Ilustrasi Mitratel | Youtube

Ekonomi

23 Nov 2021, 01:11 WIB

Mitratel Mulai Akuisisi Menara pada 2022

Melalui initial public offering (IPO), perseroan memperoleh dana segar Rp 18,79 triliun.

JAKARTA -- Anak usaha Grup Telkom, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel), resmi tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (22/11). Aksi korporasi ini disebut akan memperkuat posisi perseroan di industri tower atau menara. 

Bahkan, emiten bersandi saham MTEL ini pun siap merealisasikan rencana akuisisi tower pada tahun depan. Melalui aksi penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO), perseroan memperoleh dana segar Rp 18,79 triliun.

Perseroan melepas 23.493.524.800 lembar saham dengan nilai per lembar sahamnya dipatok Rp 800.

"Melalui IPO ini, Mitratel memperkuat posisinya sebagai The Best Tower Co In The Industry yang solid dan independen," kata Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko di Jakarta, Senin (22/11). Ia optimistis, ke depan prospek bisnis menara semakin positif.

Menurut Theodorus, kondisi pasar menara di Indonesia saat ini mengalami dinamika sangat positif didukung sejumlah kebijakan pemerintah, salah satunya terkait kebijakan yang memperbolehkan perusahaan asing berinvestasi di perusahaan tower

"Untuk akuisisi kita sudah mulai mempersiapkan, diharapkan bisa terlaksana pada 2022," kata Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama. Mitratel akan melakukan konsolidasi dan akuisisi guna mendukung pertumbuhan bisnis.

Mitratel akan melakukan akuisisi strategis portofolio menara berkualitas di Indonesia, terutama yang dimiliki operator telekomunikasi terkemuka di Indonesia. Menurut Hendra, perseroan menargetkan mengakuisisi 6.000 menara yang dibiayai dari dana IPO.

Selain itu, perseroan akan menggunakan sisa dana IPO untuk modal kerja dan kebutuhan lainnya, seperti peningkatan sistem teknologi informasi dan penerapan program pengembangan berkualitas untuk menara telekomunikasi.

Direktur Bisnis Mitratel Noorhayati Candrasuci menambahkan, perseroan telah menyusun sejumlah strategi untuk mendukung kinerja bisnis seusai IPO. Pertama, perseroan akan memperkuat posisi market leadership melalui pengembangan organik.

 

"Khusus terkait pengembangan organik ini kita akan meningkatkan tenancy ratio," kata Noorhayati. Kedua, Mitratel melakukan pengembangan secara nonorganik untuk mempercepat pertumbuhan pendapatan.

Pengembangan nonorganik ini, antara lain, dilakukan dengan akuisisi menara ataupun bisnis yang dapat memperkuat posisi Mitratel ke depan. Ketiga, Mitratel akan memiliki complementary business dengan mendukung infrastruktur digital, terutama 5G. 

Terakhir, perseroan melalukan efisiensi dari sisi operasional serta transformasi digital.

Pada perdagangan perdananya, saham MTEL dibuka stagnan pada level Rp 800. Saham MTEL sempat naik menyentuh level Rp 890, tetapi sesaat kemudian langsung trurun dan terkoreksi hingga 1,88 persen pada penutupan perdagangan sesi pertama. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Indonesia Stock Exchange (IDX) (indonesiastockexchange)

Antusias

Penguatan posisi Mitratel dalam industri menara juga didukung dengan masuknya investasi sovereign wealth fund (SWF) dari Indonesia dan internasional. Hal ini menunjukkan Mitratel memiliki rekam jejak kinerja baik dan potensi pertumbuhan yang tinggi pada masa datang. 

Dikutip dari laman resminya, Indonesia Investment Authority (INA) menyampaikan sangat antusias dapat berpartisipasi sebagai investor dalam IPO Mitratel. Langkah ini mempercepat pengembangan dan peningkatan kualitas infrastruktur digital, khususnya telekomunikasi.

"Kami juga menyambut baik GIC, Abu Dhabi Investment Authority (ADIA), dan Abu Dhabi Growth Fund (ADG) yang turut berpartisipasi dan kami yakin akan menambah nilai strategis bagi Mitratel," tulis manajemen INA. 

Perseroan menggunakan 40 persen dana hasil IPO untuk belanja modal organik, 50 persen untuk anorganik, dan 10 persen untuk modal kerja serta kebutuhan lain. Mitratel berencana berekspansi ke pasar Asia Tenggara dan Asia Pasifik. 


×