Anggota keluarga menjalankan ritual pembakaran mayat yang meninggal karena Covid-19 di kashmir, India, beberapa waktu lalu. | AP/Dar Yasin
26 Nov 2021, 03:45 WIB

Tingginya Antibodi Sebabkan Covid Melandai di India

Indonesia menjaga tren kasus landai dengan pengetatan protokol kesehatan.

JAKARTA -- Tidak semua negara yang sebelumnya dilanda gelombang tinggi kasus positif Covid-19 kini mengalami kembali kondisi tersebut. Argentina dan India, misalnya, yang dulu diserang berat varian Delta, belum mengalami kenaikan kasus sejak puncak tertinggi kasus enam bulan lalu.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, ada beberapa negara dengan populasi lebih dari 20 juta yang telah melewati puncak Delta dan kini mengalami kasus yang rendah. Mereka adalah India, Argentina, Kolombia, Afrika Selatan, Indonesia, Maroko, Jepang, dan Sri Lanka.

Mantan direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, dikutip Kamis (25/11), menyampaikan analisisnya. Pendapatnya secara khusus disampaikan terkait India. Ia menilai kasus di India tetap rendah karena banyaknya penduduk yang sudah memiliki antibodi.

Data akhir Oktober 2021 menunjukkan, 97 persen penduduk New Delhi sudah memiliki antibodi dalam derajat tertentu, baik karena sudah divaksin maupun karena sudah tertular secara alamiah. Laporan seropositif 97 persen ini adalah survei ke enam yang dilakukan di New Delhi.

Terkait

Selain survei berkala, ada juga survei berskala cukup besar seperti dilakukan “All India Institute of Medical Sciences (AIIMS)” yang menemukan angka seropositif di New Delhi adalah 67 persen pada puncak gelombang yang lalu. Sedang survei pada “Council of Science and Industrial Research” New Delhi yang menunjukkan seroprevalensi 80 persen beberapa waktu setelah puncak.

Selain di New Delhi maka juga ada survei serupa di kota bisnis terbesar India, yaitu di Mumbai. Hasil survei kelima di Mumbai menunjukkan antibodi terhadap Covid-19 sudah ditemukan pada 90,26 persen dari mereka yang sudah divaksin dan 79,86 persen pada mereka yang belum divaksin.

Epidemiolog dari Universitas Diponegoro Ari Udiyono mengatakan, selama ini kenaikan kasus terjadi bila ada transmisi yang diperankan oleh tiga variabel epidemiologis. Yaitu host (orang), agent (virus) dan environment (lingkungan baik biologi, fisika, kimia, budaya dan lainnya) sebagai media transmisinya. "Agent tidak terlihat karena sangat kecil, dia berada di mana-mana," kata Ari.

Selama masih ada interaksi host dan didukung lingkungan terutama lingkungan budaya, maka transmisi masih tetap ada. Lingkungan yang mendukung terjadi transmisi adalah sering berkumpul, kegiatan budaya yang mendukung adanya kerumunan dan lain sebagainya.

"Saya tidak mempelajari Argentina, tetapi India mempunyai budaya yang lebih keras dibandingkan Indonesia," ungkap Ari. Dalam mendisiplinkan masyarakatnya, India memilki tradisi yang tergolong keras bahkan kasar bila dibandingkan Indonesia.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Sonny Harry B Harmadi mengungkapkan, Indonesia bertahan pada strategi mempertahankan tren kasus rendah dengan memperketat protokol kesehatan.

"Kalau Indonesia strateginya jelas, saat kasus melandai dan aktivitas mulai dibuka, kita justru memperketat prokes, meningkatkan testing dan tracing. Ya, Indonesia kan level 1, ya kita yang jadi best practice," ujar Sonny. 


×