Teknisi melakukan perawatan menara BTS 4G milik XL Axiata yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Jumat (15/11/2019). XL Axiata terus melakukan peningkatan kualitas jaringan data sa | ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/nz

Inovasi

03 Dec 2021, 18:38 WIB

Menerawang Lansekap Industri Telekomunikasi 

Sektor TIK salah satu yang bertahan dan menunjukkan pertumbuhan selama dua tahun pandemi berlangsung.

Perjalanan pandemi kini telah hampir dua tahun berlangsung. Para pelaku industri telekomunikasi ternyata tetap optimistis bisa mengakselerasi kinerja seiring pandemi kian terkendali penanganannya dan masyarakat mulai bisa masuk ke fase hidup berdampingan dengan Covid-19 atau endemi.

Hal tersebut terangkum dalam diskusi akhir tahun “Outlook Industri Telekomunikasi 2022 - Menata Bisnis Telekomunikasi dari Pandemi ke Endemi” secara daring, Kamis (2/12).

Founder IndoTelko Forum Doni Ismanto Darwin menjelaskan, syarat mutlak agar sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bisa berlari kencang di 2022, adalah penanganan pandemi kian terkendali agar secara bertahap masyarakat menuju era endemi.

“Sektor TIK salah satu yang bertahan dan menunjukkan pertumbuhan selama dua tahun pandemi berlangsung. Hal ini karena pandemi yang berujung kepada pembatasan mobilitas memacu transformasi digital di masyarakat,” katanya.

photo
Layanan 5G Telkomsel (ilustrasi) - (Dok Telkomsel )

Menurutnya, jika melihat indikator ekonomi, terlihat secara makro mulai ada perbaikan di Indonesia. Apalagi konsumsi pemerintah dan masyarakat masih terjaga. “Memang ada tantangan selain pandemi, yakni kenaikan harga energi global yang akan memicu peningkatan biaya produksi, ujungnya harga produk akan lebih mahal. Tetapi saya optimistis pertumbuhan sektor telekomunikasi di 2022 bisa mencapai tujuh persen, tidak empat persen seperti tahun ini,” kata Doni.

Dalam kesempatan yang sama, besarnya tantangan sekaligus peluang yang dihadapi sektor telekomunikasi, diungkap Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Ririek Adriansyah. Ia menjelaskan pascadua tahun pandemi Covid-19 menyerang seluruh negara, kinerja sebagian besar industri telekomunikasi di dunia sudah membaik. 

Bahkan, Ririek menyebut, tren pertumbuhan industri telekomunikasi Indonesia jauh lebih baik dibandingkan negara tetangga seperti Singapura, Thailand, dan Vietnam. Ia menjelaskan, di Indonesia layanan yang menopang pertumbuhan industri telekomunikasi tidak lain adalah konektivitas berupa peningkatan penggunaan mobile data dan fixed broadband, layanan ICT, serta layanan digital.

“Kalau servis dibagi tiga yaitu konektivitas, ICT dan digital maka konektivitas pada kurun waktu 2020-2024 akan tumbuh sekitar empat persen, ICT akan tumbuh lebih tinggi di angka delapan persen, dan digital tumbuh paling tinggi sampai 12 persen,” ujar Ririek. 

Menurutnya, hal ini sejalan dengan fakta selama pandemi kemarin, dimana masyarakat menjadi lebih contactless dan akan cenderung menggunakan layanan yang sifatnya digital. “Karena itu ICT dan digital akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan konektivitas,” ia melanjutkan. 

Ririek yang juga Dirut Telkom tersebut mengungkapkan, setelah pada tahun ini sejumlah operator memberanikan diri menggelar jaringan 5G di Indonesia, pemanfaatannya di dunia akan terus meningkat. Tidak hanya di Amerika Serikat dan Cina, namun operator negara-negara di Asia. 

Mereka juga akan semakin banyak menggelar jaringan tersebut. “5G secara finansial akan semakin layak dan memberikan dampak positif bagi operator di Indonesia,” katanya.

Ririek meyakini, pada 2022 digitalisasi dan digitasi akan meluas di Indonesia. Hal tersebut menurutnya wajar mengingat operator telekomunikasi akan terus mencari sumber pertumbuhan pendapatan baru selain menjaga pendapatan dari layanan konektivitas.

Oleh karena itu, ia juga memprediksi, kebutuhan Capital Expenditure (Capex) sektor telekomunikasi akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan konsumsi data. 

Terdorong Layanan

photo
Kolaborasi Telkomsel dan Noice - (Dok Telkomsel )

Senada, Direktur Utama Telkomsel, Hendri Mulya Syam memprediksi pertumbuhan sektor telekomunikasi Indonesia di 2022 dan seterusnya akan didorong oleh penetrasi digital platform dan beragam layanan.

“Kita tidak lagi bergantung pada bisnis konektivitas semata. Namun ada banyak stream baru seperti enterprise services, video on demand (VOD), Internet of Things (IoT), cyber security, big data, digital advertising dan digital entertainment,” ujar Hendri. 

Oleh karena itu, Telkomsel, menurutnya memberanikan diri menjadi operator 5G pertama di Indonesia dan berkomitmen memperluas cakupan jaringan 5G yang terukur di tahun depan. “Telkomsel memperoyeksikan ke depannya pelaku industri telekomunikasi di Indonesia akan terus mengembangkan core asset-nya, hingga mengembangkan beragam peluang di bisnis digital,” ujar Hendri. 

Untuk itu, lanjut dia, sebelum pandemi Telkomsel juga terus mempersiapkan diri untuk menjadi perusahaan telekomunikasi yang memberi layanan yang terus dikembangkan. Mulai dari, tekfin Linkaja sampai edutech dengan Kunci dan yang terbaru, adalah layanan healthtech melalui Fita. 

 
Pertumbuhan sektor telekomunikasi Indonesia di 2022 dan seterusnya akan didorong oleh penetrasi digital platform dan beragam layanan.
HENDRI MULJA SYAM, Direktur Utama Telkomsel
 

 

 

 


×