Seorang petugas medis melalukan tes SWAB PCR kepada seorang pasien di TrihaLab Jakarta, usai diresmikan pengoperasiannya, Sabtu (20/11/2021). TrihaLab merupakan laboratorium molekular biologi yang berfokus pada diagnosis Covid-19. | REPUBLIKA

Nasional

09 Dec 2021, 03:45 WIB

PCR Bio Farma Diklaim Mampu Deteksi Omikron

Alat uji PCR tersebut dapat mendeteksi varian omikron baik dalam sampel usap (swab) maupun sampel kumur.

JAKARTA -- Alat uji Covid-19 Polymerase Chain Reaction (PCR) mBioCov-19 disebut mampu mendeteksi Covid-19 varian omikron dengan tingkat akurasi 100 persen. Alat PCR tersebut merupakan buatan dalam negeri hasil kolaborasi PT Bio Farma dengan Nusantics.

"mBioCov-19 sudah tervalidasi memiliki desain akurat yang mampu mendeteksi berbagai mutasi dan yang terakhir, 100 persen dapat mendeteksi varian omikron,” ujar Direktur Utama PT Bio Farma, Honesty Basyir, dalam keterangan, Rabu (8/12).

Ia mengatakan, mBioCov-19 memiliki keunggulan dalam mendeteksi varian virus Covid-19. Sementara, tidak semua alat uji virus Covid-19 yang beredar di pasaran dapat mendeteksi varian omikron. "Tidak semua testing dapat mendeteksi mutasi secara spesifik," kata Honesty.

Alat uji PCR tersebut dapat mendeteksi varian omikron baik dalam sampel usap (swab) maupun sampel kumur. Berdasarkan data pengujian in silico terhadap 141 data sampel dari GISAID yang dilakukan Nusantics, mBioCoV-19 dapat mendeteksi varian omikron dengan akurasi 100 persen.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan omikron sebagai variant of concern pada akhir November 2021, setelah terdeteksi di Afrika Selatan. WHO masih terus melakukan penelitian mengenai mutasi varian omikron dan mendorong terus dilakukannya pengambilan sampel dengan menggunakan metoda PCR yang merupakan gold standard dalam deteksi virus.

Nusantics merupakan perusahaan bioteknologi nasional yang memproduksikan alat uji berbasis PCR. CEO dan Co-founder Nusantics, Sharlini Eriza Putri menekankan pentingnya menggunakan alat uji yang dapat mendeteksi varian omikron sebagai upaya pelacakan.

Alat uji yang tepat dan akurat akan memberikan data yang diperlukan oleh masyarakat dan pemerintah sehingga dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang efektif dan efisien untuk menekan penyebaran virus Covid-19, khususnya omikron. 

Guru Besar FKUI Tjandra Yoga Aditama sebelumnya menyatakan ada indikasi bahwa omikron mempengaruhi pemeriksaan tes PCR. Tjandra menjelaskan dampak omikronmenimbulkan mutasi spike protein di posisi 69-70. Kondisi ini menyebabkan terjadinya fenomena “S gene target failure (SGTF)” dimana gen S tidak akan terdeteksi dengan PCR lagi atau hal ini disebut juga drop out gen S.

"Walau ada masalah di gen S tetapi untungnya masih ada gen-gen lain yang masih bisa dideteksi sehingga secara umum PCR masih dapat berfungsi," kata Prof Tjandra dalam keterangan pers yang diterima Republika, Kamis (2/12).

Tjandra menerangkan tidak terdeteksinya gen S pada pemeriksaan PCR dapat dijadikan indikasi awal untuk kemungkinan yang diperiksa adalah varian omikron. Lalu dalam hal ini menurutnya perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) untuk memastikannya. 

"Kalau kemampuan WGS terbatas maka ditemukannya SGTF dapat menjadi semacam bantuan untuk menyaring mana yang prioritas dilakukan WGS, selain kalau ada kasus berat, atau ada klaster, atau ada kasus yang tidak wajar perburukan kliniknya," ujarMantan Direktur WHO Asia Tenggara itu. 

Selain itu, Tjandra menyinggung indikasi sudah beredarnya varian omikron bila di suatu daerah ditemukan peningkatan sampel laboratorium yang menunjukkan SGTF. Sehingga ia menyarankan Pemerintah mempublikasikan laporan peningkatan SGTF. 

"Penting juga bagi kita di Indonesia dalam menganalisa hasil PCR yang setiap hari dilaporkan jumlah pemeriksaannya di media, artinya jangan hanya jumlah total saja tetapi apakah ada peningkatan SGTF atau tidak," kata dia. ';

×