Garis polisi. (ilustrasi) | ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa.

Nasional

02 Dec 2021, 03:45 WIB

Istri Korban Tol Bintaro Minta Penanganan Transparan

Pelaku penembakan di pintu keluar Tol Bintaro Ipda OS diketahui memiliki hubungan pertemanan dengan pelapor O yang mengaku dibuntuti korban.

JAKARTA – Istri salah satu korban penembakan di pintu keluar Tol Bintaro meminta penanganan kasus yang menewaskan suaminya dilakukan transparan. Penembak diketahui merupakan anggota polisi berinisial Ipda OS yang bertugas di unit patroli jalan raya (PJR) Polda Metro Jaya.

“Ada harapan istri korban PP nyatakan apresiasi Polri dan minta penanganan kasus transparan. Saya sampaikan PMJ akan tangani kasus ini profesional,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (1/12).

Akibat penembakan yang dilakukan, dua korban berinisial MA dan PP mengalami luka. PP kemudian dinyatakan meninggal saat perawatan oleh tim medis di salah satu rumah sakit. Korban penembakan sempat ditangani di Rumah Sakit Pelni, Jakarta Barat,  kemudian dirujuk ke rumah sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Zulpan melanjutkan, dalam pengungkapan kasus penembakan oleh anggota kepolisian, pihaknya melibatkan Propam Polda Metro Jaya dan Divisi Propam Mabes Polri. Sehingga dapat diketahui apakah pelaku Ipda OS melakukan pelanggaran SOP dalam menjalankan tugasnya, terutama saat peristiwa yang terjadi pada Jumat (26/11) itu.

“Kami akan terapkan hukum adil bagi semua pihak. Artinya pihak korban dan pelaku kami akan terapkan hukum yang berlaku jadi Polda Metro Jaya  akan tindak kasus transparan tak ada yang ditutupi dan profesional,” ujar Zulpan.

Republika berupaya untuk meminta keterangan dari istri korban PP berinisial LS. Namun, LS masih belum bisa dihubungi. Ipda OS masih belum ditetapkan tersangka. Hingga saat ini, pelaku Ipda OS masih dilakukan pemeriksaan oleh Propam.

Pelaku penembakan di pintu keluar Tol Bintaro Ipda OS diketahui memiliki hubungan pertemanan dengan pelapor O yang mengaku dibuntuti korban. Hubungan pertemanan itu yang membuat O menghubungi Ipda OS, saat dirinya merasa terancam.

Dari pemeriksaan saksi, insiden penembakan itu berawal dari adanya laporan seseorang inisial O. Dalam laporannya, pelapor khawatir karena dirinya tengah diikuti oleh sejumlah orang yang mengendarai sejumlah mobil. Merasa dirinya terancam maka O melaporkan kepada Ipda OS.

Kemudian pelaku Ipda OS menghampiri pelapor usai menerima laporan tersebut. Kemudian membawa pelapor ke kantor PJR Jaya 4 atau lokasi penembakan di gerbang tol Bintaro dengan tujuan mengamankan pelapor. Namun, tak beberapa lama terjadi keributan yang berujung penembakan dan mengenai dua orang inisial PP dan MA.

Sementara itu, terkait apakah ada kode etik dalam penembakan itu, Zulpan mengatakan, pihak Bidang Propam Polda Metro Jaya bersama Divisi Propam Mabes Polri masih mendalaminya. Kemudian dari penyelidikan Propam ini akan diketahui apakah Ipda OS melanggar kode etik pada saat melakukan pengamanan terhadap pelapor.

Plt Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso mengatakan, Ipda OS harus diperiksa dengan mendalami mengapa dia menggunakan senjata api dalam merespons laporan warga O yang mengaku dibuntuti. Bisa saja, kata dia, O melaporkan adanya ancaman dari yang mengikuti.

Lanjut Sugeng, jika dalam laporannya ia mendapatkan ancaman fisik yang membahayakan, maka ini bisa menjadi pertimbangan. Walaupun memang, kata dia, tindakan oknum Ipda OS menghilangkan nyawa adalah perbuatan yang tidak dapat dibenarkan atau salah. Maka, kata Sugeng, identitas pelapor O harus dibuka dan komunikasi dengan pelaku harus didalami.

“Saya dapat info penguntit yang jadi korban ini adalah wartawan, apa motifnya menguntit dari hotel di Sentul dengan ketat. Ini diduga berkorelasi dengan posisi O dan apa yang sedang dilakukan di hotel di Sentul,” kata Sugeng.


×