Ilustrasi Film Kadet 1947 | Youtube
24 Nov 2021, 09:12 WIB

Kadet 1947, Kisah Lawan Agresi Belanda

Film Kadet 1947 tiba di bioskop Indonesia mulai 25 November 2021, setelah hampir dua tahun ditunda karena pandemi Covid-19.

OLEH GUMANTI AWALIYAH 

Film Kadet 1947 tiba di bioskop Indonesia mulai 25 November 2021, setelah hampir dua tahun ditunda karena pandemi Covid-19. Film yang disutradarai dan ditulis oleh Rahabi Mandra dan Aldo Swastia ini menyajikan elemen nasionalisme, persahabatan, dan cinta dari para kadet (pelajar dan calon penerbang).

Kadet 1947 mengisahkan serangan udara yang dilakukan para kadet Angkatan Udara ke markas tentara Belanda di Semarang, Ambarawa, dan Salatiga. Adapun yang disorot dari aksi ini adalah bagaimana para kadet yang saat itu belum piawai dalam membawa pesawat mempunyai semangat juang mempertahankan kemerdekaan RI dengan melawan agresi militer Belanda.

Film ini merupakan hasil kolaborasi rumah produksi Temata Studios, Legacy Pictures, Screenplay Films, dan TNI AU. Republika berkesempatan menonton film tersebut dalam special screening pada Senin (22/11). Sebagai film sejarah, Kadet 1947 rasanya jauh dari kata menjenuhkan sebab film ini memiliki cerita yang kuat. Detail perang juga mampu diceritakan dengan apik sehingga penonton bisa ikut merasakan betapa gigihnya perjuangan para kadet dalam mempertahankan kemerdekaan RI.

Terkait

Sutradara juga menyelipkan konflik-konflik personal di antara karakternya serta unsur humor sederhana untuk menunjukkan sisi lain perjuangan, membuatnya terasa lebih relevan di benak anak muda. Untuk film ini, Aldo Swastia menggunakan camera large format dari ARRI agar bisa menghasilkan gambar yang lebar dan terasa immersive. Harapannya, penonton bisa seakan-akan masuk dan merasa berada di Indonesia pada 1947.

"Film ini menyuguhkan CGI dalam adegan serangan. Tapi sebetulnya, daya tariknya justru dari presentasi visual dalam film, seperti yang tersaji dalam trailer," kata Aldo dalam konferensi pers.

Selain itu, Rahabi dan Aldo juga mencoba memasukkan elemen-elemen yang terasa pop. Semoga film Kadet 1947 bisa menjadi pembuka jalan agar masyarakat lebih berminat pada film-film bertemakan sejarah Indonesia. "Film berlatar sejarah masih jarang digarap di Indonesia, bisa jadi karena market-nya dirasa terbatas dan punya tingkat kesulitan yang berbeda," ujar Rahabi.

Produser Kadet 1947, Celerina Judisari, bersyukur karena film ini akhirnya bisa tayang pada November, bertepatan dengan bulan Hari Pahlawan. Dia pun berharap, Kadet 1947 bisa menjadi tontonan edukatif sekaligus menumbuhkan nasionalisme generasi muda.

"Kami komitmen untuk mempersembahkan film bertema Indonesia bagi generasi muda, makanya banyak effort yang kami lakukan agar film ini tidak berjarak dengan mereka dan membawa value yang berbeda," jelas Celerina. 

Film Kadet 1947 juga bisa memberikan pelajaran baru sekaligus meningkatkan rasa nasionalisme para aktor.  Film ini bisa membuatnya lebih nasionalis. Bahkan, ketika memperingati Hari Kemerdekaan ke-76 RI, Bisma mengibarkan bendera merah putih bersama keluarga.

"Jiwa nasionalis saya pun tumbuh. Pas Agustusan kemarin, saya juga mengibarkan bendera merah putih di rumah atas inisiatif sendiri, merasa lebih tergugah aja," kata Bisma.

Tidak hanya itu, perannya sebagai kadet Angkatan Udara RI juga bisa membuat dirinya lebih menghargai sang ayah. "Kebetulan bapak saya angkatan udara. Jadi setelah main di Kadet 1947, saya jauh lebih menghargai bapak. Sangat personal lah buat saya film ini," kata Bisma.

Karenanya, ia berharap, film Kadet 1947 bisa menggugah jiwa nasionalisme anak muda sepertinya. Dia juga berharap film Kadet 1947 bisa mendapat sambutan hangat dari semua pencinta film di Indonesia.

"Mudah-mudahan film ini bisa membangun jiwa nasionalisme dan kita sebagai anak muda bisa menunjukkannya dengan cara masing-masing," kata Bisma.

Sama seperti Bisma, Kevin Julio juga bisa memetik banyak pelajaran hidup dari perannya sebagai kadet. Salah satu pelajaran yang sulit dilupakan adalah ketika para pemain tinggal bersama dan harus membiasakan diri tidur dengan alas seadanya. Menurut dia, momen ini membuat dirinya bisa lebih menghargai perjuangan para pahlawan.

“Proses latihan dan pendalaman karakternya berat, sampai harus tidur di tempat sederhana karena tahun 1947 keadaan belum seaman sekarang,” kata Kevin. 


×