Sejumlah relawan melakukan evakuasi korban yang tertimbun material longsor guguran awan panas Gunung Semeru di Dusun Curah Kobokan, Desa Supitarang, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin (6/12/2021). | Republika/Thoudy Badai

Opini

08 Dec 2021, 03:45 WIB

Semeru dan Takdir Kebencanaan Kita

Tanpa upaya adaptasi dan mitigasi yang serius, harga yang harus dibayar akibat bencana ini sangatlah besar.

MAKSUM PURWANTO, ASN pada Stasiun Klimatologi Jawa Timur

Para pakar memperkirakan, letusan Gunung Semeru pada Sabtu (4/12), diakibatkan oleh erupsi yang secara kebetulan bersamaan dengan curah hujan tinggi.

Ternyata, selain adanya aktivitas magma yang mendorong material vulkanis naik ke permukaan, curah hujan yang tinggi berperan membuat abu vulkanis di puncak gunung terkikis oleh air sehingga gunung api kehilangan beban kemudian erupsi.

Selain itu, curah hujan yang tinggi turut berperan menambah berat jenis awan panas Semeru. Akibatnya, daya rusaknya menjadi lebih besar.

Kejadian ini seakan menegaskan bahwa kita memiliki sebuah takdir, yang harus kita terima saat mendiami Indonesia ini. Selain takdir kebencanaan karena kita meninggali wilayah “ring of fire” yang berarti banyak titik gunung berapi, kita juga memiliki sebuah takdir yang lain, yaitu curah hujan yang tinggi.

 
Selain itu, curah hujan yang tinggi turut berperan menambah berat jenis awan panas Semeru. Akibatnya, daya rusaknya menjadi lebih besar.
 
 

Dalam kasus letusan Gunung Semeru kemarin, curah hujan yang tinggi adalah hal yang wajar terjadi karena wilayah ini diperkirakan sudah berada pada musim penghujan.

Berdasarkan Buku Prakiraan Musim Hujan 2021/2022 di Indonesia yang dikeluarkan BMKG, wilayah Gunung Semeru terletak di wilayah Zona Musim (ZOM) 172.

Zona Musim (ZOM) adalah daerah yang pola hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode musim kemarau dan musim hujan. Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

ZOM 172 memiliki normal curah hujan antara 1.996-2.700 mm pada musim hujan, dengan rata-rata curah hujan tahunan sebesar 2.850 mm. Wilayah Gunung Semeru diperkirakan sudah masuk musim hujan mulai awal Oktober 2021.

Sifat hujan di wilayah ini juga diperkirakan, bersifat normal dengan puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari 2022.

Perkiraan puncak musim hujan pada Januari, tentunya harus menambah kewaspadaan masyarakat, terutama di sekitar Gunung Semeru dengan kemungkinan terulangnya kejadian serupa.

 
Selain bencana letusan Gunung Semeru, peristiwa kebencanaan akibat curah hujan yang tinggi pada saat musim hujan ini, juga terjadi di berbagai tempat di Tanah Air.
 
 

Peningkatan curah hujan masih berpeluang terjadi pada masa yang akan datang, karena saat ini ternyata belum mencapai puncak musim hujan.

Selain bencana letusan Gunung Semeru, peristiwa kebencanaan akibat curah hujan yang tinggi pada saat musim hujan ini, juga terjadi di berbagai tempat di Tanah Air.  Banjir di Sintang, NTB, Kota Batu, dan Bali merupakan beberapa contoh di antaranya.

Mulai Oktober hingga awal Desember 2021, tak kurang dari 819 kejadian bencana yang dicatat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sebagian besar dari bencana tersebut diakibatkan oleh faktor hidrometeorologi, yang salah satunya berupa curah hujan yang tinggi.

Potensi hidrometeorologi berupa curah hujan yang tinggi, memang menjadikan kita tidak harus berkonflik dengan negara tetangga akibat perebutan sumber daya air, seperti yang terjadi di beberapa negara lain.

Namun, kejadian bencana yang diakibatkan curah hujan yang tinggi, juga tak pelak akan sering kita alami. Tingginya curah hujan di wilayah Indonesia tak perlu diragukan lagi.

Salah satu buktinya, saat ini Indonesia melalui BMKG telah mengusulkan kepada Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) untuk memasukkan salah satu wilayahnya menjadi wilayah dengan curah hujan tertinggi di dunia.

 
Potensi hidrometeorologi berupa curah hujan yang tinggi, memang menjadikan kita tidak harus berkonflik dengan negara tetangga akibat perebutan sumber daya air, seperti yang terjadi di beberapa negara lain.
 
 

Kandidat wilayah terbasah di dunia itu adalah wilayah Mile 50 (MP50), yang berada di Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua. 

Berdasarkan rilis dari BMKG, nilai rata-rata curah hujan tahunan di MP50, yaitu sebesar 12.143 mm yang mengalahkan rekor rata-rata curah hujan tahunan tertinggi, yang tercatat di WMO pada saat ini, yaitu di Mawsynram, India, yang nilainya sebesar 11.872 mm.

Upaya BMKG ini janganlah dianggap sebagai usaha untuk gagah- gagahan. Toh, curah hujan yang tinggi ini bukan upaya kita melainkan pemberian dari Yang Mahakuasa.

Upaya ini seharusnya dianggap sebagai upaya penyadaran kepada anak bangsa bahwa kita mendiami tempat dengan potensi yang luar biasa di dunia, baik potensi positif maupun potensi negatifnya.

Berbagai fakta potensi bencana tersebut perlu terus disosialisasikan sebagai upaya penyadaran kepada semua pihak.

 
Berbagai fakta potensi bencana perlu terus disosialisasikan sebagai upaya penyadaran kepada semua pihak.
 
 

Keterkejutan dan banyaknya kerugian, baik jiwa maupun materi akibat bencana mengisyaratkan bahwa banyak di antara kita, yang belum sepenuhnya sadar akan potensi bencana di wilayah Indonesia.

Apalagi, jika ancaman bencana itu terabaikan karena berbagai faktor. Seperti adanya potensi ekonomi di daerah rawan bencana tersebut. Potensi wilayah sekitar Gunung Semeru menjadi cermin bagi kita. Seperti inilah kondisi potensi alam di sebagian besar wilayah Indonesia.

Wilayah dengan potensi sumber daya alam berupa tanah yang subur, kaya mineral pertambangan, air yang melimpah, destinasi wisata yang menarik, tapi di baliknya tersimpan pula potensi bencana yang besar.

Dari bencana Semeru ini, kita belajar bahwa takdir kebencanaan ini bukan untuk diabaikan. Takdir kebencanaan ini sangat nyata. Hal yang bisa kita lakukan adalah dengan berdamai dengan takdir kebencanaan ini.


×