Ilustrasi daerah Sukawangi yang mengalami pergeseran tanah di Bogor. | ANTARA FOTO

Bodetabek

16 Nov 2021, 09:47 WIB

Pergeseran Tanah di Sukawangi Bencana Ulangan

Akses ke Sukawangi saat ini bukan lagi rusak, namun sudah putus.

Sebanyak 182 warga Kampung Cigadel, Desa Sukawangi, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor harus mengungsi lantaran rumahnya terdampak pergeseran tanah. Kejadian serupa sempat terjadi di kampung yang sama pada 19 tahun lalu, tepatnya pada 2002.

Kepala Desa Sukawangi, Budiyanto menuturkan kejadian pergeseran tanah dan longsor terjadi pada 2002 bahkan menyebabkan korban yang jauh lebih banyak. Budi menyebutkan, saat ini 182 warganya yang berasal dari 49 kepala keluarga (KK) masih mengungsi. Dengan bantuan yang terus berjalan, diperkirakan ratusan warga akan mengungsi selama sepekan ke depan.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, 41 rumah di kawasan tersebut terancam mengalami pergeseran. Bahkan akses jalan desa juga amblas sedalam 50 sentimeter. Dari 41 rumah tersebut, 49 KK berisi 182 jiwa harus diungsikan ke SDN Gunung Batu dan kampung lain.

Dari pantauan Budi, akses jalan ke lokasi kejadian saat ini bukan lagi rusak, namun sudah putus. Sehingga dia segera mengungsikan warganya ke tempat yang lebih aman sambil meminta bantuan logistik kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor.

“Kalau saya sih target saya dari pemerintah desa, kemungkinan kita amankan dulu sepekan. Kalau sepekan masih enggak bisa, gimana caranya kita harus update ke pimpinan, enggak bisa dibalikin lagi. Karena di bawah juga longsor terus jalannya,” kata Budi.

Tak hanya meminta bantuan logistik, kata dia, warga setempat juga harus siap untuk dialihkan lantaran pihaknya sudah menyiapkan lokasi untuk merelokasi warga.

“Sudah, sudah disiapkan untuk (lokasi) relokasinya. Lahannya enggak jauh dari situ (Kampung Cigadel),” ujar dia.

Kabid Kedaruratan dan Logistik pada BPBD Kabupaten Bogor, Aris Nurjatmiko, mengatakan, saat ini, Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor bersama warga setempat, melakukan pemantauan lokasi pergeseran tanah secara bergantian.

“Pemantauan tersebut dilakukan karena struktur tanah yang masih bergerak. Apabila hujan turun kembali di wilayah tersebut dikhawatirkan akan bertambah parah,” kata Aris

Kejadian pergeseran tanah itu diawali pada Kamis (11/11) malam sekitar pukul 20.00 WIB. Akibat kejadian itu, satu unit rumah berisi enam orang mengalami ambles sedalam 15 sentimeter.

Berlanjut pada Sabtu (13/11) sore, sambung dia, tanah kembali mengalami keretakan. Diperkirakan tanah yang retak dan mengancam rumah warga mencapai panjang sekitar 100 meter.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BPBD KABUPATEN BOGOR (bpbdkabbogor)

Jembatan retak

Sementara itu, kondisi jembatan yang menghubungkan Jalan Tanah Baru dan Jalan Kutilang, Kota Depok terlihat retak-retak dan sebagian permukaan jalannya sudah menurun seperti mau ambles dan longsor. Kondisi tersebut disebabkan hujan yang terus-menerus sehingga debit air meninggi dengan aliran air Kali Tanah Baru cukup kencang yang mengikis turap kali.

“Kondisi jembatan sangat berbahaya bagi pengguna jalan, terlihat jembatan sudah retak-retak dan permukaan jalan menurun, seperti tanda-tanda mau longsor," ujar Haryanto, seorang warga Jalan Kutilang, Perumnas Depok Satu, Pancoran Mas, Kota Depok.

Haryanto melanjutkan, sebenarnya sebagian turap di dekat jembatan yang menghubungkan wilayah Tanah Baru dan Pancoran Mas tersebut sudah longsor tergerus air. "Warga berharap, sebelum terjadinya longsor dan mencegah adanya korban sebaiknya segera diantisipasi dengan perbaikan," kata dia.

Lalu lintas di jembatan tersebut cukup ramai dan saat ini, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok setelah menerima laporan warga sudah melakukan pengecekan dan memasang safety line atau garis aman di titik jalan yang permukaannya turun.

"Segera kami lakukan perbaikan," kata Plt Kepala Dinas PUPR Kota Depok, Citra Indah Yulianti.


×