Warga bertransaksi nontunai melalui QRIS di Pasar Manggarai, Jakarta, Sabtu (30/10/2021). Pemerintah melalui Bank Indonesia terus menggencarkan sistem pembayaran nontunai menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS, khususnya bagi pelaku | ANTARA FOTO/Galih Pradipta/rwa.

Khazanah

29 Nov 2021, 07:25 WIB

Kongres Ekonomi Umat Soroti UMKM

Salah satu tantangan bagi dunia UMKM kini ialah digitalisasi.

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan menggelar Kongres Ekonomi Umat II dalam waktu dekat. Ketua Bidang Ekonomi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lukmanul Hakim mengatakan, forum tersebut akan membahas banyak hal, khususnya prospek dan perkembangan dunia usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Topik tersebut dinilai penting karena UMKM telah berkontribusi besar dalam struktur ekonomi di Tanah Air. Alhasil, menurut dia, ide-ide yang komprehensif dan mendalam perlu dimunculkan untuk menguatkan sektor usaha tersebut.

Kongres itu pun diharapkan menghasilkan pemikiran-pemikiran yang konstruktif bagi penguatan ekonomi Muslimin dan bangsa Indonesia umumnya. “Saya percaya, para pembicara sudah memiliki konsep-konsep itu, apakah kontekstual atau praktikal atau success stories, sehingga tim perumus bisa lebih mudah membuat rumusan,” kata Lukmanul Hakim saat membuka diskusi virtual bertajuk “Road to Kongres Ekonomi Umat II MUI 2021” pada Sabtu (27/11).

Ia mencontohkan, salah satu tantangan bagi dunia UMKM kini ialah digitalisasi. Mengutip data Kementerian Usaha Kecil dan Menengah (KUKM), jumlah UMKM yang telah masuk dalam ekosistem digital mencapai 15,3 juta unit. Angka itu setara dengan 23,9 persen dari total UMKM se-Indonesia. 

Selama pandemi, ada peningkatan sebanyak 7,3 juta UMKM yang on-boarding digital di Indonesia. Namun, kata dia, masih cukup banyak yang harus ditingkatkan. Misalnya mendorong daya saing para pelaku UMKM. Karena itu, perlu adanya peta jalan (road map) yang terukur dan menyeluruh sebagai acuan bersama, khususnya di tengah umat Islam. 

“Saya harap (Kongres Ekonomi Umat) nanti tidak hanya berkonsep, tapi sudah masuk ke perumusan road map atau gerakan,” ucap staf khusus Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin itu.

Ketua Penyelenggara Kongres Ekonomi Umat Andi Djuweli mengatakan, Kongres Ekonomi Umat II akan digelar pada 10-12 Desember 2021 di Hotel Sultan, Jakarta. Sebelumnya, MUI sukses mengadakan Kongres Ekonomi Umat I di kota yang sama pada 2017 lalu.

Menurut dia, adanya kongres empat tahunan itu membuktikan, MUI merasa terpanggil untuk ikut berijtihad pemikiran dalam membangkitkan ekonomi nasional. “Harapan kami, dengan ulama bergerak ini semua stakeholder merasa ikut menggerakkan ekonomi umat,” kata Andi Djuweli dalam keterangan tertulis, Sabtu (27/11).

Ia menambahkan, pandemi Covid-19 telah memukul sendi-sendi perekonomian. Maka, ulama dipandang perlu turun tangan demi mencegah terjadinya masalah sosial yang berkelanjutan. 

Kongres Ekonomi Umat II akan dihadiri oleh 11 tokoh besar dan 250 peserta dari berbagai golongan. Figur-figur yang dijadwalkan hadir, antara lain, ialah mantan wakil presiden Muhammad Jusuf Kalla dan pengusaha Muslim, Chairul Tanjung. Adapun sejumlah lembaga yang turut serta antara lain ialah Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), serta Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Optimistis 

Wakil Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) PP Muhammadiyah, Ahmad Syauqi Soeratno, mengaku optimistis dengan masa depan UMKM. Menurut dia, sektor usaha tersebut berpotensi besar untuk menyelesaikan persoalan strategis bangsa ini.

Berdasarkan data KUKM, jumlah pelaku UMKM di Indonesia mencapai 64,2 juta unit atau 99,99 persen dari jumlah pelaku usaha di Indonesia. Daya serap tenaga kerja UMKM adalah sebanyak 117 juta pekerja. Angka itu setara dengan 97 persen dari keseluruhan daya serap tenaga kerja dunia usaha.

Kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional mencapai 61,1 persen. Sisanya, yakni 38,9 persen, disumbang oleh pelaku usaha besar yang jumlahnya hanya 5.550 unit atau 0,01 persen dari jumlah pelaku usaha. 

“Kalau kita mengelola ini secara serius dengan model bisnis yang tepat, UMKM bisa menyelesaikan masalah strategis bangsa ini,” ujar Syauqi, Sabtu (27/11).


×