Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Kabar Utama

01 Dec 2021, 03:30 WIB

Kebutuhan Spiritual

Sejatinya manusia merupakan rangkaian utuh antara komponen materi dan spiritual.

OLEH SYAHRUL

Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan menyatakan, pandemi Covid-19 menyebabkan angka kasus gangguan jiwa dan depresi di Indonesia meningkat hingga 6,5 persen atau sekitar 12 juta orang dan mereka usia produktif. Masalahnya adalah keterbatasan sosial karena terlalu lama diam di rumah dan kehilangan pekerjaan.

Sejak kecil kita sudah diajarkan kebutuhan manusia berupa sandang, pangan, dan papan. Itu yang kita kenal dengan kebutuhan primer, yaitu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi yang jika tidak terpenuhi, kehidupan akan berakhir.

Pengetahuan ini sudah tertanam sejak duduk di bangku sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi dan diperkuat dengan realitas kehidupan sehari-hari. Sepintas lalu, kebutuhan primer kita tidak jauh dari (maaf) binatang ternak. Pikiran kita sudah terkooptasi oleh cara pandang materialisme ini.

Kebutuhan yang hanya berbicara sekitar dunia semata. Mengenyangkan dan membahagiakan raga atau fisik semata. Padahal, sejatinya manusia merupakan rangkaian utuh antara komponen materi dan immateri. Komponen materi dari tanah (QS as-Sajadah [32]:7) dan komponen immateri (spiritual) yang ditiupkan oleh Allah SWT (QS al-Hijr [15]: 29).

Mengapa pembahasan soal kebutuhan primer tidak memasukkan kebutuhan jiwa atau spiritual? Selain sandang, pangan, dan papan, seharusnya zikir, berdoa, shalat, sabar, ikhlas dan syukur juga menjadi kebutuhan primer manusia.

Bukankah hanya dengan zikir (mengingat Allah) hati menjadi tenang? (QS ar-Ra’du: 28). Berdoalah kepada-Nya, pasti Dia kabulkan, (QS al-Mukmin: 60). Menjadikan shalat dan sabar sebagai penolong (QS al-Baqarah: 45). Sesungguhnya Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar (QS al-Baqarah: 153). Jika kita bersyukur, Tuhan akan menambahkan nikmat-Nya (QS Ibrahim: 7).

Jika worldview (cara pandang) kita hanya soal materi, kehilangan pekerjaan, kelaparan, mutasi, gaji kecil akan menjadi kiamat dalam hidup. Sehingga, kesibukan kita bekerja juga hanya untuk mencari dan mempertahankan hidup. Kita mengalami krisis spiritual, kehilangan hubungan dengan Sang Pencipta.

Di balik jeruji besi, Buya Hamka mampu melahirkan masterpiece bernama Tafsir al-Azhar yang dihargai dengan gelar profesor dari Universitas al-Azhar di Kairo, Mesir. Tafsir Fi Zhilalil Qur'an dikerjakan Sayyid Quthb di balik penjara dengan berbagai siksaan di dalamnya. Konon tafsirnya ini disebut sebagai, “The most remarkable works of prison literature ever produced”.

Coba kita renungkan salah satu lirik dari lagu kebangsaan kita, “Indonesia Raya”, “Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya". Wager Rudolf Soepratman tentu sangat paham bahwa jiwa adalah unsur terpenting dari manusia. Sehingga, perhatian kepada jiwa harus diutaman sebelum badannya. Harusnya pendidikan kita mendahulukan dan mengutamakan pembangunan jiwa peserta didik.

Saatnya mendidik anak-anak kita dengan membangun jiwa dan raganya secara adil. “Barang siapa yang hanya memikirkan isi perutnya maka harga dirinya tidak lebih dari apa yang keluar dari perutnya,” demikian nasihat sahabat Ali bin Abi Thalib RA.


×