Karyawan beraktivitas di Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jakarta, Rabu (6/1). Juru Bicara Wakil Presiden RI Masduki Baidlowi mengatakan penyuntikan vaksin Covid-19 Sinovac akan dilakukan secara serentak setelah mendapatkan fatwa kehalalan dari fatwa | Republika/Thoudy Badai

Khazanah

22 Nov 2021, 08:28 WIB

Negara Ini Butuh MUI

MUI memiliki Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme.

JAKARTA — Tokoh agama Katolik Romo Antonius Benny Susetyo menegaskan, negara ini butuh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Menurut Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ini (BPIP), MUI selama ini aktif mengatasi radikalisme lewat fatwa-fatwanya. Romo Benny menjelaskan, MUI telah mengawal dan menjaga keutuhan bangsa Indonesia. 

“Jadi kita ini, negara ini butuh MUI. Karena MUI ini yang mengawal Pancasila, mengawal NKRI karena MUI secara aktif mengatasi radikalisme lewat fatwa-fatwanya,” ujar Romo Benny kepada Republika, Ahad (21/11). 

Densus 88 Antiteror Polri menangkap tiga orang yang disebut dengan aktivitas kelompok Jamaah Islamiyah (JI) di wilayah Bekasi pada Selasa (16/11). Tiga tersangka tersebut, yakni Ahmad Zain an-Najah, Farid Ahmad Okbah, dan Anung al-Hamat. Penangkapan Ahmad Zain an-Najah menyeret MUI karena yang bersangkutan merupakan anggota Komisi Fatwa MUI. MUI telah menonaktifkan Ahmad Zain an-Najah sebagai anggota Komisi Fatwa terhitung sejak hari ia ditangkap. Ditangkapnya Ahmad Zain pun menyulut wacana pembubaran MUI. 

Romo Benny menegaskan, penangkapan tersebut jangan lantas dinilai sebagai perbuatan organisasi. Menurut dia, kasus terorisme tersebut merupakan perbuatan oknum. “Jadi, gak perlu direspons berlebihan, karena tidak mungkin MUI itu bisa dibubarkan,” ujar dia.

Humas Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Philip Situmorang mengecam keras oknum tidak bertanggung jawab yang mengedarkan flyer bernada hasutan pembubaran MUI dengan mencatut nama PGI. Menurut dia, hubungan dan kerja sama antara MUI dengan PGI selama ini berjalan dengan baik. Philip pun meminta aparat mengawasi upaya menghasut dan memprovokasi ketegangan antar agama maupun kelompok berbeda identitas terkait dengan wacana pembubaran MUI tersebut. 

Ketua Kehormatan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Uung Sendana mengatakan, pihak-pihak yang mewacanakan pembubaran MUI sebenarnya juga kurang bijak. Dia pun mengutip peribahasa yakni “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Peribahasa ini dinilai cocok menggambarkan pemikiran para pengusung wacana pembubaran MUI tersebut. “Masak dengan satu orang melakukan begitu lalu orang ingin membubarkan MUI,” ujar dia.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Majelis Ulama Indonesia (muipusat)

Uung melihat wacana pembubaran MUI tersebut bukan sebagai agenda Islamofobia, melainkan MUI-fobia. Pandangan dan sikap yang mengandung prasangka, ketakutan, dan kebencian terhadap MUI. “Kita kan kadang kala kurang bisa menangkap dengan baik isu-isu yang seperti itu. Jadi, mungkin bukan Islamofobia kali ya, tapi MUI-fobia,” kata dia.

Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi menegaskan, MUI jelas dan tegas tidak mendukung terorisme. MUI justru memiliki satu lembaga baru dalam masa formatur kepemimpinan KH Miftachul Akhyar bernama Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme. MUI bahkan mengeluarkan fatwa menyatakan terorisme itu haram. "Artinya MUI tidak terlibat sama sekali di sini. Densus juga menangkap bukan karena mereka ini MUI, tidak ada hubungannya sama sekali," kata dia.

Islah menilai, penangkapan ini kembali membuktikan pemerintah tegas terhadap terorisme. Sikap itu penting karena terorisme sudah masuk ke berbagai lini kehidupan dan organisasi. Dia menjelaskan, oknum tersebut berusaha menyusup ke lembaga-lembaga resmi normatif seperti lembaga pemerintah.

Islah menyarankan agar MUI mulai melakukan koordinasi dalam menentukan pengurus harian maupun pengurus komisi-komisi. MUI perlu berkoordinasi dengan kepolisian, TNI maupun lembaga intelijen negara untuk menentukan pengurus yang bersih atau tidak terlibat dengan kelompok terorisme.


×