Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

29 Nov 2021, 03:30 WIB

Kemunafikan

Dalam Alquran, pembohong tulen dipredikati sebagai orang munafik.

OLEH IU RUSLIANA

Alkisah, seorang yang bodoh diganggu dan digoda sekelompok anak kecil. Untuk mengusir anak-anak itu, dikarang cerita bahwa ada pembagian kue di kampung sebelah.

Berangkatlah anak-anak yang mengganggu itu ke kampung sebelah. Kala orang bodoh melihat itu, dia pun berpikir jangan-jangan benar ada yang membagikan kue di kampung sebelah, lalu dia pun ikut pergi ke kampung tersebut.

Begitulah kebodohan, kadang bisa menipu yang mengarangnya sendiri. Ketika kepalsuan telah diviralkan, kerap seolah-olah menjadi kebenaran. Ketika kebaikan tak diviralkan, seolah kejahatan.

Dalam Alquran, pembohong tulen dipredikati sebagai orang munafik. Allah SWT menyebut mereka sebagai orang yang benar-benar bodoh, hanya menipu diri sendiri. Berlebihan dalam kedustaan sehingga seolah-olah menjadi kebenaran. Lupa bahwa dialah yang awalnya menciptakan kebohongan.

Ada dua jenis kebodohan, yaitu biasa dan sangat bodoh. Kebodohan yang biasa itu disadari pemiliknya, sehingga mau belajar, kemudian mendengar dan rendah hati untuk mendalami ilmu pengetahuan karena mengakui kekurangan.

Bila pun usia menginjak tua, tetap bersemangat membekali diri dengan kebenaran. Terus meningkatkan kemampuan untuk membina generasi penerus nanti.

Selain itu, ada kebodohan yang berlebihan. Orangnya tidak menyadari bahwa ia sangat bodoh karena keangkuhan yang menyelimutinya. Terjebak pada merasa pandai dan bijak. Malas untuk belajar, menganggap rendah dan bodoh teman, bahkan gurunya sendiri. Ingin didengar, tak mau mendengar.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi,’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.” (QS al-Baqarah: 11-12).

Setelah di ayat ketiga sampai kelima surah al-Baqarah, Allah SWT menjelaskan ciri orang yang bertakwa. Di ayat keenam sampai ke-20, dijelaskan tentang kelompok orang yang menolak kebenaran (kafir) dan munafik, yang mengolok-olok keimanan, membeli kesesatan dengan petunjuk, terombang-ambing dalam kesesatan.           

Hidupnya dihinggapi kebutaan, bisu, dan tuli karena penyakit hati. Bentuknya berupa kesombongan, fanatisme, mengikuti nenek moyang dan orang besar tanpa sikap kritis. Penyakit hati lainnya yang menyebabkan manusia menjauhi kebenaran yaitu kemewahan, kejahatan, dan kenistaan yang menyebabkan enggannya menerima kebenaran.  

Sebenarnya hal itu bisa dihindari seseorang jika belajar sekuat tenaga meletakkan tauhid dalam sanubari dan menjauhi penyakit hati. Mintalah selalu petunjuk kepada Tuhan agar diri ini lapang dan menerima kebenaran.


×