Fatimah (kanan) berdiri mendampingi Jihan (tengah) dan Shafira (kiri). | Erdy Nasrul

Nasional

30 Nov 2021, 14:05 WIB

Shafira dan Jihan Rindu Mama

Shafira dan Jihan mendapatkan beasiswa BP Jamsostek untuk melanjutkan sekolah hingga sarjana.

Shafira Husna Wijaya (10 tahun) menangis sesenggukan mengingat mamanya, Jamilah. Dia tak kuasa berkata-kata menahan rasa sedih di hati karena tak dapat menjumpai orang yang paling dicintai selama ini. 

Ketika ditanya, apakah merindukan pelukan mama, siswi kelas IV SDN Kelapa Gading Timur itu menganggukkan kepala berkali-kali sambil menyeka air mata. 

Biasanya dia dipeluk mama saat tidur malam. Juga ditemani kakaknya Jihan Husna Wijaya (15 tahun). Mereka tidur bersama dalam satu kamar sebuah rumah di Kompleks PT HII Kelapa Gading Jakarta. 

124 hari sudah Shafira tak ditemani mama. Begitu juga Jihan si kakak yang kini sudah duduk di bangku kelas sembilan. 

“Shafira adalah yang paling terpukul dengan kepergian mamanya,” kata tante dua anak ini Fatimah (45 tahun) saat ditemui di Kantor BP Jamsostek Jakarta Kelapa Gading, pada Senin 15 November 2021. 

Setelah Jamilah meninggal dunia, Fatimah mencoba menggantikan mama mereka, memeluk Shafira saat tidur malam, tapi tidak bisa. Shafira marah dan menolak pelukannya. “Mama mereka tidak tergantikan,” kata Fatimah. 

Jamilah, wanita yang banyak aktif dalam berbagai kegiatan sosial, wafat mengenaskan. Dia ditabrak sebuah truk saat menjalankan tugasnya sebagai pengurus Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kecamatan Kelapa Gading. Peristiwa nahas itu terjadi pada Kamis 24 Desember 2020. Ketika itu dia sedang memonitor situasi keamanan menjelang perayaan Natal dan pergantian tahun dengan mengendarai sepeda motor. Lokasinya di pinggiran jalan depan Kompleks Bermis Jl Perintis Kemerdekaan. 

Tubuhnya terjatuh dan tak bergerak lagi. Dia tutup usia meninggalkan keluarganya, termasuk dua putri cantiknya Jihan dan Shafira. Seseorang yang berada di lokasi kecelakaan kerja itu mengenal Jamilah. Dia mendatangi rumah menemui Fatimah, Jihan, dan Shafira. “Fatimah, kakakmu mengalami kecelakaan di depan Kompleks Bermis. Sepertinya dibawa ke rumah sakit Mediros,” kata orang tersebut. 

Tak menyangka kakaknya ditabrak truk, Fatimah terkejut. Bersama Jihan dan Shafira, mereka berjalan kaki menuju Rumah Sakit Mediros. Sekitar 20 menit mereka melangkahkan kaki ke sana. Di rumah sakit itu mereka menemukan petugas satuan pengamanan untuk menanyakan korban kecelakaan di depan kompleks Bermis. Petugas satpam menduga, pasien itu sepertinya dibawa ke Rumah Sakit Columbia Asia di Pulomas. Petugas satpam memboncengi mereka dengan sepeda motor menuju rumah sakit Columbia. 

Tiba di sana, mereka bertanya kepada petugas rumah sakit tentang Jamilah. Namun petugas RS Columbia menjelaskan tidak ada pasien korban kecelakaan. Fatimah bersikeras pasti kakaknya di sana. Emosinya memuncak untuk menekankan Jamilah pasti dirawat di sana. Namun, tetap saja, petugas mengatakan tidak ada. 

Mendadak telpon selulernya berdering. “Fatimah kamu di mana? Ini kakakmu sudah di rumah,” suara dari telpon tersebut. Fatimah dan dua putri tadi bergegas kembali ke rumah. Sampai di sana, Fatimah bertanya-tanya di mana kakaknya. Mata tertuju pada sebuah mikrolet tak berpenumpang. Di dalamnya terdapat jenazah yang sudah ditutupi kain. 

“Mana kakak saya? Mana kakak saya” Tanya Fatimah berteriak. Saat melihat jenazah tersebut, Fatimah menyadari bahwa itu adalah kakaknya, Jamilah. Dia sudah tiada. Hidupnya berakhir saat usiannya 49 tahun. 

Tangisan pecah saat itu. Fatimah, Jihan, dan Shafira, tak kuasa menahan derai air mata. Tetangga di sana berusaha menenangkan mereka. Beberapa orang di sekitar perumahan PT HII membantu mengurus jenazah Jamilah di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan membuat surat keterangan di kantor Kepolisian Sektor Gunung Sahari. Selesai mengurus itu semua, jenazah disemayamkan di rumah duka. Lalu dimakamkan. 

Hidup setelah kematian Jamilah adalah masa yang paling berat, terutama untuk Jihan dan Shafira. Dari yang biasa hidup bersama, kini mereka harus hidup tanpa sang ibu. Ini bukan perkara mudah. Shafira biasa memakai ponsel mama untuk belajar daring. Kalau sudah jenuh, anak itu akan diboncengi mama mengelilingi kompleks untuk rekreasi. Pada malam hari, Jihan dan Shafira akan mendengarkan keluh kesah si ibu beraktivitas di luar rumah. “Mama biasa curhat,” kata Shafira mengenang orang yang paling dicintainya. 

Pagi hari, Jamilah biasa memasak nasi goreng sederhana. Bumbunya bawang goreng diiris tipis dan ditumis. Lalu telor dimasukkan dan diaduk. Berikutnya nasi putih dimasukkan dicampur garam. Semua itu kemudian diaduk. “Kami biasa menyebutnya nasi dukreng (diaduk dan digoreng,-red)” 

Hidangan sederhana itu menjadi santapan penghangat suasana pagi. Selesai melahap masakan tadi, Jamilah meninggalkan rumah menjalankan aktivitasnya sebagai pengurus FKDM. 

Kini mama sudah tiada. Tak ada lagi yang memasak nasi dukreng seenak Jamilah. Mereka merindukan sang ibu, wanita yang menjadi teladan Jihan dan Shafira. 

Dapat beasiswa 

Beberapa hari setelah Jamilah meninggal dunia, Fatimah mendapatkan kabar Jihan dan Shafira akan mendapatkan beasiswa. “Bagaimana bisa? Dari siapa?” tanya dia kepada pengurus FKDM Kelapa Gading. 

Mendengar kabar itu saja, Fatimah sudah merasa begitu bahagia. Karena di saat dirinya dalam kesusahan ada secercah harapan yang datang. Fatimah diinformasikan beasiswa didapat dari Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (Jamsostek) yang dilaksanakan BPJS Ketenagakerjaan (BPJamsostek). Semasa hidupnya, Jamilah terdaftar sebagai peserta program Jamsostek sejak 2017. 

Fatimah mengurus berbagai persyaratan ke kantor BP Jamsostek Kelapa Gading. Dia bersyukur, bantuan dapat dicairkan berupa santunan dengan nilai total sebesar Rp 314.576 juta. Terdiri dari santunan kematian karena kecelakaan kerja sebesar 48 kali upah yang dilaporkan ke BP Jamsostek, biaya pemakaman dan santunan berkala. Selain itu ada pula bantuan beasiswa untuk Jihan dan Shafira dengan total mencapai Rp 153.500.000. 

Sebagian besar uang santunan sudah disimpan dalam deposito bank. Manfaatnya digunakan untuk keperluan Jihan dan Shafira. Uang beasiswa langsung dimanfaatkan untuk keperluan sekolah keduanya. “Alhamdulillah, bantuan kecelakaan kerja dan beasiswa kami dapatkan. Ini sangat berharga dan bermanfaat sekali untuk kami,” ujar ibu rumah tangga tersebut. 

Fatimah bersama Jihan dan Shafira berkesempatan bertatap muka dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada 12 Maret 2021 di Balai Kota Jakarta. Di sana mereka menerima bantuan kecelakaan kerja dan beasiswa secara simbolik. Gubernur menghaturkan duka cita atas wafatnya Jamilah. 

Bantuan sebanyak itu, tak dapat menggantikan Jamilah yang sudah tiada. Kesedihan masih tetap terasa dalam beberapa kesempatan, seperti yang dirasakan Shafira. Namun duka dan lara yang dialami pasti akan berakhir. Jihan dan Shafira harus meneruskan hidup dengan optimistis menatap masa depan penuh tantangan. 

Ketika dua putri itu ditanya bercita-cita menjadi apa, mereka menjawab dengan semangat. “Ingin menjadi dokter,” kata Jihan. “Mau jadi tukang masak (chef). Aku sudah bisa mengiris bawang,” kata Shafira. Insya Allah dengan beasiswa tadi, cita-cita mereka akan terwujud.

Mereka terus belajar di tingkat dasar dan menengah, dan nantinya akan meraih gelar sarjana, tanpa mengkhawatirkan biaya yang harus dikeluarkan. Sebab ibu mereka sudah memikirkan keberlangsungan sang anak dengan menjadi peserta BP Jamsostek semasa hidupnya.  

Direktur Pelayanan BP Jamsostek, Roswita Nilakurnia menjelaskan bahwa kisah ini hendaknya menjadi pengingat betapa pentingnya perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.

"Manfaat beasiswa ini merupakan bukti bahwa negara hadir menjamin masa depan generasi penerus bangsa melalui pendidikan yang layak, meski telah kehilangan orang yang dicintainya. Semoga kelak mereka mampu mewujudkan cita-cita mulia almarhumah mamanya," ungkap Roswita.


×