Majalah Prisma | instagram

Kisah Dalam Negeri

06 Dec 2021, 03:45 WIB

Menjaga Napas Intelektual 50 Tahun Prisma

Prisma tetap menjadi potret sejarah, sosial, politik, dan ekonomi Indonesia.

OLEH RONGGO ASTUNGKORO

Terbit untuk pertama kali pada 4 Desember 1971, majalah Prisma pada Sabtu, 4 Desember 2021, sudah hidup selama setengah abad lamanya. Sejak awal kelahiran hingga usia emasnya, majalah yang menjadi asupan gizi bagi para intelektual terus merekam segala jejak persoalan yang terjadi di bangsa dan negeri.

Pendiri majalah Prisma, Ismid Hadad, mengisahkan awal mula keberadaan majalah yang sempat mati suri pada 1998 hingga 2009 itu. Prisma dapat dikatakan sebagai cucu dari perhimpunan Bineksos, yang kini dia ketuai, dan anak dari lembaga swadaya masyarakat Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).

Pria berusia 81 tahun itu menerangkan, Bineksos lahir pada awal 1971. Setelah lahir, perhimpunan itu melaksanakan perjanjian kerja sama dengan yayasan non pemerintah Jerman pada Agustus 1971 untuk melahirkan LP3ES yang menjadi lembaga pelaksana kegiatan Bineksos.

"LP3ES itu punya tiga jenis program, ada program penelitian, ada pendidikan, dan ada bidang namanya penerangan waktu itu. Istilah penerbitan ataupun publikasi itu dulu tidak terlalu populer, padahal maksudnya itu bidangnya penerbitan," ungkap Ismid dalam sambutannya pada Hari Ulang Tahun Emas Prisma yang digelar secara daring, Sabtu (4/12).

Di bidang penerbitan tersebut, selain menerbitkan buku-buku teks dan ilmu pengetahuan ekonomi-sosial, LP3ES juga merintis berdirinya institusi yang ketiga, yakni penerbitan majalah yang diberi nama Prisma. Prisma, kata Ismid, hadir sebagai suatu jurnal pemikiran besar ekonomi kala itu.

"Yang nomor perdananya itu seperti yang tadi disampaikan Bung Harwib (Harry Wibowo) terbit pada tanggal 4 desember 1971. Persis hari ini setengah abad yang lalu," kata dia.

Ismid  merasa bahagia dapat merayakan hari jadi yang ke-50 majalah Prisma. "Meskipun lahir paling belakangan, yang namanya majalah Prisma itu justru lebih dikenal publik ketimbang bapak apalagi kakeknya," kata dia.

Pendiri LP3ES dan Prisma lainnya, yakni Nono Anwar Makarim, juga memberikan sepatah dua patah kata pada webinar tersebut. Daripada mengutarakan hal-hal yang baik terkait Prisma, Nono lebih memilih untuk menyampaikan pesan yang harus diingat oleh penggawa Prisma saat ini dan ke depan.

"Ada tiga hal yang saya anggap penting sekali untuk kita terbitkan berkali-kali, artinya tidak hanya satu terbitan saja tapi lebih dari sekali," ungkap Nono.

Hal pertama yang menurutnya penting untuk dibahas oleh majalah Prisma ke depan adalah mengenai kekhawatiran atas apa yang akan terjadi dengan Indonesia 15 tahun yang akan datang. Banyak hal yang dapat dibahas mengenai hal itu, di antaranya mengenai kemampuan orang-orang Indonesia bersaing di dunia dan perkembangan pendidikan di Indonesia.

Kemudian, hal kedua yang penting untuk dibahas juga adalah mengenai merosotnya daya beli para buruh Indonesia. Lalu hal ketiga, yang Nono sebut membuatnya galau, sedih, dan marah, yakni mengenai apa yang dipikirkan oleh umat Islam tentang Indonesia sekarang ini. Terlebih, di kondisi masyarakat yang secara mayoritas kini terpecah belah dan tidak mempunyai satu suara utuh.

"Apa yang dipikirkan? Barusan itu demo. Mereka menuju ke Monas, 212, berpakaian putih. Apa maunya? Negara Islam? Mau mereka? Kalau mayoritas mau mengadakan, bisa. Tapi mesti setuju semua. Mayoritas ini sekarang terpecah belah dan tidak dicapai (keinginan itu)," jelas Nono.

 
Jadi walaupun konteks berubah dalam banyak hal, masalah-masalah fundamental Indonesia ternyata masih sama.
 
 

Redaktur Senior Prisma, Vedi R Hadiz, pada kesempatan itu menyampaikan, meskipun sempat absen sejak 1998 hingga 2009, Prisma tetap menjadi potret sejarah, sosial, politik, dan ekonomi Indonesia. Publik, kata dia, dapat mempelajari sejarah politik, sosial, dan ekonomi Indonesia selama 50 tahun terakhir dengan membaca Prisma.

"Lebih tepatnya orang dapat memahami perdebatan intelektual yang terjadi di Indonesia mengenai masalah-masalah yang berkaitan dengan dampak pembangunan, siapa yang akan menikmati hasil-hasil pembangunan, siapa yang secara tidak adil menikmati hasil-hasil pembangunan dan lain sebagainya," kata Vedi.

Dia melihat, masalah-masalah yang ditangani penulis-penulis muda sekarang ini adalah masalah-masalah yang baru, tapi lama. Masalah demokrasi, keadilan sosial, kesetaraan gender, kehancuran lingkungan hidup, dan lain sebagainya adalah masalah-masalah yang sudah ada dari tahun 1970-an dan belum terselesaikan hingga saat ini.

"Jadi walaupun konteks berubah dalam banyak hal, masalah-masalah fundamental Indonesia ternyata masih sama. Di masa otoriterisme maupun di masa demokrasi. Menurut saya itu adalah sesuatu yang menarik dan sebetulnya diutarakan atau ditampilkan lewat sejarah Prisma," kata dia.

Sementara itu, Kepala Program Penelitian LP3ES periode 1985-1989, Fachry Ali, melihat Prisma yang masih tetap ada adalah sesuatu yang sangat membanggakan di situasi saat ini. Fachry selama ini menganggap Prisma kian kehilangan audiensnya bukan karena berkurangnya intelektualitas Prisma, melainkan berkurangnya intelektual masyarakat secara keseluruhan.

"Prisma kini berada di dalam situasi di mana lingkungannya mengalami proses deintelektualisasi. Atau mungkin lebih tepat keterperangahan mereka terhadap kreasi intelektual semakin berkurang," jelas dia. 


×