Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyampaikan kata sambutan pada Peringatan 25 Tahun Initial Public Offering (IPO) Telkom di Jakarta, Kamis (19/11/2020). PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. atau Telkom menggelar peringatan 25 ta | ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

Ekonomi

26 Nov 2021, 15:25 WIB

Telkom Fokus Data Center

Telkom harus segera memasuki  pasar data center agar tidak tertinggal dari kompetitor.

 

JAKARTA -- PT Telkom Indonesia (Persero) berkomitmen menjadi pemimpin pasar data center di Tanah Air. Direktur Utama Telkom Indonesia Ririek Adriansyah memproyeksikan permintaan data center di Indonesia 1.576 MW pada 2030, tertinggi di Asia Tenggara.

Ririek menyebut, jumlah data center Telkom di Indonesia dan Singapura saat ini baru 50 MW. Menurut dia, Telkom juga tengah membangun data center masing-masing 25 MW untuk tiga kampus dalam negeri.

"Untuk jangka menengah kita akan bangun di beberapa titik sehingga lima tahun ke depan total ada di atas 200 MW," ujar Ririek dalam Economic Outlook 2022 bertajuk "Urgensi Mewujudkan National data center" di Jakarta, Kamis (25/11).

Diperkirakan, permintaan data center terus melonjak menyusul peningkatan digitalisasi yang memerlukan data center besar. Ia mengungkapkan, bisnis data center jauh lebih menguntungkan bagi perusahaan.

Ebitdanya, mencapai 25 hingga 35 kali atau jauh lebih besar dibandingkan Ebitda segmen telekomunikasi yang hanya tiga sampai sembilan kali. Hal ini, menurut Ririek, akan mendorong valuasi perusahaan.

Ia menambahkan, Telkom berencana menyatukan sejumlah anak usaha, seperti neuCentrIX, Telin, dan Telkom Sigma. Penyatuan ini diyakini kelak meningkatkan kontribusi pendapatan bagi Telkom Group.

"Posisi data center di neuCentrIX, Telin, dan Telkom Sigma nanti kita jadi satu perusahaan dan akan kita data center, jadi tidak menutup kemungkinan ke depan perusahaan data center kita akan IPO-kan," ucap Ririek.

Diakui, pengembangan data center tidak mudah dan murah. Maka, kata Ririek, Telkom memerlukan sejumlah dukungan, baik dari segi infrastruktur kelistrikan yang andal hingga lokasi data center yang tidak rawan bencana alam. Kalimantan memenuhi syarat ini.

Namun, Telkom tetap butuh lokasi di wilayah lain. Di sisi lain, permintaan pasar saat ini ialah penggunaan energi hijau. ‘’Kalau kita bangun dengan solar panel, kendalanya terlalu mahal," ungkapnya. Maka, Telkom terbuka bermitra dengan perusahaan global.

Associate Director BUMN Research Group LMUI Toto Pranoto mengatakan,  Telkom melakukan langkah tepat dalam rencana penyatuan tiga anak usaha untuk lebih fokus pada bisnis data center.

Menurut Toto, data center merupakan bisnis yang akan terus berkembang dalam beberapa waktu ke depan. Toto menilai Telkom harus segera memasuki industri pasar data center agar tidak tertinggal dari kompetitor. 

"Beberapa kompetitor Telkom sudah lebih awal ekspansi ke segmen ini dengan lebih agresif. Jadi, apabila ada satu anak usaha Telkom yang fokus menggarap produk ini adalah langkah tepat," ujar Toto kepada Republika, Kamis (25/11).

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, BUMN mendorong dan siap memfasilitasi pengembangan industri digital secara komprehensif melalui infrastruktur dan pendanaan. Sejak awal, Telkom harus berubah.

‘’Tak hanya mengandalkan pendapatan yang sudah sunset, kita harus memastikan data center jangan dimiliki asing semua. Toh Telkom punya data center di Singapura, kenapa tidak kita buka besar-besaran di Indonesia," ucap Erick.


×