Kru pesawat Air China mengenakan hazmat setibanya di Bandara Internasional Los Angeles, Amerika Serikat, Selasa (30/11/2021). Amerika Serikat mengumumkan kasus perdana varian omikron pada Rabu (1/12/2021). | AP Photo/Jae C. Hong

Kabar Utama

03 Dec 2021, 03:55 WIB

Omikron Capai 24 Negara

Kebijakan umrah Saudi belum berubah menyusul temuan omikron.

JENEWA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, setidaknya 24 negara telah melaporkan kasus Covid-19 yang terkait dengan varian Covid-19 omikron. Direktur Jenderal WHO Tedros Ghebreyesus memperkirakan, jumlah negara yang melaporkan kasus varian baru tersebut akan bertambah.

“WHO menanggapi perkembangan ini dengan sangat serius, begitu pula setiap negara. Namun, itu seharusnya tidak mengejutkan kita. Karena inilah yang dilakukan virus (terus bermutasi)," ujar Tedros dalam keterangan resminya, Kamis (2/12). 

Pengumuman itu menunjukkan bahwa omikron membutuhkan sepekan saja untuk mencapai negara ke-20 sejak terdeteksi di Afrika Selatan pada 24 November. Perbandingannya, virus induk SARS-CoV-2 membutuhkan setidaknya 59 hari untuk menyebar dari lokasi awal terdeteksi di Wuhan, Cina, sampai ke negara ke-20, yakni Uni Emirat Arab.

Varian Delta yang saat ini masih mendominasi penularan di dunia sempat mengendap lama di lokasi awal terdeteksi, di India pada akhir 2020. Virus itu mencapai negara ke-20, yakni Uganda, 172 hari sejak awal terdeteksi.

photo
Warga Jepang mengenakan masker di distrik fesyen Omotesando di Tokyo, Selasa (30/11/2021). Pemerintah Jepang kembali mewajibkan masker setelah ditemukan satu kasus varian omikron di negara tersebut. - (EPA-EFE/FRANCK ROBICHON)

Bagaimanapun, kecepatan sebaran tersebut belum bisa dijadikan patokan bahwa omikron lebih berbahaya dari varian lain. Tedros mengatakan, para ilmuwan saat ini masih terus mempelajari varian omikron. 

Mulai dari cara penularan, tingkat keparahan penyakit, efektivitas tes, dan vaksin. "Kita perlu menggunakan alat yang sudah kita miliki untuk mencegah penularan dan menyelamatkan nyawa dari delta. Dan jika kita melakukan itu, kita juga akan mencegah penularan dan menyelamatkan nyawa dari omikron,” ujar Tedros.

Di antara negara terkini yang mendeteksi masuknya varian omikron adalah Arab Saudi. Kementerian Kesehatan Arab Saudi pada Rabu (1/12) mengatakan, kasus pertama dari varian omikron telah terdeteksi di kerajaan. Varian baru virus korona ini ditemukan pada seorang warga yang datang dari Afrika Utara. 

Terkait hal itu, Konsul Jenderal Republik Indonesia (Konjen) RI Jeddah Eko Hartono menyebut kebijakan umrah di Saudi belum terpengaruh perkembangan varian omikron. "Sejauh ini belum ada perubahan kebijakan terkait umrah. Persiapan terus dilakukan," kata dia saat dihubungi Republika, Kamis (2/12). 

Hal serupa disampaikan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Hilman Latief. “Sampai saat ini belum ada keputusan," kata Hilman Latief saat dihubungi Republika, Kamis (2/12).

Ia mengatakan, persiapan masih dilakukan untuk jadwal keberangkatan pertengahan Desember nanti. 

Yang menjadi tantangan, kata Hilman, justru kebijakan di Tanah Air yang nantinya mewajibkan karantina 10 hari bagi warga dari luar negeri guna pencegahan merebaknya varian omikron. “Artinya, tentu saja itu akan mengurangi banyak niat orang yang akan berumrah pada Desember ini," kata dia. 

Amerika Serikat juga mencatat kasus pertama varian omikron yang dikonfirmasi pada Rabu (1/12). Kasus itu ditemukan pada seorang pengunjung yang sudah divaksin dan baru kembali ke Kalifornia setelah melakukan perjalanan ke Afrika Selatan. 

Ahli penyakit menular terkemuka AS, dr Anthony Fauci, membuat pengumuman di Gedung Putih tentang temuan tersebut. "Kami tahu hanya masalah waktu sebelum kasus pertama omikron terdeteksi di Amerika Serikat," katanya. 

Pengumuman ini sempat menjatuhkan bursa saham Wall Street. Dow Jones Industrial, misalnya, anjlok 461,68 poin alias 1,34 persen. Kendati demikian, pada Kamis (2/12), bursa saham kembali terkerek. 

Pengumuman temuan lima kasus perdana varian omikron di Korea Selatan pada Rabu (1/12) malam diikuti rekor penularan Covid-19 selama dua hari berturut-turut. Pada Kamis (2/12), kasus positif Covid-19 Negeri Ginseng bertambah 5.200 kasus. Hal itu menekan sistem kesehatan karena lonjakan kasus rawat inap dan kematian.

Di negara asalnya, Afrika Selatan, varian omikron mulai memicu lonjakan kasus yang mengkhawatirkan. Michelle Groome dari Institut Nasional Penyakit Menular (NICD) menyampaikan, rata-rata 300 kasus harian dua pekan lalu telah melonjak hingga 1.000 kasus pada pekan berikutnya dan 3.500 kasus pekan ini.  

Pada Rabu (1/12), Afrika Selatan mencatat 8.561 kasus baru, melonjak dari 1.275 sepekan sebelumnya. Setidaknya dua pertiga dari penularan baru itu merupakan varian omikron. Artinya, varian tersebut mulai mengambil alih posisi varian Delta sebagai varian dominan. “Tingkat penyebarannya mengkhawatirkan,” kata Groome.

photo
Warga mengantre sebelum menaiki penerbangan Air France ke Prancis dari Bandara Internasional Tambo di Johannesburg, Afrika Selatan, Jumat (26/11/2021). Sejumlah negara di dunia termasuk Indonesia mulai menutup pintu kedatangan dari Afrika bagian selatan akibat merebaknya varian Covid-19 yang dibari sandi omikron. - ((AP Photo/Jerome Delay))

Pengaruhi Tes PCR

Guru Besar Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia Tjandra Yoga Aditama menganalisis dampak Covid-19 varian omikron terhadap pemeriksaan tes polymerase chain reaction (RT-PCR). Ada indikasi bahwa varian tersebut memengaruhi pemeriksaan tes PCR.

Prof Tjandra menjelaskan, dampak omikron menimbulkan mutasi spike protein di posisi 69-70. Kondisi ini menyebabkan terjadinya fenomena “S gene target failure (SGTF)” di mana gen S tidak akan terdeteksi dengan PCR lagi. Hal ini disebut juga “drop out gen S”. 

"Walau ada masalah di gen S, untungnya masih ada gen-gen lain yang masih bisa dideteksi sehingga secara umum, PCR masih dapat berfungsi," kata Prof Tjandra dalam keterangan pers yang diterima Republika, Kamis (2/12).

Prof Tjandra menerangkan, tidak terdeteksinya gen S pada pemeriksaan PCR dapat dijadikan indikasi awal untuk kemungkinan yang diperiksa adalah varian omikron. Lalu dalam hal ini, menurut dia, perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) untuk memastikannya. 

"Kalau kemampuan WGS terbatas, ditemukannya SGTF dapat menjadi semacam bantuan untuk menyaring mana yang prioritas dilakukan WGS, selain kalau ada kasus berat atau ada klaster atau ada kasus yang tidak wajar perburukan kliniknya," ujar mantan direktur WHO Asia Tenggara itu. 

Selain itu, Prof Tjandra menyinggung indikasi sudah beredarnya varian omikron bila di suatu daerah ditemukan peningkatan sampel laboratorium yang menunjukkan SGTF. Ia menyarankan pemerintah memublikasikan laporan peningkatan SGTF. "Artinya, jangan hanya jumlah total, tetapi apakah ada peningkatan SGTF atau tidak," ucap Prof Tjandra.  

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 UNS sekaligus dokter spesialis patologi klinik Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tonang Dwi Ardyanto, meminta agar masyarakat mewaspadai varian omikron. Meski hingga saat ini, pemerintah belum mengonfirmasi kasus varian omikron di Indonesia, bukan berarti masyarakat bisa tenang dan abai dengan protokol kesehatan.

Justru, masyarakat harus berhati-hati dan disiplin menerapkan prokes supaya kasus merebaknya varian Delta pada Juli-Agustus lalu tidak terulang di periode Natal dan tahun baru (Nataru). "Hari-hari ini, beberapa negara sudah melaporkannya, termasuk Australia. Yang melaporkan itu berarti sudah berhasil mendeteksi. Yang belum melaporkan, bukan berarti pasti bebas virus varian. Mungkin karena belum berhasil mendeteksinya saja," kata Tonang.

Tonang juga meminta agar masyarakat tidak terlalu memikirkan tingkat keganasan varian omikron. Yang terpenting, masyarakat mewaspadai tingkat penyebaran varian tersebut. Tonang juga berharap agar instalasi gawat darurat (IGD) di rumah sakit rujukan Covid-19 lebih siap bila sewaktu-waktu terjadi lonjakan kasus akibat varian omikron. 

"Memaknai ganas atau tidak, sebenarnya sangat bergantung kondisi setempat. Proporsi angka kematian (CFR) varian Delta, misalnya, sebenarnya rendah. Walau kasus tinggi di beberapa negara, bahkan sangat tinggi, tapi persentase kematian rendah," katanya.

Dia juga menekankan, penanganan Covid-19 lebih difokuskan pada tingkat penyebarannya. Dengan demikian, penyebaran Covid-19 tetap terjaga, jumlah kasus tidak melonjak, fasilitas kesehatan tetap sanggup menampung sampai secara alami gelombang Covid-19 menurun.

photo
Komuter berjalan di Stasiun London Bridge, Inggris, Selasa (30/11/2021). Pemerintah setempat kembali mewajibkan masker sebagai cara mencegah varian omikron. - (EPA-EFE/ANDY RAIN)

"Kalau kasusnya sangat tinggi, rumah sakit kewalahan, tempat tidur kurang, sampai harus antre di IGD, atau bahkan terpaksa bertahan di rumah saja, maka jadi besar risikonya. Angka kematian menjadi tinggi. Artinya, harus kita waspadai," kata Tonang.

Selama 1,5 tahun pandemi Covid-19 melanda dunia, Indonesia sudah terkena dua kali gelombang penyebaran Covid-19. Hal itu membuat jumlah pasien Covid-19, termasuk angka kematian, melonjak drastis.

Tonang menjelaskan, ada dua hal yang dapat terjadi ketika gelombang Covid-19 melanda. Pertama, bisa saja walau penyebaran Covid-19 terjaga, jumlah kasusnya tinggi dengan catatan orang yang terkonfirmasi Covid-19 tetap terisolasi dan pasien berat mendapat perawatan.

"Kedua, mulai terjadi lonjakan, penyebaran tidak tertahan, sampai tidak terkendali, semakin banyak terinfeksi, tersebar begitu saja, semakin tinggi kasusnya, semakin banyak, yang maaf, meninggal," katanya.

Kemudian setelah begitu banyak yang terinfeksi, kasus menurun karena virus tidak lagi menemukan tempat berkembang biak yang baru.

Sumber : Reuters/Associated Press


×