Achmad Syafiuddin PhD, akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya yang masuk jajaran Top 2 Percent Global | DOK IST
21 Nov 2021, 08:41 WIB

Evaluasi Dunia Riset Indonesia

Di Indonesia sampai sekarang terkesan bahwa universitas itu joinnya hanya dengan pemerintah.

Beberapa waktu lalu, rubrik “Hiwar” menghadirkan narasumber yakni seorang tokoh Muhammadiyah yang masuk dalam “Top 2 Percent World Ranking Scientists.” Masih mengenai senarai itu, bincang-bincang kali ini akan bersama seorang akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), yakni Achmad Syafiuddin PhD.

Daftar tersebut dipublikasikan dalam artikel “Data for Updated Science-Wide Author Databases of Standardized Citation Indicators” pada Oktober 2021. Isinya mengungkapkan daftar dua persen ilmuwan dunia yang karyanya paling sering dikutip dalam jurnal-jurnal bereputasi global.

Untuk tahun ini, Indonesia menyumbang nama 58 ilmuwan ke dalam daftar tersebut. Jumlah itu menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada 2020 lalu, ada 40 nama pakar dari berbagai lembaga riset dan perguruan tinggi di RI dalam list tersebut.

Menurut dosen Prodi Kesehatan Masyarakat Unusa ini, peningkatan dari tahun ke tahun itu hendaknya menjadi bahan evaluasi pula. Apalagi, Indonesia tidaklah sebanyak negara-negara lain dalam “menyumbang” nama para ilmuwan yang termasuk di sana.

Terkait

“Padahal, kita (Indonesia) punya ratusan ribu orang saintis. Yang paling krusial dan mesti diperbaiki adalah kesadaran dalam diri kita kaum ilmuwan. Jadi, kita tidak hanya sekadar riset,” kata alumnus IPB University ini.

Berikut hasil wawancara wartawan Republika, Muhyiddin beberapa waktu lalu dengan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unusa ini.

Apa yang ingin Anda katakan setelah masuk dalam daftar “Top 2 Percent World Ranking Scientist” tahun ini?

Saya cukup surprise karena baru balik ke Indonesia setahun yang lalu. Sebenarnya, saya dapat info itu dari teman. Setelah saya lihat, ternyata banyak sekali ilmuwan senior Indonesia di daftar itu. Mungkin sayalah satu-satunya yang paling junior, dan dari Unusa juga. Kampus ini baru delapan tahun berdiri.

Ya, alhamdulillah, suatu kebanggaan tersendiri bisa masuk di situ. Apalagi, peringkatnya cukup bagus juga kalau dibandingkan dengan saintis, misalnya, dari Unari (Universitas Airlangga) atau ITS (Institut Teknologi Sepuluh November).

Namun, masuk ke dalam daftar itu sebenarnya juga agak menjadi beban. Sebab, saya merasa, mungkin yang lebih hebat masih banyak. Prestasi ini juga menjadi semacam motivasi. Apa yang saya kerjakan harus dapat dipertanggungjawabkan pada masyarakat.

Berkaca pada tahun lalu, ada 40 ilmuwan RI yang masuk dalam daftar ini?

Dari segi kuantitas, mungkin bisa dikatakan ada peningkatan meskipun tidak begitu signifikan. Sebab, untuk tahun ini ada 58 ilmuwan Indonesia dalam daftar itu. Nah, kalau misalnya dibandingkan dengan Malaysia, tentu masih kalah jauh. Negara jiran menyumbang (dalam daftar itu) ratusan ilmuwan.

Apa yang kira-kira bisa dievaluasi dari dunia akademik Tanah Air bila melihat fakta demikian?

Kalau saya kira, tidak mengherankan bila “hanya” ada 58 ilmuwan yang masuk daftar itu. Padahal, kita (Indonesia) punya ratusan ribu orang saintis. Yang paling krusial dan mesti diperbaiki adalah kesadaran dalam diri kita kaum ilmuwan.

Ketika melakukan riset, harus dipikirkan apa-apa yang dikerjakan itu. Apakah riset kita punya kebaruan dan berkontribusi bagi perkembangan ilmu terkait. Jadi, tidak sekadar riset. Kalau indikator kebaruan dan kontribusi itu tidak ada, seolah-olah kita hanya mengerjakan yang sudah ada. Makanya, tidak akan dirujuk oleh penelitian-penelitian dari seluruh penjuru dunia.

Bagaimana caranya agar riset bisa mendapatkan atensi dari banyak pembaca?

Yang utama, riset itu harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kedua, harus ada dua hal tadi, yakni kebaruan dan kontribusi. Kalau semua itu sudah dilakukan, maka ketika menulis kita hanya perlu menyoroti apa-apa yang sudah dikerjakan. Para pembaca pasti mencari karya yang seperti itu.

Ketika mengadakan riset, saya sering cerita kepada teman-teman. Kalau mau publikasi, harus pikirkan juga tentang kebaruan. Sebab, dengan meneliti sesuatu yang menghasilkan kebaruan dan kontribusi, maka penelitian kita pun akan memiliki dampak.

Sayangnya, ada kesan bahwa kini teman-teman peneliti di Indonesia hanya riset untuk kepentingan publikasi atau memenuhi kewajiban sebagai seorang dosen. Lalu, impact-nya tidak ada. Maka, tak heran jika hanya 58 ilmuwan kita yang masuk dalam daftar ini.

Agar sebuah penelitian berdampak maslahat dan langsung bagi masyarakat?

Untuk melakukan riset yang punya impact itu harus dipikirkan jangka panjang. Kadang kala, itu membutuhkan biaya yang besar. Jika pemerintah hanya mengandalkan beberapa juta (rupiah), maka jangan berharap bahwa riset itu punya impact.

Karena itu, saya menyarankan, pertama-tama pemerintah harus memastikan semua kampus—atau beberapa kampus yang terpilih—mempunyai fasilitas yang cukup demi melakukan riset dan menghasilkan teknologi. Pemerintah juga harus memastikan kampus memiliki saintis yang cukup. Laboratoriumnya pun mesti dipastikan cukup baik untuk melakukan riset.

 
Pemerintah juga harus memastikan kampus memiliki saintis yang cukup. Laboratoriumnya pun mesti dipastikan cukup baik untuk melakukan riset.
 
 

Dan lagi, kalau di negara-negara luar itu, tidak semua kampus dipaksa riset. Misalnya, di Malaysia. Negeri jiran menggolongkan universitas jadi dua tipe, teaching university dan research university. Nah, yang harus didorong untuk riset ya research university ini.

Terkait dengan peran pemerintah?

Dari segi pendanaan, tentu negara melalui pemerintah harus hadir. Pemerintah juga harus mengajak industri untuk hadir sehingga bisa ada kerja sama dengan universitas. Sebab, keilmuan dan teknologi itu adanya di universitas.

Dalam hal ini, pemerintah seharusnya bisa menjembatani. Kalau, misal, universitas hanya bergantung pada pendanaan dari pemerintah, itu agak susah untuk dilakukan. Kalau penelitiannya hanya menerima dana Rp 10 juta, Rp 50 juta, atau Rp 100 juta, itu agak susah menghasilkan riset yang berdampak.

Yang jelas, triple helix ini mesti selaras, yaitu antara pemerintah, industri, dan saintis. Kalau kita melihat kondisi di negara-negara maju, tiga hal ini sudah terjalin efektif. Misal, ketika industri mempunyai problem, mereka datang ke universitas untuk mencari saintis.

Setelah menyampaikan masalahnya, saintis akan mencari solusinya. Tidak hanya itu. Pemerintah juga menjadi partner mereka. Misalnya, menyediakan aturan dan sebagainya.

Nah, di Indonesia sampai sekarang terkesan bahwa universitas itu joinnya hanya dengan pemerintah. Padahal, dana dari pemerintah sudah “dikeroyok” 250 juta orang Indonesia. Makanya, pendanaannya mungkin tidak akan cukup (untuk riset).

Dalam beberapa tahun terakhir, apa riset yang sedang Anda tekuni?

Sekarang, fokus saya di topik kesehatan lingkungan, khususnya dalam bidang manajemen atau penghapusan polusi air. Saya memilih fokus pada bidang ini. Sebab, ada beberapa problem krusial di beberapa negara berkembang yang terkait dengan hal itu.

Pertama, ketika musim hujan kita memiliki limpahan air yang sangat banyak. Bahkan, volumenya sampai meluber sehingga banjir. Problemnya, ketika musim kemarau tiba, kita justru kekurangan air. Di beberapa lokasi itu, akses terhadap air bersih menjadi kurang. Lantas, air kotor banyak sekali yang dimanfaatkan.

Makanya, saya fokus pada soal, bagaimana agar air-air kotor ini dapat dimurnikan. Bagaimana air-air limbah ini bisa digunakan kembali, minimal untuk yang tidak dikonsumsi dalam tubuh, semisal cuci baju, piring, atau mandi dan sebagainya.

Riset saya terkait teknik bioremediasi. Proses ini khususnya menggunakan bahan-bahan limbah, seperti tempurung kelapa sebagai sumber karbon aktif. Lalu, ada tempurung kelapa sawit yang kita jadikan karbon aktif juga untuk menghapus polusi di fase akhir. Harapannya, air dari proses ini bisa kita manfaatkan.

Target Anda kedepannya?

Pokoknya, ke depan saya akan lebih fokus meriset bidang itu. Insya Allah, sampai saya bisa hasilkan portable water treatment. Ini nantinya bisa dimanfaatkan masyarakat banyak. Dan, teknik yang saya bangun itu sangat simpel.

Target lainnya, meneruskan penelitian tentang manajemen air. Yang sedang saya bangun, bagaimana air hujan bisa dimanfaatkan. Sebab, umumnya air hujan itu jauh lebih bersih daripada air permukaan, seperti sungai, bendungan, dan sebagainya.

Air hujan yang jatuh di wilayah kita itu banyak sekali. Hujan tahunan kita lebih dari 1.500 mm per tahun. Di beberapa lokasi, malah lebih dari 2000 mm per tahun curah hujannya. Bahkan, di beberapa lokasi menjadi banjir.

 
Saya bermimpi, Indonesia nantinya bisa mempunyai satu lokasi yang mampu menerapkan Spons City Concept
 
 

Makanya, saya berpikir, mengapa semua air hujan itu tidak kita kumpulkan dan kemudian dimasukkan dalam treatment air demi keperluan kita?

Jadi, mimpi saya sebetulnya ada pada suatu konsep yang sekarang cukup populer di dunia, namanya Spons City Concept, Konsep Kota Spons. Di Cina, itu sangat berkembang. Sekarang, sistem tersebut sedang diadopsi oleh negara-negara maju.

Saya bermimpi, Indonesia nantinya bisa mempunyai satu lokasi yang mampu menerapkan Spons City Concept ini. Sebab, salah satu hal yang krusial dari konsep ini adalah kemandirian dalam penyediaan air bersih.

Kira-kira apa saja artikel karya Anda yang kerap dikutip komunitas akademik?

Karena pekerjaan saya fokus pada hal-hala yang di atas tadi, maka artikel saya yang paling banyak dikutip selama ini tentang hal itu juga. Artikel-artikel tentang itu banyak disitasi oleh peneliti di luar.

Tapi, kalau untuk saat ini yang paling disitasi itu masih banyak tentang pekerjaan saya di S-3, yaitu tentang bagaimana suatu silver nanopartikel itu menadi bahan polusi di air, kemudian menghapusnya.

Jadi, itu yang mash banyak disitasi. Tetapi pekerjaan-pekerjaan saya yang lainnya tentang bioremediasi juga cukup intensif dilakukan oleh beberapa peneliti di luar. Nanti bisa periksa langsung di Google Scholar. Masukkan nama saya, nanti akan keluar karya saya dan bisa dilihat mana yang paling banyak disitasi oleh komunitas akademik.

photo
Kampus Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. - (Dok Unusa)

‘Kampus NU Mesti Berbenah’

 

Sebagai salah satu ormas terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) selama ini lebih fokus untuk membangun pendidikan yang berbasis pesantren. Alhasil, jam’iyah yang didirkan KH Hasyim Asy’ari ini kadang kala dianggap “telat” dalam memerhatikan dunia perguruan tinggi.

Sejauh ini, beberapa kampus NU memang telah hadir di tengah masyarakat. Namun, tata kelolanya dirasa perlu lebih ditingkatkan lagi.

Hal itu diakui seorang akademisi Universitas NU Surabaya (Unusa) Achmad Syafiuddin PhD. Ilmuwan muda itu mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk saling mendukung. Kampus-kampus NU diharapkan terus lebih baik dan berprestasi.

Peraih gelar doktor dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) ini memandang, di antara seluruh kampus NU, barangkali ada dua yang lebih mengemuka. Yakni, Unusa dan Universitas Islam Malang (Unisma).

“Jadi, kuncinya adalah profesionalitas. Dan saya berharap, semua kampus NU di Indonesia segera berbenah, kemudian dikelola sebagai kampus yang profesional, supaya kita bisa berkembang bersama,” ujar Achmad Syafiuddin kepada Republika, beberapa waktu lalu.

 
Saya berharap, semua kampus NU di Indonesia segera berbenah, kemudian dikelola sebagai kampus yang profesional, supaya kita bisa berkembang bersama.
 
 

Dia pun membandingkan kampus NU dengan kampus-kampus yang berada di bawah naungan Muhammadiyah. Menurut dia, perguruan tinggi Muhammadiyah bisa lebih maju daripada universitas-universitas NU karena dikelola secara lebih pofesional.

“Muhammadiyah kan sudah lama di situ (dunia pendidikan tinggi).  Dan saya lihat, banyak sekali yang bagus karena mereka mengelolanya secara profesional,” ucapnya.

“Alhamdulillah, akhir-akhir ini saya melihat ada suatu keseriusan NU untuk terlibat di keilmuan-keilmuan yang sifatnya tidak agama. Saya melihat itu sebagai tren positif,” sambung lelaki kelahiran Pamekasan, 29 September 1988 ini.

Selain sibuk menjadi pembicara di berbagai seminar, Achmad Syafiuddin kini juga dipercaya sebagai Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) di Unusa. Sampai sekarang ia juga menjadi research fellow pada Universitas Malaysia Perlis (Unimap).

Ia menempuh pendidikan sekolah dasarnya hingga sekolah menengah atas di kampung halamannya di Pamekasan, Madura. Setelah itu, ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Institut Pertanian Bogor (IPB) dan meraih gelar Bachelor of Science. Pada masa ini lah ia memilih jalan hidup untuk menjadi seorang saintis.

“Pertama kali saya diperkenakan dalam dunia saintifik yang menurut saya sangat menarik adalah ketika saya semester lima di IPB. Kebetulan dosen pembimbing saya itu adalah Prof Husein Alatas, yaitu salah satu saintis cukup berpengaruh di IPB,” jelasnya.


×