Menteri BUMN Erick Thohir sedang mengisi daya kendaraan listrik di stasiun pengisian mobil listrik (charging station) di Denpasar, Bali, Sabtu (2/1/2021). | Dok Kementerian BUMN

Tajuk

18 Nov 2021, 03:10 WIB

Akselerasi Industri Kendaraan Listrik

Tentunya dibutuhkan tekad kuat agar pengembangan kendaraan listrik ini mewujud.

Pada medio September 2021 lalu, peletakan batu pertama pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik dimulai. Presiden Joko Widodo meresmikan groundbreaking PT HKML Battery Indonesia di Karawang, Jawa Barat.

Pabrik baterai senilai 1,1 miliar dolar AS itu merupakan yang pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Konsorsium Hyundai yang terdiri atas Hyundai Motor Company, KIA Corporation, Hyundai Mobis, dan LG Energy Solution bekerja sama dengan PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) yang akan mewujudkan pabrik baterai tersebut.

Pembangunan pabrik baterai ini merupakan bukti pemerintah serius mengembangkan hilirisasi industri. Dalam konteks ini industri yang berkaitan dengan bahan baku baterai dan pengembangannya.

Apalagi, kawasan industri pengolahan bijih nikel di daerah Maluku Utara telah dikembangkan. Kawasan industri tersebut diharapkan bisa menjadi rantai pasok bagi pengembangan baterai untuk kendaraan listrik.

Pengembangan kawasan industri ini akan menjadikan Indonesia tak lagi hanya berorientasi ekspor bijih nikel semata. Namun, industri pendukung bagi pengolahan bahan baku baterai bagi kendaraan listrik.

 
Kawasan industri tersebut diharapkan bisa menjadi rantai pasok bagi pengembangan baterai untuk kendaraan listrik.
 
 

Dengan harapan, ada nilai tambah dari bijih nikel yang ditambang dari bumi nusantara. Bijih nikel jika diolah menjadi sel baterai, nilainya bisa naik enam hingga tujuh kali lipat. Bila diolah hingga menjadi baterai mobil listrik, nilai tambahnya naik 11 kali lipat. Tentu efek ikutan inilah yang diharapkan sehingga berdampak pada peningkatan ekonomi nasional.

Ambisi menjadi produsen baterai bagi kendaraan listrik memang pantas direalisasikan dengan alasan nilai tambah tersebut. Merujuk  peta jalan, sebelum 2025 Indonesia sudah menjadi produsen baterai kendaraan listrik pantas didukung semua pihak.

Bila peta jalan ini dikawal serius, bukan tidak mungkin pada 2026 Indonesia bisa menguasai pasar ASEAN bagi produk baterai kendaraan listrik. Ekspansi kapasitas selanjutnya menjadi target sehingga bisa menjadi pemain global bagi produsen baterai kendaraan listrik pada 2027.

Rantai ekonomi dari hilirisasi industri ini jelas terbayang. Menciptakan nilai tambah ekonomi pada industri pertambangan dan energi nasional, yakni bijih nikel sebagai bahan utama pembuatan baterai kendaraan listrik.

Dilanjutkan dengan ekosistem industri kendaraan listrik yang menyertainya. Sudah kebayang penyerapan tenaga kerja yang terjadi pada industri ini.

 
Hilirisasi industri itu kini menemukan momentumnya. Sejumlah pabrikan otomotif berlombang-lomba mengembangkan mobil listrik.
 
 

Hilirisasi industri itu kini menemukan momentumnya. Sejumlah pabrikan otomotif berlombang-lomba mengembangkan mobil listrik. Selain faktor ramah lingkungan dan rendah emisi, kendaraan listrik juga hemat energi.

Saat meninjau pameran Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) di Indonesia Convention Exhibition Center, BSD City, Tangerang, Rabu (17/11), Presiden Joko Widodo mendorong produksi mobil listrik dan hybrid yang ramah lingkungan.

Dalam kesempatan itu, Presiden bahkan sempat menjajal salah satu mobil listrik pabrikan otomotif asal Jepang. Apa yang dilakukan Presiden mesti dibaca sebagai sinyal bentuk dukungan pemerintah dalam pengembangan kendaraan listrik.

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi G-20 di Bali pada tahun depan, pemerintah bisa memfasilitasi mobilitas peserta menggunakan kendaraan listrik.

Hal ini untuk menunjukkan komitmen Indonesia dalam melakukan transisi energi, dari kendaraan berbahan bakar fosil ke listrik. Selain juga memperlihatkan keseriusan Indonesia dalam mengurangi emisi global.

Tentunya dibutuhkan tekad kuat agar pengembangan kendaraan listrik ini mewujud. Insentif pajak yang berbasis emisi perlu dibuat kebijakannya guna memacu industri kendaraan listrik makin berkembang.

Pengembangan kendaraan yang ramah lingkungan harus diakselerasi sebagai bagian dari ikhtiar mengurangi dampak efek rumah kaca yang berkontribusi pada pemanasan global.


×