Model memperagakan busana muslim pada malam puncak pergelaran Fashion Show Aceh Sharia Festival 2021 secara virtual di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (7/8/2021). | ANTARA FOTO/Ampelsa/wsj.

Tajuk

09 Dec 2021, 03:45 WIB

Menuju Pusat Syariah Global

Beberapa faktor menjadi lokomotif yang akan mendorong ekonomi dan keuangan syariah terus berkembang.

Hampir dua tahun pandemi Covid-19 mendera Indonesia, sektor ekonomi menjadi paling terdampak, selain tentunya sektor kesehatan. Namun, pandemi Covid-19 tak menyurutkan pelaku ekonomi dan keuangan syariah bertumbuh.

Berdasarkan Global Islamic Economy Indicator (GIEI), Indonesia berada di posisi ke-4 dalam ketahanan ekonomi syariah menghadapi pandemi. Pandemi Covid-19 memang meruntuhkan perekonomian banyak negara.

Alhamdulillah, Indonesia termasuk di antara negara yang cepat dalam proses pemulihan ekonomi kala pandemi. Ada sejumlah hal yang menjadi sisi positif bahwa ekonomi dan keuangan syariah Indonesia berpeluang bertumbuh pada masa pandemi ini.

Pertama, potensi pasar yang besar sebagai negara berpenduduk Muslim terbanyak sejagat. Kedua, rakyat Indonesia di peringkat pertama dalam hal agama itu penting. Ekonomi syariah merupakan sistem perekonomian yang mendasarkan pada prinsip-prinsip agama.

Ketiga, Indonesia mengalami bonus demografi yang menjadi penanda tingkat konsumsi masyarakat tetap terjaga hingga beberapa tahun mendatang.

 
Ketiga, Indonesia mengalami bonus demografi yang menjadi penanda tingkat konsumsi masyarakat tetap terjaga hingga beberapa tahun mendatang.
 
 

Keempat, berdasarkan data Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2021, penduduk Indonesia menjadi yang paling dermawan, berarti sektor keuangan sosial syariah atau ziswaf berpotensi terus berkembang.

Kelima, sekitar 76 persen penduduk Indonesia belum memiliki rekening bank. Kondisi ini menjadi peluang bagi perbankan syariah mendapatkan nasabah baru. Selain itu, menjadi penopang sumber pendanaan bagi sektor industri halal.

Beberapa faktor ini menjadi lokomotif yang akan mendorong ekonomi dan keuangan syariah terus berkembang. Apalagi, bila mendapatkan dukungan secara struktural dan kultural.

Dukungan secara struktural, berupa kebijakan yang ramah bagi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

Regulasi baru banyak dirilis, seperti Kawasan Industri Halal, merger perbankan syariah, Gerakan Nasional Wakaf Uang, berbagai kebijakan di bidang perbankan syariah. Termasuk dari sektor filantropi Islam ataupun pengelolaan dana haji.

Adapun secara kultural diperlihatkan dengan antusiasme masyarakat dalam menerapkan prinsip Islami. Jika 20 tahun lalu masih sulit menjumpai Muslimah berjilbab, tidak demikian saat ini. Bahkan, seolah berhijab menjadi gaya hidup dengan beragam variasi pakaian.

 
Adapun secara kultural diperlihatkan dengan antusiasme masyarakat dalam menerapkan prinsip Islami. 
 
 

Demikian pula, sistem pendidikan. Bertumbuh banyak sekolah Islam terpadu, mulai dari jenjang TK hingga sekolah atas. Sistem boarding school atau pondok pesantren yang memadukan kurikulum umum dan diniyah menjadi tren bagi sebagian kalangan menengah Muslim.

Tentu, pendidikan Islam ini bersangkut paut dengan perbankan syariah sebagai sistem pembayaran keuangannya. Keberadaan mushala dan masjid tersebar tak hanya di perkantoran, tapi juga di pusat perbelanjaan, rest area, hingga destinasi wisata.

Perpaduan sokongan struktural dan geliat kultural masyarakat Muslim ini, menjadi modal pengembangan ekonomi dan keuangan syariah ke depan.

Berdasarkan laporan Indonesia Halal Markets Reports 2021/2022, dengan mendorong pertumbuhan ekspor produk halal, investasi asing langsung (FDI) dan substitusi impor, Indonesia berpotensi meningkatkan PDB nasional 5,1 miliar dolar AS per tahun.

Posisi Indonesia di kancah global pun terus diperhitungkan. FDI Indonesia kedua tertinggi di negara Organisasi Kerja sama Islam (OKI) setelah Uni Emirat Arab dengan nilai 18,6 miliar dolar AS. Ini menunjukkan Indonesia kompetitif dalam menarik investor asing.

 
FDI Indonesia kedua tertinggi di negara Organisasi Kerja sama Islam (OKI) setelah Uni Emirat Arab dengan nilai 18,6 miliar dolar AS.
 
 

Dalam hal pengembangan fintech, Indonesia termasuk negara dengan volume transaksi fintech terbesar. Indonesia di posisi keempat dari 64 negara dalam Global Islamic Fintech Index (GIFT) 2021.

Optimisme menjadikan Indonesia sebagai pusat keuangan syariah dan industri halal global menemukan momentumnya.

Tentu, ini mempersyaratkan banyak hal, di antaranya keserasian langkah antara pelaku ekonomi dan keuangan syariah dengan pihak regulator. Jika hal ini bersinergi baik, Indonesia menuju pusat syariah dan industri halal global bukan hal mustahil.


×