Pengunjung mengamati karya seni yang dipamerkan dalam pameran bertajuk Tafsir Mimpi di Bentara Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, Ahad (16/6). Dalam buku Tafsir Mimpi Umar Khayyam, sang penulis menjelaskan pelbagai tafsir atas fenomena mimpi. | ANTARA FOTO

Kitab

21 Nov 2021, 01:05 WIB

Tafsir Mimpi Umar Khayyam: Menyingkap Makna Mimpi

Dalam buku Tafsir Mimpi Umar Khayyam, sang penulis menjelaskan pelbagai tafsir atas fenomena mimpi.

OLEH MUHYIDDIN 

Setiap orang pasti pernah bermimpi dalam tidurnya. Mimpi-mimpi tersebut dapat dialami dengan berbagai gambaran. Ada kalanya, fenomena yang disebut bunga tidur itu hadir sebagai sebuah situasi baik. Namun, sesekali ia berupa kesan-kesan buruk di alam bawah sadar.

Apa makna mimpi? Pertanyaan itu barangkali sama tuanya dengan kebudayaan. Islam sebagai agama yang secara komprehensif mengatur segala urusan manusia juga memiliki pandangan perihal mimpi.

Para ulama telah bersepakat tentang kebolehan seseorang untuk menceritakan mimpi. Bahkan, mimpi pun boleh saja ditakwilkan atau ditafsirkan maknanya. Bagaimanapun, dalam menafsirkan mimpi seorang Muslim perlu merujuk pada syariat. Jangan sampai upaya tersebut membuatnya jatuh pada kesesatan atau kemusyrikan.

Para sarjana Muslim pada abad klasik dan pertengahan telah menulis berbagai risalah tentang mimpi. Di antaranya ialah Umar Khayyam. Ilmuwan serba bisa dari abad ke-11 ini menulis buku berjudul Ta’bir al-Manam.

Selama ini, Umar Khayyam lebih dikenal sebagai seorang sastrawan, filsuf, matematikawan dan astronom sekaligus. Barangkali, sedikit yang mengenalnya sebagai seorang sarjana dengan fokus pada fenomena mimpi.

 
Umar Khayyam lebih dikenal sebagai seorang sastrawan, filsuf, matematikawan dan astronom sekaligus. Sedikit yang mengenalnya sebagai seorang sarjana dengan fokus pada fenomena mimpi.
 
 

Karena itu, Ta’bir al-Manam meneguhkan namanya sebagai “penafsir” mimpi dengan metode rasional-intuitif. Kitab tersebut muncul tujuh abad lebih dahulu daripada The Interpretation of Dreams-nya Sigmund Freud, yang digadang sebagai Bapak Ilmu Psikoanalisis.

Umar Khayyam lahir pada 439 Hijriah atau 1048 Masehi dengan nama Ghiyats ad-Din Abulfatah Umar bin Ibrahim Khayyami an-Naisaburi. Nama belakangnya itu merupakan penanda kota kelahirannya, yakni Nishapur, Khurasan—kini bagian dari Iran. Karyanya yang paling masyhur ialah Rubaiyat.

Dalam bidang sains, sosok yang berjulukan Hujjatul Haq (pembela kebenaran) itu dikenang antara lain berkat karyanya, kalender surya Jalali. Kalender ciptaannya itu terbukti lebih tepat dibanding dengan kalender Gregorian yang dipakai hingga sekarang oleh sebagian besar dunia internasional.

Dalam disiplin matematika, kiprahnya pun sangat mengemuka. Salah satu karyanya berjudul Al-Jabr. Buku tersebut membahas persamaan melalui urutan kubik, dengan menyelesaikannya secara geometris. Ia dipandang berhasil menyajikan sintesis antara aljabar dan geometri.

Mungkin saja, terlepas dari dunia sastra dan sains, nama Umar Khayyam tidak begitu dikenang sebagai penafsir mimpi. Ta’bir al-Manam menjadi penanda bahwa sang polymath pun menekuni fenomena bunga tidur.

 
Mungkin saja, terlepas dari dunia sastra dan sains, nama Umar Khayyam tidak begitu dikenang sebagai penafsir mimpi.
 
 

Karya itu telah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa. Edisi bahasa Indonesia dikerjakan antara lain oleh Penerbit Turos. Hasilnya berupa buku dengan judul Tafsir Mimpi Umar Khayyam. Sebelumnya, Ta’bir al-Manam pernah diterbitkan oleh Dar al-Rasyad. Sumber naskahnya disalin dari sebuah manuskrip tua yang disimpan oleh Dr al-Hifni.

Dalam karyanya ini, Umar Khayyam banyak mengeksplorasi jiwa insani dengan cara merefleksikan mimpi-mimpi. Perhatiannya tertuju pada masalah mimpi dan tafsirnya atas fenomena tersebut.

Di dalam risalah takwil mimpi Umar Khayyam, terdapat bab-bab yang secara spesifik menyoroti masalah-masalah tertentu. Misalnya, mimpi melihat matahari, planet, raja, lautan, kapal, dan lain-lain. Dengan demikian, pembahasannya cenderung tematis, yakni bergantung pada sudut pandang orang-yang-bermimpi.

Pembahasan buku ini dibagi menjadi 20 bab. Dalam setiap bab, Umar menafsirkan berbagai mimpi. Misalnya terkait mimpi melihat matahari yang jernih dan terang. Menurut dia, siapapun yang bermimpi demikian insya Allah akan mendapatkan kekuasaan besar dalam waktu dekat apabila ia memang berhak memilikinya.

Jika si pemimpi bukanlah orang yang berhak akan takhta, mimpinya itu menandakan bahwa dia akan segera bersahabat dengan raja-raja. Dijelaskannya pula tentang mimpi melihat matahari terbit dari rumah. Bunga tidur itu menandakan, si pemimpi akan mendapatkan banyak kebaikan.

Selain tema itu, Umar juga berupaya menafsirkan mimpi-mimpi, yakni melihat bulan, planet, awan, dan angin. Seseorang bermimpi melihat angin sedang membawa dirinya dari satu tempat ke tempat lain. Mimpi itu bisa jadi menandakan, ia akan menjadi sultan atau musafir.

Pada bab selanjutnya, buku ini membahas tafsir mimpi orang yang melihat dari ketinggian. Menurut Umar, orang yang bermimpi melihat dirinya sedang mendaki gunung dan berhasil melakukannya, itu menandakan bahwa sebentar lagi dirinya akan memperoleh kekuasaan yang besar.

photo
Melalui Tabir al-Manam, sarjana Muslim dari abad silam, Umar Khayyam, menjelaskan perihal tafsiran mimpi-mimpi. Kitab itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Tafsir Mimpi Umar Khayyam. - (DOK PRI)

Pengaruh Ibnu Sirin

Sosok yang bisa dipandang sebagai guru Umar Khayyam dalam menafsirkan mimpi ialah Ibnu Sirin (653-729 M). Ulama bernama lengkap Abubakar Muhammad bin Sirin al-Bashri itu memang dikenal luas sebagai penakwil mimpi yang paling masyhur pada masanya.

Dalam Ta’bir al-Manam, jelas sekali pengaruh Ibnu Sirin. Bahkan, urutan penyusunan risalahnya ini serupa dengan kitab karangan alim dari generasi tabiin tersebut.

Akan tetapi, perspektif Umar Khayyam dalam ilmu takwil mimpi adalah telaah psikologis. Mimpi-mimpi ditafsirkannya untuk menyingkap kepribadian seseorang. Menurut dia, mimpi adalah perekam atau semacam bentuk representasi dari perilaku. Karena itu, mimpi dapat dijadikan sarana untuk meneliti jauh kondisi dalam diri manusia.

Dalam pengantar terjemahan buku ini, Abdul Mun’im al-Hifni menjelaskan, Umar Khayyam memberi perhatian besar pada bahasa mimpi. Artinya, tokoh ini selalu berbicara dengan bahasa simbolik dalam tafsir mimpi yang disampaikannya.

photo
Tidur yang cukup dan berkualitas bisa didapatkan dengan menciptakan situasi yang mendukung. Menurut Umar Khayyam, mimpi adalah perekam atau semacam bentuk representasi dari perilaku. - (Freepik.com)

Dalam buku ini, Umar Khayyam juga mengutip berbagai tafsir dari gurunya, Ibnu Sirin. Menurut dia, Ibnu Sirin pernah memberikan tafsir mengenai orang yang bermimpi dirinya azan di masjid. Jika bermimpi melakukan azan dengan menghadap kiblat, itu menunjukkan bahwa dia akan menyimpang dari Sunnah.

Semantara, jika pada awalnya dia melakukan azan dengan menghadap kiblat lalu mengalihkan wajahnya dari arah kiblat, itu menandakan dia akan kufur kepada Allah Swt. Adapun mimpi berupa kiamat, takwilnya sama dengan mimpi azan.

Menurut Umar Khayyam, suatu ketika juga ada seorang lelaki yang mendatangi Ibnu Sirin lalu berkata, “Aku bermimpi melihat sekan-akan aku tertawa dalam shalatku.” Lalu sang penakwil pun berkata, “Engkau adalah orang yang sering main-main dalam shalatmu, hindarilah perbuatan seperti itu.”

Banyak mimpi-mimpi menarik lainnya yang ditafsirkan Umar Khayyam dalam buku ini. Misalnya, bermimpi melihat tangan sendiri yang mendapatkan seekor burung merpati. Orang yang mengalami mimpi demikian akan mendapatkan rezeki yang tak disangka-sangka. Dugaan lainnya, ia akan menikahi seorang perempuan yang dicintainya.

 
Perlu dipahami bahwa tidak semua mimpi dapat dijadikan sebagai petunjuk.
 
 

Kemudian, saat ada seseorang yang bermimpi melihat dirinya menyerang seekor ular, menunjukkan bahwa ada musuh yang berseteru dengannya. Adapun jika bermimpi melihat diri berenang lalu keluar dari tengah lautan, maka dia akan keluar dari bala atau kesedihan.

Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua mimpi dapat dijadikan sebagai petunjuk. Sebab, ada kemungkinan bahwa mimpi yang dialami bukanlah berasal dari Allah. Ia justru hadir karena bisikan setan. Kemungkinan lainnya, bisa saja seseorang terlalu sibuk memikirkan sesuatu sehingga hal yang dipikirkannya itu terbawa dalam mimpi.

Rasulullah Saw bersabda, “Mimpi itu terbagi menjadi tiga macam, yakni bisikan hati, ditakuti setan, dan kabar gembira dari Allah.” (HR Bukhari).

DATA BUKU:

Judul: Tafsir Mimpi Umar Khayyam (terjemahan atas Ta’bir al-Manam)

Penulis: Umar Khayyam

Penerbit: Turos Pustaka

Tebal: 205 halaman


×