Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) didampingi Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan (kiri) dan Sekjen PAN Eddy Soeparno (kanan) saat menghadiri kegiatan Workshop Nasional DPP PAN di Nusa Dua, Badung, Bali, Selasa (5/10/2021). Hari kedua Workshop Nasional DPP | ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/hp.

Ekonomi

18 Nov 2021, 03:56 WIB

BUMN Buat Event di G-20 2022

BUMN harus menjadi penyeimbang pasar.

JAKARTA — Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir bersama perusahaan-perusahaan pelat merah akan membuat kegiatan (event) dalam perhelatan G-20 pada tahun depan. Menurut Erick, adanya event tersebut bertujuan mengetahui kelemahan dan kekuatan BUMN.

"Ini yang saya harapkan di saat G-20 juga kita BUMN mesti berani maju dan benchmarking. Kita akan membuat event nanti di G-20 untuk benchmarking dengan negara lain,” kata Erick dalam acara Indonesia Human Capital Summits 2021 secara daring di Jakarta, Selasa (16/11).

Erick mengatakan, dengan mengetahui kelemahan dan kekuatan BUMN, nantinya kelemahan dapat diperbaiki. Mantan presiden klub Inter Milan itu ingin, BUMN menjadi penyeimbang pasar. 

"Kita harus pastikan kita sebagai penyeimbang pasar, kita bisa melakukan intervensi dan kita sudah lakukan hal tersebut saat pandemi Covid-19, kita lakukan intervensi," ujar Erick.

Selama pandemi Covid-19, Erick bersama BUMN sudah melakukan berbagai intervensi dalam rangka membantu dan meringankan beban masyarakat Indonesia. Mulai dari subsidi listrik, intervensi harga alat pelindung diri (APD), intervensi terhadap obat impor, mengatasi kelangkaan obat, hingga membagikan obat-obatan secara gratis kepada masyarakat.

Erick juga berencana memamerkan dan memaparkan Holding Ultramikro kepada BUMN-BUMN mancanegara dalam Pertemuan G-20 tahun depan. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Indonesia rencananya digelar di Bali pada 30-31 Oktober 2022.

"Kita belajar, kita lihat apa kelebihan dan kekurangan kita, tetapi salah satu kelebihan yang akan kita dorong bagaimana nanti Holding BUMN Ultramikro juga kita akan paparkan kepada BUMN-BUMN negara lain bahwa Indonesia beda,” kata Erick. 

Dalam memimpin Kementerian BUMN, Erick mendorong perusahaan pelat merah terus melakukan perubahan. Ia menilai, transformasi menjadi keharusan bagi BUMN agar tetap bertahan dan berkembang pada masa yang akan datang.

Menurut Erick, BUMN mau tidak mau harus mampu beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi. Ia meyakini, ketidakmauan berubah hanya akan membuat BUMN tertinggal, bahkan tergerus dengan perubahan yang ada.

Erick mencontohkan dinamika perubahan model bisnis di Amerika Serikat (AS) yang terus terjadi setiap 20 hingga 30 tahun sekali. Erick mengatakan, tujuh perusahaan teknologi kini menduduki peringkat teratas dalam daftar perusahaan terbesar di AS, hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya lantaran kerap didominasi perusahaan energi.

Erick juga mendorong BUMN terbuka bekerja sama dengan pihak mana pun, baik swasta maupun perusahaan internasional. Meski begitu, Erick ingin kerja sama juga harus memberikan keuntungan bagi BUMN. 

"Saya tidak antiasing. Saya menekankan BUMN untuk bekerja sama dengan siapa pun yang terbaik, mau individu, swasta, atau perusahaan asing, terbuka," ujar Erick.

Erick menekankan, kerja sama yang dilakukan BUMN harus berlandaskan proses bisnis yang baik dengan mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik. Ia ingin, kerja sama yang dijalankan BUMN harus berkontribusi nyata terhadap negara.

"Jangan sampai, market kita tidak dimanfaatkan untuk pertumbuhan ekonomi kita. Jangan sampai, market kita tidak dipakai untuk pertumbuhan ekonomi kita. Jangan sampai yang kerja nanti bukan kita," kata Erick.


×