Ilustrasi Sirah Nabi Muhammad SAW. | Islam Digest/Republika
24 Nov 2021, 08:46 WIB

Jadikan Sirah Nabi Muhammad Rujukan Atasi Persoalan Umat

Risalah Nabi Muhammad SAW memiliki keistimewaan dibandingkan risalah nabi-nabi sebelumnya.

JAKARTA – Sirah Nabawiyah adalah rekaman seluruh mata rantai perjalanan hidup dan perjuangan Nabi Muhammad SAW dari lahir hingga wafatnya. Jika diakumulasikan, terdapat jutaan sirah Nabawiyah yang tersebar di seluruh dunia dan ditulis oleh ratusan ulama dari berbagai negara.

Ahli tasawuf dan filsafat Islam, Prof Abdul Kadir Riyadi, mengatakan, sangat penting untuk mengkaji dan menjadikan sirah nabawiyah sebagai rujukan dalam menghadapi tantangan yang tengah dihadapi umat Islam dalam konteks sosial dan keagamaan yang semakin kompleks. Meskipun begitu, perlu dilakukan filterisasi dan kontekstualisasi agar fakta-fakta yang terkandung dalam sirah tersebut sesuai dengan perkembangan kondisi, waktu, dan zaman.

Menurut lulusan doktoral Universitas Cape Town, Afrika Selatan, ini risalah yang dibawa Rasulullah SAW memiliki keistimewaan dibandingkan risalah nabi-nabi sebelumnya. Hal ini karena risalah yang dibawa Rasulullah SAW lebih bersifat universal dan mencakup berbagai dimensi kehidupan.

Jika merujuk pada risalah Nabi Adam AS hingga Nabi Saleh AS, kebanyakan kandungan sirahnya sangat terbatas, hanya mencakup keesaan Allah SWT. “Sebab, pada zaman tersebut hal yang sangat dibutuhkan adalah arahan dan petunjuk untuk meyakini keagungan Allah SWT,” kata Abdul Kadir dalam seminar nasional bertajuk “Keteladanan Sirah Nabawiyah dalam Konteks Kehidupan Sosial dan Keagamaan” yang digelar Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Senin (22/11). 

Terkait

Seiring berkembangnya zaman, mulai dari masa kenabian Nabi Ibrahim AS hingga Nabi Isa AS, persoalan yang terkandung dalam sirah mengalami perluasan konteks, mulai dari isu politik hingga sosial. Namun, cakupan objek sirah masih sangat terbatas, karena berfokus pada persoalan yang dialami umat para nabi tersebut, bukan secara universal. Maka dari itu, kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagai nabi sekaligus rasul terakhir, menyempurnakan sirah-sirah nabi dan rasul sebelumnya.

“Sebagai rasul terakhir, secara komparatif Nabi Muhammad lebih unggul dari nabi-nabi yang lain, begitu juga risalahnya yang dapat dikatakan lebih sempurna, karena bersifat universal dan mencakup kompleksitas persoalan yang terjadi dalam kehidupan,” ujar Abdul Kadir.

Kesempurnaan risalah Nabi Muhammad, menurut Abdul Kadir, membuatnya memiliki tawaran, walau bukan solusi, atas semua persoalan hidup. ‘’Saya menggunakan kata ‘tawaran’ karena pada dasarnya persoalan kehidupan terus berkembang dan semakin kompleks, maka tidak cukup jika hanya bersumber pada Alquran dan hadis sebagai solusi,” katanya.

Untuk menentukan suatu solusi atas persoalan yang terjadi, maka diperlukan keterlibatan ulama sebagai sambung-tangan dari sirah nabawiyah. “Ulama, yang menurut Rasulullah SAW sendiri merupakan penerus kenabian, bertugas untuk menafsirkan sirah nabawiyah dalam berbagai konteks yang sesuai dengan realitas sosial masyarakat,” katanya.

Pada forum yang sama, Presiden Direktur Mizan Group, Haidar Bagir, mengatakan, peran sirah nabawiyah sangat penting sebagai rujukan dalam mencari solusi atas segala persoalan yang terjadi di masyarakat. Meskipun begitu, tidak semua bahan sirah dapat diterapkan dalam persoalan yang ada, merujuk pada banyak analisis tentang sirah kenabian.

“Sirah harus ditinjau secara metodologis khususnya untuk literatur awal,” ujarnya merujuk pada //haathib lail//, sebutan bagi para pengumpul sirah yang kebanyakan hanya mengumpulkan tanpa menyeleksi kebenaran dan validitas sirah.

“Sirah-sirah awal ini harus lebih ketat penyeleksiannya karena sangat rentan kekeliruan.

Seiring berjalannya waktu, menurut Haidar, penulisan sirah mulai berpedoman pada metodologi yang terus diperbarui untuk menjamin validitas dan kelayakan sirah sebelum dimasukkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Filantropis lulusan Universitas Harvard, Amerika Serikat, ini menyarankan penyeleksian dan penerjemahan sirah nabawiyah secara paradigmatik yang berasas pada Alquran. Penerapan sistem paradigmatik ini, kata dia, dapat menjadi solusi dalam menyaring sirah dan hadis-hadis yang ‘tercecer’, sehingga tidak terjadi pertentangan dan kesalahan pemahaman.


×