ILUSTRASI Alquran surah al-Kahfi mengisahkan tentang seorang fasik yang sombong akan harta kekayaannya, yakni kebun yang luas lagi subur. Di dunia dan akhirat, orang itu menyaksikan akibat buruk dari sifatnya itu. | DOK PXHERE

Kisah

28 Nov 2021, 05:47 WIB

Sesal Si Pemilik Kebun

Kebun-kebun milik si ingkar diterpa musibah. Allah mengabadikan penyesalan si fasik.

 

OLEH HASANUL RIZQA

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia,” demikian sabda Nabi Muhammad SAW.

Dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah SAW menyatakan bahwa Allah berfirman, “Kesombongan adalah pakaian kebesaran-Ku dan keagungan adalah kain penghias-Ku. Oleh karena itu, barang siapa yang menanggalkan salah satunya dari-Ku, Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Jahanam.”

Menurut Imam Ghazali, makna hadis tersebut adalah bahwa keagungan dan kesombongan termasuk dari sifat-sifat khusus Allah. Maka, kedua sifat itu tidak layak ada pada selain diri-Nya.

Dalam Alquran, ada beragam kisah yang menunjukkan dampak buruk keangkuhan manusia. Salah satunya terdapat dalam surah al-Kahfi ayat 32 hingga 44. Rangkaian ayat itu menceritakan kedua orang pada zaman dahulu. Seorang di antaranya beriman, sedangkan yang lain ingkar.

Sang mukmin dalam kisah ini diuji oleh Allah SWT dengan pelbagai kesempitan. Dirinya mengalami sedikit rezeki dan keturunan. Adapun kondisi kawannya yang fasik sebaliknya. Ia hidup dengan kekayaan yang melimpah ruah.

Salah satu harta yang dimilikinya ialah dua lahan perkebunan. Tanah itu sangat subur. Surah al-Kahfi menggambarkan, kedua kebun itu berbuah banyak. Selain itu, aliran airnya juga selalu deras, tidak pernah mengering.

 
Dalam Alquran, ada beragam kisah yang menunjukkan dampak buruk keangkuhan manusia.
 
 

Tiap musim panen, si fasik sangat gembira. Berbagai buah, semisal anggur atau kurma, dihasilkan dari kebun-kebunnya itu. Sebagian dijualnya sehingga mendatangkan uang dalam jumlah besar. Bagian yang lain disimpan atau dibudidayakannya.

Tidak sekadar mempunyai, orang fasik tersebut juga sangat piawai merawat kedua kebunnya. Dengan ilmu yang dimilikinya, ia dapat mengatur dan memaksimalkan lahan. Dengan demikian, hasil yang diperolehnya setiap panen akan selalu optimal.

Saat berjumpa dengan kawannya yang Mukmin, lelaki itu kerap menyombongkan diri. “Maka ia berkata kepada kawannya (yang Mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia, ‘Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat'.” Demikian kutipan terjemahan dari surah al-Kahfi ayat 34.

Padahal, segala hartanya itu adalah ujian dari Allah Ta’ala. Orang fasik ini diuji dengan kelapangan rezeki. Sebaliknya, Mukmin yang miskin itu diuji dengan keterbatasan harta, tetapi memiliki iman di dalam dada.

Saking bangganya, kekayaan yang dimiliki justru membuatnya kian sombong. Orang fasik ini menganggap, harta bendanya itu bersifat abadi untuk selamanya.

Alquran membantah anggapan ini. Dengan meyakini bahwa kekayaannya abadi, orang itu sesungguhnya sedang menzalimi diri sendiri. “Dan dia memasuki kebunnya, sedangkan ia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata, ‘Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya’.” (QS al-Kahfi: 35).

 
Dengan meyakini bahwa kekayaannya abadi, orang itu sesungguhnya sedang menzalimi diri sendiri
 
 

Dalam ayat berikutnya, dijelaskan tentang penyesalan si fasik tersebut. Pada Hari Akhir, dia menyesali masa hidupnya yang terlalu larut dalam menumpuk-numpuk harta. “Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu.” (QS al-Kahfi: 36).

Ia pun teringat akan nasihat kawannya yang Muslim. Saat masih di dunia, temannya itu pernah memberikan petuah kepadanya agar menjauhi sifat sombong. “Kawannya (yang beriman) berkata kepadanya sambil bercakap-cakap dengannya, ‘Apakah engkau ingkar kepada (Tuhan) yang menciptakan engkau dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan engkau seorang laki-laki yang sempurna?’” (QS al-Kahfi: 37).

Ayat itu seperti sengaja menyinggung tentang asal mula kejadian manusia, yakni air yang hina. Sehebat apa pun kedudukan seseorang, ia pasti dahulunya hanyalah air yang keluar saat persanggamaan dua pasang insan.

Kawan yang Mukmin ini meneruskan nasihatnya. Si fasik disarankannya untuk memulai kebiasaan tawadhu dari lisan. Umpamanya, dengan selalu memuji Allah SWT dan bersyukur kepada-Nya setiap menyaksikan kebun-kebunnya ini.

“Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ‘Masya Allah, la quwwata illa billah’ (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, sekalipun engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu.” (QS al-Kahfi: 39).

 
Sang Mukmin digambarkan sebagai pribadi yang ikhlas. Ia tidak mengharapkan imbalan apa pun dari kawannya yang kaya raya.
 
 

Dalam surah yang sama, sang Mukmin digambarkan sebagai pribadi yang ikhlas. Ia tidak mengharapkan imbalan atau pamrih apa pun dari kawannya yang kaya raya. Dengan nasihat-nasihatnya itu, dirinya hanya bertujuan ibadah, lillahi ta’ala. Karena itu, dalam hidupnya dipenuhi dengan kesabaran.

“Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberikan kepadaku (kebun) yang lebih baik dari kebunmu (ini).” (QS al-Kahfi: 40). Maksudnya, “yang lebih baik” itu ialah balasan di akhirat kelak.

Sudah dinasihati dengan cara-cara yang halus, si fasik tetap saja bertahan dengan sifat sombongnya. Dampak yang dirasakannya tidak hanya di akhirat. Allah juga menimpakan kepadanya akibat-akibat di dunia.

Dalam surah yang sama diterangkan, kebun-kebun milik si ingkar diterpa musibah. Dari yang semula hamparan lahan berbuah rimbun, kini menjadi “tanah yang licin". Sistem irigasi yang telah dirancangnya ludes sama sekali. Airnya surut ke dalam tanah.

Allah mengabadikan penyesalan si fasik: “Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu dia membolak-balikkan kedua telapak tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang telah dia belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur roboh bersama penyangganya (para-para) lalu dia berkata, ‘Betapa sekiranya dahulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan sesuatu pun’.” (QS al-Kahfi: 42).


×