Hiyem (35) membawa boneka milik anaknya di rumahnya yang hancur akibat guguran awan panas saat erupsi Gunung Semeru di Dusun Curah Kobokan, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Kamis (9/12/2021). | Republika/Thoudy Badai

Kisah Dalam Negeri

10 Dec 2021, 03:50 WIB

Saling Bantu Mengais Sisa Harta Benda

Kami bekerja membantu warga Semeru yang sedang mencari harta benda mereka.

OLEH WILDA FIZRIYANI, DIAN FATH RISALAH

Cuaca cerah disertai suhu panas menyelimuti salah satu titik di Umbulan, Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Pada hari kelima pascabencana erupsi, abu setinggi hingga 1 meter masih menutupi berbagai area dan bangunan.

Kawasan Umbulan termasuk salah satu wilayah yang terdampak erupsi Gunung Semeru. Bencana yang terjadi pada Sabtu lalu itu menimbulkan puluhan korban jiwa, ribuan rumah rusak, dan lebih dari 6.000 warga terpaksa mengungsi.

Di tengah hamparan pasir yang menyelimuti Umbulan, puluhan warga tampak sibuk menggali di satu area. Mereka berupaya membantu menyelamatkan barang-barang warga yang tenggelam dalam lautan sisa material vulkanis Gunung Semeru. Tak ada rasa menyesal di wajah-wajah mereka meskipun peluh terlihat mengucur di seluruh tubuhnya.

photo
Warga membawa kasur di rumahnya yang hancur akibat guguran awan panas saat erupsi Gunung Semeru di Dusun Curah Kobokan, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Kamis (9/12/2021). Sejumlah warga mengaku setiap pagi hari setelah erupsi Gunung Semeru pada Sabtu (4/12), mulai mengevakuasi perabotan rumah tangga untuk dibawa ke tempat sementara karena khawatir kehilangan harta benda saat ditinggal mengungsi. - (Republika/Thoudy Badai)

Kepala Dusun Ramban Edi Sunarto mengatakan, para pria dewasa yang sibuk menggali pasir di area Umbulan merupakan warga dari Dusun Ramban, Desa Banturejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. "Ada sekitar 25 orang," ucap pria berusia 51 tahun tersebut saat ditemui wartawan di lokasi, Kamis (9/12).

Keikutsertaan warga Ngantang untuk membantu korban erupsi Semeru tidak terlepas dari bagian balas budi. Pada awal 2014, masyarakat Ngantang sempat terdampak letusan Gunung Kelud. Kerusakan parah membuat banyak relawan dan masyarakat sekitar membantu.

Pengalaman bencana pada masa lalu membuat masyarakat Ngantang tersentuh untuk membantu korban awan panas Semeru. Mereka ingin membalas budi kepada orang-orang yang pernah membantu warganya pada tujuh tahun lalu. Bantuan itu nantinya tidak hanya berfokus pada wilayah Umbulan, tapi juga area lain.

"Kita ingin balas budi, punya utang (pada masa lalu). Kami bekerja membantu warga di sini yang sedang mencari harta benda mereka,” kata Edi. "Kami pernah merasakan bencana, saat itu kami dibantu."

photo
Warga membawa perabotan rumah tangga yang bisa diselamatkan di rumahnya yang hancur akibat guguran awan panas saat erupsi Gunung Semeru di Dusun Curah Kobokan, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Kamis (9/12/2021). - (Republika/Thoudy Badai)

Komunitas Guyub Rukun Dusun Ramban dalam membantu penanganan dampak letusan Gunung Semeru telah menerjunkan kurang lebih 70 orang. Warga Ngantang itu harus menempuh perjalanan selama kurang lebih lima jam untuk tiba di Kecamatan Pronojiwo.

“Kalau bisa kami ingin meringankan beban warga terdampak, membantu dengan tenaga kami, karena kami pernah merasakan ini,” katanya.

Salah seorang warga Dusun Sumbersari yang mendapatkan bantuan dari Komunitas Guyub Rukun, Ricko Ari Ansah, mengatakan, para relawan membantu dirinya mencari uang senilai Rp 5 juta, sejumlah perhiasan, dan surat-surat berharga yang tertinggal. “Waktu itu saat berlari tidak membawa uang. Semua surat-surat berharga ada di sini tertimbun, termasuk baju dan ada perhiasan,” katanya.

Gunung Semeru meletus pada 4 Desember 2021 dan mengeluarkan awan panas guguran (APG) mengarah ke Besuk Kobokan, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, kurang lebih pukul 15.20 WIB. Kawasan Umbulan di Dusun Sumbersari terdampak letusan Gunung Semeru cukup parah.

Tercatat ada 20 hektare lahan pertanian yang rusak dan puluhan rumah mengalami rusak berat. Selain itu, ratusan warga dusun tersebut juga harus mengungsi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan ada tambahan korban meninggal pada Kamis (9/12) per pukul 12.00 WIB. "Jumlah korban meninggal dari Gunung Semeru bertambah empat, sehingga totalnya menjadi 43 orang," kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangannya, kemarin.

photo
Nuria (70), warga Dusun Kajar Kuning, mendapatkan perawatan kesehatan di pos kesehatan PMI di Posko Pengungsi Erupsi Gunung Semeru di Lapangan Penanggal, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Kamis (9/12/2021). - (Republika/Edwin Putranto)

Pria yang akrab disapa Aam tersebut mengatakan, tim gabungan terus melakukan upaya pencarian dan pertolongan lanjutan di beberapa lokasi, seperti Curah Kobokan, Kajar Kuning, Tambang Satuhan/Kebondeli Utara, Kampung Renteng dan Kebondeli Selatan.

Selain itu, tim lainnya juga terus melakukan pembersihan dan asesmen lanjutan yang difokuskan di Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh.

Kegiatan pencarian dan pertolongan serta pembersihan sejak Kamis (9/12) pukul 05.30 WIB itu sempat dihentikan sementara setelah terpantau awan hitam pekat dan mendung di sekitar Curah Kobokan. Berdasarkan laporan visual pada pukul 06.22 WIB, Gunung Semeru tampak jelas dan teramati asap putih tebal yang meluncur ke arah barat daya hingga 1.000 meter.

"Sementara itu, warga luka-luka ada 104 orang, sebanyak 32 orang mengalami luka berat dan 82 lainnya luka sedang," ujar Aam.

Aam menambahkan, jumlah lokasi pengungsian juga mengalami peningkatan menjadi 121 yang terbagi dalam beberapa titik. Tempat pengungsian, antara lain, tersebar di Kecamatan Pronojiwo sebanyak 10 lokasi (525 jiwa), Kecamatan Candipuro 10 lokasi (2.331 jiwa), dan Kecamatan Pasirian 4 lokasi (1.307 jiwa). Secara keseluruhan, kata Aam, jumlah penyintas sebanyak 6.022 jiwa yang tersebar di 115 titik pos pengungsian.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BPBD Kab. Lumajang (bpbdkab.lumajang)

"Dalam rapat koordinasi posko yang digelar pada Kamis (9/12) sejumlah pelayanan dasar menjadi perhatian petugas di lapangan untuk dioptimalkan, misalnya operasional dapur umum untuk menambah kapasitas masakan, kebutuhan toilet portabel dan ruang yang lebih nyaman untuk warga penyintas," kata Abdul Muhari dalam keterangan, Kamis (9/12).

Terkait dengan penyediaan tempat pengungsian, kata Abdul, posko masih mengidentifikasi fasilitas pendidikan yang aman dan dapat dimanfaatkan untuk pemindahan para penyintas. Selain pengungsian, erupsi juga berdampak pada aset warga seperti rumah warga dan matinya hewan ternak.

Data sementara, rumah terdampak sebanyak 2.970 unit. Sementara itu, fasilitas umum (fasum) terdampak antara lain sarana pendidikan sebanyak 42 unit, sarana ibadah 17 unit, fasilitas kesehatan 1 unit, dan 1 jembatan rusak.

Ia mengatakan, petugas di lapangan masih terus melakukan identifikasi dan verifikasi terhadap korban meninggal. Untuk proses pencarian warga hilang, tim SAR gabungan menargetkan waktu enam hari ke depan dengan fokus di wilayah Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh, dan wilayah Desa Curah Kobokan.

photo
Sejumlah pengungsi korban erupsi Gunung Semeru melaksanakan ibadah shalat maghrib di fasilitas mushola mobile yang ada di posko pengungsi lapangan Penanggal, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Kamis (9/12/2021). - (Republika/Edwin Putranto)

Kementerian Sosial memastikan semua kebutuhan makanan pengungsi bencana erupsi Semeru dapat terpenuhi. "Semua bantuan permakanan menggunakan dan ditopang oleh APBN yang diperuntukkan bagi pengungsi dan warga yang terdampak bencana Gunung Semeru," kata Sekretaris Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Kemensos Robben Rico, kemarin,

Untuk sebaran pengungsi, lanjut dia, ada yang berada di rumah keluarga dan sekolah. Kementerian Sosial memastikan akan memberikan pelayanan terhadap semua warga sekitar yang terdampak oleh peningkatan aktivitas Gunung Semeru.

"Tidak betul kalau ada warga minta bantuan permakanan tidak dikasih, misalnya untuk di Desa Sumberwuluh tercatat sebanyak 7.800 nasi bungkus dan Desa Jarit sebanyak 2.000 nasi bungkus dalam sehari, tentu yang sudah terdaftar," tuturnya.

Ia mengatakan, warga yang sudah terdata dipastikan akan dikirimkan permakanan. Menurut dia, komunitas warga yang meminta, meski mereka di luar yang sudah didata, juga tetap diberi.

"Misalnya ada komunitas warga yang meminta permakanan 20 bungkus nasi tentu saja diberikan dan yang seperti itu datanya tidak tetap sehingga setiap harinya tidak sama. Artinya bisa turun-naik," katanya.

photo
Relawan Sedekah Nusantara mendistribusikan makanan bagi warga terdampak erupsi Gunung Semeru di Dusun Curah Kobokan, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Kamis (9/12/2021). Sedekah Nusantara mendirikan posko Dapur Sehat Bencana bagi warga terdampak dengan porsi per hari sebanyak 400 kotak nasi. - (Republika/Thoudy Badai)

Masak rendang

Ratusan bundo kanduang (kaum ibu) Kabupaten Dharmasraya juga memasak rendang sebanyak satu ton untuk korban erupsi Gunung Semeru. Aktivitas ini dilakukan pada Rabu (8/12). Rencananya, rendang ini akan diantar dan dibagikan langsung oleh Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan ke Kabupaten Lumajang.

“Ini sebagai bukti bahwa kita bersaudara. Para Bundo Kanduang ini dengan sukarela berkumpul di sini untuk berpartisipasi dalam meringankan beban korban terdampak erupsi gunung Semeru,” kata Bupati Dharmasraya, Kamis (9/12).

Sutan Riska ikut hadir dan aktif dalam kegiatan memasak satu ton rendang dari sembilan ekor sapi yang digelar di kawasan Sentra IKM Logam. Riska menjelaskan, mereka memilih mendonasikan masakan rendang karena daging sapi penuh protein. Kemudian masakan rendang juga penuh dengan antioksidan yang diproduksi dari bumbu rempah.

Selain penuh gizi, menurut Sutan Riska, rendang juga praktis, bisa dimakan langsung dan tahan lama. “Kita berharap dengan makan rendang, para korban yang terdampak, terutama di kamp pengungsian, bisa terjaga imun mereka. Karena masakan Minang, apalagi rendang, mengandung banyak rempah yang baik untuk kesehatan,” ujar Sutan Riska.

 

 
Saya dengan penuh semangat mengaduk rendang ini selama tiga jam. Saya aduk dengan sepenuh hati sambil membayangkan nasib saudara-saudara kita yang berada di sana.
 
 

 

Sutan Riska berharap, rendang ini menjadi pesan kepada korban erupsi Semeru bahwa mereka tidak sendiri. Rendang ini bukti bahwa masyarakat dari pelosok Dharmasraya hadir untuk menguatkan sanak saudara di Lumajang yang terdampak erupsi

Sutan Riska akan mengantarkan langsung rendang ini ke Lumajang sekaligus menyerahkan bantuan dari APKASI bersama bupati pengurus APKASI lainnya.

Salah seorang Bundo Kanduang di Dharmasraya, Refi, mengatakan dirinya dan beberapa bundo kanduang yang lain langsung merasa terpanggil begitu mendengar kabar akan ada kegiatan masa rendang untuk donasi ke masyarakat Lumajang.

“Ketika saya mendapat kabar Bupati mengajak Bundo Kanduang memasak rendang untuk dikirim ke Lumajang, dengan sukarela saya datang ke sini membawa alat dan bahan masak semampu saya,” kata Refi.

Menurut Refi, rendang ini akan dimasak sekaligus dan dipacking secara bagus agar aman dimakan oleh korban erupsi Gunung Semeru. “Saya dengan penuh semangat mengaduk rendang ini selama tiga jam. Saya aduk dengan sepenuh hati sambil membayangkan nasib saudara-saudara kita yang berada di sana. Semoga mereka bisa makan yang lahap dengan rendang ini,” kata Refi.

Sumber : antara


×