Ilustrasi dakwah virtual. | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA

Khazanah

01 Dec 2021, 04:39 WIB

Dakwah Virtual Hadapi Banyak Tantangan

Dakwah virtual akan mengembuskan angin segar kearifan Islam di dunia maya.

JAKARTA – Beragam tantangan menghadang dunia dakwah di era virtual. Hal itu terjadi di antaranya karena tidak adanya sekat dan etika di dunia maya.

Intelektual Muslim dari Hobart and William Smith Colleges, New York, Amerika Serikat, Prof Etin Anwar, mengungkapkan hal itu saat menjadi salah satu pembicara dalam Konferensi Dakwah dan Media Islam bertajuk “Prospek Dakwah Digital di Era Pandemi: Peluang, Tantangan dan Dinamika” yang digelar secara virtual oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa (30/11).

"Berdakwah di dunia virtual sangat menantang karena tidak ada sekat dan tidak ada etika," ujar dia.

Menurut dia, dunia maya diciptakan oleh para insinyur, ahli IT, dan ahli artificial intelligence (AI) yang sudah tentu tidak berdasarkan etika Islam. “Ini yang sangat menantang karena Indonesia ini sebagai users (pengguna),” katanya.

Karena itu, menurut Etin, perlu diupayakan agar Muslim tidak hanya berperan sebagai pengguna, tetapi juga perancang. "Maka, bagaimana merespons kebutuhan itu. Dan ini juga tantangan bagi kita bagaimana Fakultas Dakwah dan Komunikasi menjawab teknologi dan bagaimana kurikulum itu berjalan dengan cepat," ujarnya.

Etin juga memaparkan, dalam dunia virtual terdapat masalah etika. Misalnya tentang hak asasi manusia, privasi, dan batas umur. Ada pula persoalan moralitas yang berkaitan dengan anak-anak, dan perbedaan budaya.

"Dalam hal ini, bagaimana jurusan-jurusan di Fakultas Dakwah ini bisa menargetkan persoalan etika dalam dunia digital. Termasuk juga persoalan kesehatan mental karena kita jarang sekali bercerita kesehatan mental dan ini kaitannya dengan dunia digital," katanya.

Tantangan lain yang juga perlu dipecahkan, menurut Etin, yaitu mengenai bagaimana menciptakan konten berbahasa Inggris atau bahasa Arab atau bahasa-bahasa lainnya yang berpotensi dilihat secara global. “Hal itu menjadi tantangan sekaligus juga tantangan,” katanya.

Pada forum yang sama, guru besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof Dr Asep Saeful Muhtadi, menyampaikan penjelasan ihwal dampak ketika dakwah masuk dalam media digital. Dia mengatakan, media bisa melancarkan proses dakwah dan menambah efisiensi.

Namun, dia mengingatkan, peningkatan efisiensi dakwah melalui media digital belum tentu menambah efektivitas. Sebab, ada cara tersendiri bagaimana proses komunikasi bisa menjadi efektif atau tidak.

Asep berpendapat, sisi negatif kehadiran media untuk kepentingan dakwah adalah riskan dikomodifikasi. Dakwah menjadi rentan dikomersialisasi, karena hampir tidak mungkin orang bisa mengomodifikasi apapun termasuk dakwah, tanpa media.

Komodifikasi adalah sebuah proses transformasi barang atau jasa yang semula dilihat karena nilai gunanya menjadi sebuah komoditas karena bisa mendatangkan keuntungan. Kemudian dikemas menjadi sesuatu yang menarik, menjanjikan dan bermanfaat.

"Sehingga banyak orang yang memanfaatkan media untuk sebuah popularitas," kata dia.

 Dampaknya, seorang dai dapat lebih mengedepankan popularitas ketimbang substansi. Dalam kondisi ini, jika dakwah dipandang dalam perspektif menguntungkan, maka tidak menutup kemungkinan proses pengemasan kegiatan dakwah menjadi jauh lebih penting dibandingkan proses substansi dari dakwah itu sendiri.

"Semula dakwah yang mencerahkan pemahaman keagamaan, maka bisa saja digeser untuk bisa memberikan keuntungan," katanya.

Di era disrupsi ini pula, pendakwah bisa kehilangan peran dan fungsinya karena telah terjadi perubahan dahsyat dalam tatanan kehidupan. Karena itu, jika tidak terampil atau tidak punya literasi yang memadai untuk memanfaatkan media, fungsi dan perannya bisa saja lenyap.

"Media (digital) memang ada positifnya, tetapi jika tidak berhati-hati, maka itu bisa menimbulkan faktor negatif juga," katanya.


×