|

Arsitektur

28 Nov 2021, 09:54 WIB

Masjid Muhammad Jassim al-Saddah, Pesona Modern Minimalis

Masjid Muhammad Jassim al-Saddah di Kuwait ini kaya akan ornamen khas Arab, mashrabiya

 

 

 

Kuwait merupakan salah satu negara di kawasan Teluk Arab. Meskipun wilayahnya secara geografis tidak begitu luas, negeri yang mayoritas dihuni pekerja migran tersebut sangatlah makmur. Hal itu terjadi terutama sejak penambangan minyak bumi di sana pada era 1940-an.

Seperti halnya negara-negara Arab, Kuwait pun memiliki banyak masjid. Salah satunya yang mengesankan ialah Masjid Muhammad Jassim al-Saddah. Dari kejauhan, bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 2.800 meter persegi itu tampak megah.

Nama tempat ibadah itu diambil dari perancangnya, Jassim bin Muhammad al-Saddah. Arsitek tersebut masih berusia 25 tahun saat masjid hasil rancangannya dibangun. Ia adalah putra Muhammad al-Saddah, seorang menteri industri dan energi Kuwait pada masanya.

Masjid ini berlokasi di Jalan Sana’a, distrik Dahiat Abdullah al-Salem, atau sekira 4 kilometer dari pusat Kota Kuwait arah selatan. Tampilannya menunjukkan kesan minimalis modern yang kuat. Kubahnya berbentuk setengah bola. Ada menara berwujud bujur sangkar di dekatnya,

Bagaimanapun, elemen-elemen budaya Arab juga terlihat di sana. Di pelbagai titik, Masjid Muhammad Jassim al-Saddah menampilkan mashrabiya. Pola itu bertebaran antara lain di permukaan kubah dan pelapis bagian luar menara masjid tersebut. Ada yang terbentuk dari corak geometris enam lingkaran. Seakan-akan teranyam, corak tersebut lalu membentuk pola heksagonal atau sehi enam.

Ornamen dekoratif masjid tersebut pun menyuguhkan ciri-ciri mashrabiya. Itu bisa dilihat pada nyaris seluruh permukaan dinding, baik yang terbuat dari beton, kayu, maupun metal. Hiasan yang sama juga tampak hingga ke atap kubah dan menara.

Untuk memperkuat aksen religius, dihadirkan huruf-huruf Arab bertuliskan 99 nama Allah (Asmaul Husna). Asmaul Husna ini ditulis dengan kaligrafi jenis Kuffi. Huruf-huruf kaligrafi berbentuk kotak yang menghiasi langit-langit dan dinding interior masjid ini terasa sangat pas dengan desain modern minimalis yang diaplikasikan pada bangunan ini.

Kemegahan bangunan masjid ini berbalut dengan warna-warna yang “kalem”, seperti putih, abu-abu, krem, serta biru kobalt. Dari sejumlah warna itu, putih dan abu-abu adalah yang paling dominan. Untuk sisi eksterior, kedua warna tersebut menghiasi hampir seluruh permukaan dinding. Jassim juga menampilkan tekstur bebatuan pada permukaan dinding. Ini barangkali mengikuti ciri khas masjid-masjid Arab pada zaman lampau, khususnya era Fathimiyah yang berpusat di Mesir.

Saat memasuki masjid ini, pengunjung akan merasakan nuansa lapang. Hal itu disebabkan langit-langit ruangan yang tinggi. Struktur bangunan tersebut mengharuskan adanya tiang-tiang untuk menyangga atap. Bagaimanapun, keberadaan pilar-pilar yang dipasang secara berbanjar tidak menimbulkan kesan padat. Balutan warna krem pada sisi interior menambah kesan tenang dan nyaman.

Pada petang hari, ketika lampu-lampu di ruang dalam ini dihidupkan, warna  krem yang mendominasi bagian ini terasa seirama dengan pancaran sinar lampu. Meski demikian, di tengah irama yang sama itu, ada sesuatu yang berbeda, terutama ketika berada di bawah cekungan kubah. Nuansa beda itu muncul karena pilihan warna biru kobalt yang menghiasi bagian dalam kubah.

Pada langit-langit, terdapat sejumlah lampu gantung yang berbentuk lingkaran. Kesan mewah tetap terasa berkat adanya benda itu. Sebagai sumber cahaya, sinarnya menerangi seisi ruangan utama. Berpadu dengan warna biru kobalt, nuansa anggun seperti terpancar darinya. Mungkin, itulah kesan yang ingin ditampilkan sang arsitek yang juga alumnus Architectural Association School of Architecture London ini.

Jassim menghiasi bagian atas mihrab dengan corak mashrabiya yang membentuk pola heksagonal. Pada bagian ini terdapat pula tiga cekungan. Berbeda dengan kebanyakan masjid modern di Indonesia, Masjid al-Saddah lebih banyak mengandalkan pencahayaan dari lampu listrik. Kalaupun terdapat banyak jendela, hal itu lebih sebagai unsur penghias ketimbang jalan masuk cahaya alami ke dalam masjid.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, masjid ini telah berhasil menyinergikan konsep desain modern dengan unsur desain lokal. Lewat gagasan segarnya, Jassim juga berhasil menghadirkan sebuah bangunan masa kini yang tidak tercerabut dari akar budaya Timur Tengah.

Masjid yang dibuka sejak Juli 2012 itu merupakan salah satu hasil cipta arsitektural terbaik di kawasan Teluk. Dalam pembangunannya, Jassim berkolaborasi dengan sebuah firma, Bab.Nimnim Design Studio.


×