Rombongan pejabat Badan Usaha Milik Daerah PT Pembangunan Aceh (PEMA) dan PT Alpine Green meninjau lokasi Kawasan Industri Aceh (KIA) di desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Jumat (12/11/2021). Badan Usaha Milik Daerah, PT PEMA | ANTARA FOTO/Ampelsa

Ekonomi

16 Nov 2021, 08:50 WIB

Industri dan Perdagangan Semakin Menggeliat

Surplus perdagangan pada bulan lalu tertinggi sepanjang sejarah.

JAKARTA – Nilai impor selama Oktober 2021 mencapai 16,29 miliar dolar AS. Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan, nilai impor tersebut mengalami kenaikan 51,06 persen dibandingkan Oktober 2020. Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, kinerja impor tersebut memberikan sinyal positif terhadap geliat industri dalam negeri.

"Kenaikan impor ini didorong oleh adanya permintaan dari industri karena yang terbesar itu impor bahan baku," kata Margo dalam konferensi pers, Senin (15/11).

Meski importasi meningkat, kinerja perdagangan Indonesia masih mampu mencatatkan surplus sebesar 5,73 miliar dolar AS pada Oktober 2021. BPS mencatat, surplus pada bulan lalu tertinggi sepanjang sejarah.

Margo mengatakan, capaian surplus dagang Indonesia kali ini merupakan yang ke-18 secara berturut-turut. Komoditas utama yang menyumbang surplus dagang di antaranya bahan bakar mineral, lemak, dan minyak hewan nabati, serta besi dan baja.

Negara mitra dagang Indonesia penyumbang surplus terbesar, yakni perdagangan Amerika Serikat (AS) yang mencetak surplus 1,72 miliar dolar AS. Hal itu diikuti Cina dengan surplus 1,3 miliar dolar AS, serta Filipina yang surplus 685,7 juta dolar AS. Secara kumulatif, sepanjang Januari-Oktober 2021 tercatat surplus 30,81 miliar dolar AS. Capaian surplus tersebut juga merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Kinerja ekspor juga mengalami capaian positif. BPS menyampaikan, nilai ekspor nasional sepanjang Oktober 2021 tembus 22,03 miliar dolar AS. Tingkat ekspor bulanan itu juga merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah.

Margo menjelaskan, nilai ekspor pada Oktober lalu mengalami kenaikan 6,89 persen dibandingkan posisi September 2021 (month to month/mtm). Angka itu juga meningkat signifikan dibandingkan Oktober 2020 (year on year/yoy) sebesar 53,35 persen. Nilai ekspor migas pada Oktober mencapai 1,03 miliar dolar AS sementara ekspor nonmigas sebesar 21 miliar dolar AS.

Ia menekankan, tren kenaikan ekspor saat ini utamanya karena faktor permintaan yang cukup besar. Hal itu disumbang oleh permintaan ekspor bahan bakar mineral ke Cina, India, dan Malaysia. Selain itu, ekspor lemak dan minyak hewan nabati serta besi dan baja ke Cina turut mendongkrak kinerja ekspor.

Secara terpisah, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memperkirakan surplus neraca perdagangan tahun ini akan tembus hingga 30 miliar dolar AS. "Kalau konsisten pada kuartal terakhir ini, (surplus) kita akan tembus 30 miliar dolar AS. Pertama kali dalam sejarah," kata Lutfi.

Lutfi mengatakan, tingginya capaian surplus itu dipengaruhi oleh harga komoditas yang tinggi di level global. Itu terjadi karena adanya faktor //supercycle// harga komoditas yang terjadi akibat pandemi Covid-19. Indonesia sebagai pengekspor komoditas diuntungkan dengan adanya lonjakan harga komoditas di level dunia.

Deputi Bidang Koordinasi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir, mengatakan, peningkatan harga-harga komoditas dunia dalam beberapa waktu terakhir terus mengalami kenaikan. Ekspor komoditas dari Indonesia pun turut merasakan dampaknya.

"Saat penerapan PPKM, Indonesia memasukkan ekspor sebagai komoditas esensial sehingga sektor ekspor bisa terus bekerja dan implikasinya menjadi lancar dan meningkat," kata Iskandar.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Badan Pusat Statistik (bps_statistics)

BPS pun mencatat, salah satu peningkatan harga tertinggi terjadi pada komoditas minyak mentah Indonesia (ICP). ICP tercatat naik 13,3 persen dari 72,2 dolar AS per barel pada September 2021 menjadi 81,8 dolar AS per barel pada Oktober.

Komoditas nonmigas juga mengalami kenaikan harga. Harga batu bara, misalnya, tercatat naik 27,58 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Begitu pula minyak kernel dan minyak sawit masing-masing naik 26,62 persen dan 10,62 persen. Di sisi lain, Iskandar mengatakan, peningkatan ekspor signifikan yang berhasil memberikan surplus dagang ini tidak lepas dari pemulihan ekonomi dunia yang lebih cepat dari perkiraan.

Direktur Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, mengatakan, surplus dagang bulan lalu lebih dominan didorong oleh peningkatan ekspor yang mencetak rekor. Sementara itu, nilai impor yang sebesar 16,29 miliar dolar AS cenderung stagnan dari bulan-bulan sebelumnya.

"Ini cukup sehat, karena memang dorongan situasi global yang penuh ketidakpastian sehingga banyak negara yang ingin memastikan kebutuhan industrinya terpenuhi di saat mulai tumbuh," kata Tauhid.


×