Sejumlah pelajar mengikuti pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) di SDN 084 Cikadut, Jalan Jamaras, Kota Bandung, Jumat (12/11/2021). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Opini

26 Nov 2021, 03:45 WIB

Guru Berkualitas Global

Perlu terobosan untuk mulai mencetak guru berkualitas global melalui program khusus.

BIMO JOGA SASONGKO; Wasekjen ICMI, Lulusan North Carolina State University Amerika Serikat

Hari Guru Nasional (HGN) diperingati setiap 25 November. Peringatan HGN tahun 2021 bertema “Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan”. HGN sebaiknya dijadikan momentum untuk mengembangkan profesi guru sesuai tantangan zaman.

Bank Dunia merilis laporan berjudul "How Indonesia's Subnational Government Spend Their Money on Education". Dalam laporan itu disebutkan, 86 persen anggaran pendidikan di daerah hanya untuk gaji guru, bukan pengembangan kualitas pendidikan.

Sebanyak 86 persen dipakai untuk gaji dan tunjangan guru, infrastruktur lima persen, biaya operasional tiga persen, dan pelatihan guru satu persen. Kabupaten Sragen memiliki alokasi tertinggi, 96 persen. Kota Surabaya paling rendah, yakni 56 persen.

Dari aspek kualitas, berdasarkan data UNESCO dalam Global Education Monitoring (GEM), terdapat 25 persen guru yang belum memenuhi syarat kualifikasi akademik dan hampir setengah lebih belum memilki sertifikat profesi.

 

 
Dari aspek kualitas, berdasarkan data UNESCO dalam Global Education Monitoring (GEM), terdapat 25 persen guru yang belum memenuhi syarat kualifikasi akademik dan hampir setengah lebih belum memilki sertifikat profesi.
 
 

 

Usaha meningkatkan kualitas dan profesionalitas guru merupakan keniscayaan. Peringatan HGN sebaiknya disertai program terobosan untuk mulai mencetak guru berkualitas global melalui program khusus.

Perkembangan zaman yang serbadisruptif di segala bidang, sebaiknya diantisipasi dengan membentuk guru yang mampu membuat anak didik lebih kreatif.

Postur guru nasional saat ini terlihat dari guru yang sudah memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). Postur itu berdasarkan data statistik dari laman Kemendikbudristek, total guru untuk tahun ajaran 2019/2020 berjumlah 2.698.103 orang. Jumlah siswa mencapai 45.534.371 orang.

NUPTK diberikan kepada guru yang statusnya PNS ataupun non-PNS sebagai nomor identitas resmi, untuk keperluan identifikasi dalam berbagai pelaksanaan program dan kegiatan terkait pendidikan, dalam rangka peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan.

Saatnya membentuk guru dengan klasifikasi yang mirip seperti pasukan khusus atau pasukan elite.

Klasifikasi di atas bisa dicetak lewat program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), yang dikoordinasikan oleh Kementerian Keuangan. Sekadar catatan, lembaga itu kini memegang dana abadi triliunan rupiah.

 
Semua guru yang berprestasi sebaiknya diberi kesempatan ikut tahapan seleksi beasiswa LPDP. Kemudian kalau mereka lolos seleksi akademis, dibantu proses mendapatkan LoA dan kemahiran berbahasa asing.
 
 

Publik berharap agar program LPDP yang merupakan investasi pemerintah di bidang SDM bisa lebih efektif dan progresif. Para penerima manfaat program LPDP mestinya tersebar merata untuk seluruh rakyat Indonesia.

Saatnya para guru merasakan langsung program LPDP. Masyarakat melihat, program di atas masih elitis dan cenderung berpihak kepada orang kota besar. Terlebih mereka punya fasilitas dan uang untuk mendapat Letter of Acceptance (LoA) atau conditional letter dari perguruan tinggi luar negeri.

Tentunya para guru dari desa dan pelosok daerah kesulitan memperoleh LoA karena prosesnya panjang dan membutuhkan dana juga kemampuan bahasa asing yang lebih. Ini tentu memberatkan  mereka yang dari daerah dan keluarga tidak mampu.

Semua guru yang berprestasi sebaiknya diberi kesempatan ikut tahapan seleksi beasiswa LPDP. Kemudian kalau mereka lolos seleksi akademis, dibantu proses mendapatkan LoA dan kemahiran berbahasa asing.

Ini tugas pemerintah melalui kerja sama dengan konsultan pendidikan internasional. Saatnya LPDP membuat terobosan memberikan beasiswa bagi guru berprestasi untuk belajar di luar negeri.

Beasiswa luar negeri LPDP selama ini fokus untuk program S2 dan S3, hal itu mesti mengakomodasi para guru untuk mengembangkan kompetensinya. Saatnya LPDP mampu menjadi navigator dan fasilitator yang bisa membuka jalan kemajuan bagi para guru.

Navigator yang mampu mengarahkan para guru menuju negara-negara maju.

 
Fungsi sinergi lembaga di atas termasuk memfasilitasi dan membantu pengurusan aplikasi visa, aplikasi studinya, workshop, dan faktor kemahiran bahasanya.
 
 

Pengiriman guru berprestasi untuk kuliah di perguruan tinggi di luar negeri, perlu bekerja sama dengan konsultan pendidikan internasional yang bisa membimbing untuk menguasai bahasa asing, seperti bahasa Jerman, Prancis, Jepang.

Selain itu, konsultan pendidikan internasional bisa membantu dalam memberikan materi matrikulasi, untuk menyesuaikan materi ajar dan memberikan gambaran tentang budaya dan kondisi sosial dari negara yang akan dituju.

Selain itu, membantu guru mendapatkan akomodasi hingga pendampingan bila perlu. Fungsi sinergi lembaga di atas termasuk memfasilitasi dan membantu pengurusan aplikasi visa, aplikasi studinya, workshop, dan faktor kemahiran bahasanya.

Negara maju, seperti Jerman dan Prancis, selama ini memiliki sejumlah perguruan tinggi terkemuka, yang tanpa membayar uang kuliah alias gratis. Selain membantu penguasaan bahasa asing dan prosedur tes masuk perguruan tinggi di luar negeri, perlu juga staf pendampingan guru jika sudah dinyatakan diterima. 


×