Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

07 Dec 2021, 03:30 WIB

Pengetahuan Pejabat Negara

Siapapun yang diamanahi menjadi pejabat negara agar tidak ambyar membangun opini.

 

OLEH PROF FAUZUL IMAN

Saat Tuhan diprotes malaikat yang tidak percaya pada kemampuan manusia menjadi khalifah di muka bumi, Tuhan bergeming. Dia tetap menciptakan manusia di muka bumi yang disiapkan menjadi khalifah.

Rencana pendirian khalifah oleh Tuhan tentu tidak dilakukan sembarang. Respons tegas Tuhan kepada para Malaikat, “Aku lebih tahu dari kalian” merupakan kapasitas-Nya dalam menyiapkan segenap perbekalan kompetensial untuk seorang khalifah.

Realitasnya Tuhan menciptakan Adam menjadi khalifah. Ia tidak dibiarkan begitu saja sebagai jasad kosong tanpa daya. Tetapi ke dalam jasadnya ditiupkan ruh oleh Tuhan.

Ruh ini merupakan metadaya indrawi yang berisi spritualitas dan nalar yang berfungsi menggerakkan segenap dimensi kehidupannya. Adam juga dibekali Tuhan berupa pendidikan untuk mengenali nama-nama (QS 2: 31).

Nasir Hamid dalam buku Mafhumu an-Nash Dirasat fi Ulum al-Quran memahami nama dalam teks adalah penanda (signifie) yang memiliki signifikasi (magza) dengan konteks yang dihadapinya. Dengan kata lain, di balik nama/tanda/teks itu terkandung isyarat atau pengetahuan guna membangun perilaku dan kebudayaannya. 

Berakar pendidikan Adam AS melalui pengenalan nama/tanda, manusia sebagai generasi khalifah/pengganti Adam, sudah barang tentu pengetahuan mendalam di balik tanda tadi sangat diperlukan guna membentuk perilaku dan kebudayaannya. Berarti siapapun yang diamanahi menjadi pemimpin/pejabat negara agar tajam memahami di balik nama/tanda/isyarat, sehingga tidak ambyar membangun opini atau mengambil keputusan.

Malaikat diciptakan Tuhan bernalar monoton agar sepenuhnya patuh dan tunduk menerima perintah-Nya tanpa membantah sedikit pun. Sebaliknya, manusia diberi kekuatan nalar yang membuat ia sering ngeyel dengan banyak dalih.

Bahkan, demi mengejar pamrih manusia kerap bersikap carmuk dan menjilat. Terkadang demi memenuhi kebutuhan pragmatisnya, manusia sangat setia menaati perintah atasannya.

Namun, dengan pendidikan ruhaniah dan pengenalan nama/tanda, manusia yang diberi amanah sebagai khalifah atau pejabat negara tidak boleh menghindar dari penguasaan pada pengetahuan cerdasnya memahami di balik nama atau tanda.

Oleh karena itu, kecerdasan mencandra ide atau ucapan bagi pejabat negara di tengah publik dengan hati-hati dan penuh kearifan merupakan keniscayaan sehingga tidak menimbukan kegaduhan.

Kritik pedas berupa celotehan mural maupun keritik lewat jalur kelembagaan resmi oleh para cendekiawan, pembiaran para buzzer yang melakukan fitnah harian terhadap para tokoh dan komunitas Muslim. Semua itu terjadi akibat dari kedangkalan pengetahuan beberapa pejabat negara terhadap tanda-tanda atau di balik tanda-tanda dimaksud.

Pembiaran atau pengabaian pada semua ini cepat atau lambat tidak mustahil negara yang sangat kita cintai ini kelak berujung pada kehancuran. Nauzubillah!


×