang tidak biasa.
 
 

Bagaimana menjadikan anak pembaca, jika orang tua tidak pernah menjadi teladan dalam membaca.

Blackmore dan Ramirez (2006) dalam Baby Read-Aloud Basics Fun and Interactive Ways to Help Your Little One Discover The World of Words menyebutkan beberapa manfaat dari membaca nyaring sejak dini.

Mulai dari mempromosikan keterampilan mendengarkan, meningkatkan jumlah kosa kata yang didengar bayi, mengembangkan rentang perhatian dan memori, membantu bayi mempelajari kata-kata yang tidak biasa.

Ada banyak hal positif didapat ketika orang tua aktif membacakan buku-buku kepada anak, baik bersifat akademik maupun keeratan psikologis. Meskipun untuk konteks Indonesia hal tersebut sangat bias kelas menengah atas.

Membacakan buku selama 30 menit, seperti yang disarankan Trelease, Blackmore, dan Ramirez jelas kemewahan bahkan untuk mereka yang memiliki akses memadai terhadap buku. Buku belum menjadi sahabat keluarga miskin.

Menyimak paparan-paparan tersebut, masih banyak pekerjaan rumah. Menghadirkan buku berkualitas, murah, dan dapat didistribusi luas menjadi hal utama. Selain, membuat buku menjadi sahabat siapa saja termasuk anak-anak dari keluarga miskin.

Dalam era digital, banyak orang membeli gawai menjadi prioritas tinimbang buku.

 
Menyimak paparan-paparan tersebut, masih banyak pekerjaan rumah. Menghadirkan buku berkualitas, murah, dan dapat didistribusi luas menjadi hal utama. 
 
 

Namun, jika di gawai tersebut diinstal aplikasi, seperti e-perpusdikbud (perpustakaan digital miliki Kemendikbudristek) atau Ipusnas (aplikasi miliki Perpustakaan Nasional) akan ada banyak buku, majalah, dan koran yang dapat dibaca.

Ini isu budaya, bagaimana gawai dapat dioptimalkan untuk hal positif. Isu struktural yang amat penting adalah menipiskan kesenjangan infrastruktur telekomunikasi, informasi, dan komunikasi di antara berbagai wilayah di negeri ini.

Saat melakukan riset di Papua Barat dan Papua, ada beberapa referensi yang saya beli secara daring dari sana. Ternyata ongkos kirim dari beberapa wilayah di Papua atau Papua Barat ke Jakarta bisa lebih mahal dari harga bukunya.

Bayangkan jika sebaliknya, anak-anak di Papua, Papua Barat, atau wilayah lain yang ingin membeli buku dari Pulau Jawa, tetapi terbebani biaya ongkos kirim?

Membaca buku belum jadi budaya. Setiap menjadi pembicara webinar atau riset lapangan pertanyaan yang sering saya ajukan kepada guru atau siswa adalah buku apa yang ada di sekolah dan di rumah serta sedang membaca buku apa?

Sering guru pun tergagap menjawab. Jika gurunya tergagap menjawab, bagaimana siswanya? Jika guru tidak membaca buku, kecuali buku pelajaran, lalu apa bisa guru menginspirasi siswa untuk membaca?

Poin ini menjadikan posisi guru yang krusial untuk membantu anak-anak mencintai buku. Tantangan untuk mencintai buku memang bersifat struktural dan kultural. Struktural terkait upaya pemerintah menyediakan buku dan perpustakaan.

Kultural terkait habituasi menjadikan buku sahabat yang menemani mereka dan menjadikan budaya membaca terinternalisasi optimal.