Pekerja menata jeriken minyak goreng di agen penjualan minyak goreng di Jakarta, Senin (1/11). Harga minyak goreng di tingkat konsumen dalam beberapa waktu terakhir mengalami kenaikan signifikan. Kemendag menyampaikan, kenaikan yang dirasakan masyarakat a | Prayogi/Republika.

Ekonomi

16 Nov 2021, 08:46 WIB

Mendag Minta Industri Bantu Penyediaan Minyak Goreng

Pengusaha berkomitmen menggelontorkan 11 juta liter minyak goreng demi meredam kenaikan harga.

BANDUNG – Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengimbau pelaku industri untuk ikut serta bersama pemerintah dalam mengendalikan kenaikan harga minyak goreng. Salah satu upaya yang bisa dilakukan, yakni memberikan stok penyangga atau buffer stock sehingga kenaikan harga komoditas tersebut tidak memberatkan masyarakat.

"Kita imbau kepada industri untuk memberikan buffer stock supaya kenaikannya tidak memberatkan masyarakat," ujar Muhammad Lutfi usai memimpin Rakornas Barang Kebutuhan Pokok Jelang Natal dan Tahun Baru 2022 di Bandung, Jawa Barat, Senin (15/11).

Lutfi mengatakan, stok minyak goreng saat ini aman. Dia menyebut, pasokan mencapai 624 ribu liter dan jumlah tersebut cukup untuk kebutuhan selama 1,5 bulan. Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak goreng beberapa waktu lalu dipicu kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar internasional.

"Permasalahannya bahwa feed stock-nya, asalnya dari CPO kalau dulu berbasiskan 500 sampai 700 dolar AS, saat ini sudah sampai di angka 1.250 dolar AS," katanya.

Lutfi mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pelaku industri minyak goreng untuk mengatasi kenaikan harga di pasar. Pelaku industri berkomitmen akan menggelontorkan 11 juta liter minyak goreng demi meredam kenaikan harga tersebut.

"Jadi, 11 juta liter sudah digelontorkan dan dalam masa pengiriman. Mudah-mudahan dalam pekan ini sudah bisa sampai pengirimannya," kata Lutfi.

Selain minyak goreng, kata Lutfi, komoditas lain yang sedang menjadi sorotan adalah telur ayam ras dan cabai merah. Untuk telur ayam ras, harga komoditas ini sempat anjlok, tapi mulai bergerak naik dalam beberapa waktu terakhir. Meski begitu, kenaikan ini menurutnya masih wajar mengingat ongkos dari petelur mencapai Rp 19 ribu sampai Rp 21 ribu.

“Harga yang wajar Rp 24 ribu. Kita mesti memaklumi bahwa kita harus hidup berdampingan dan kita harus menjaga petani telur ini,” katanya.

Komoditas lain yang mengalami kenaikan harga adalah cabai. Menjelang Natal dan tahun baru, harganya terpantau sudah naik 15 persen karena faktor musim penghujan. Pengaruh cuaca ini otomatis membuat harga cabai naik. Akan tetapi, di sejumlah daerah, pihaknya mendapatkan laporan stok di daerah aman hingga 1,5 bulan untuk kebutuhan Natal dan tahun baru.

“Jadi, cabai ini masalahnya dari siklus cuaca yang biasanya kering kemudian basah dan memengaruhi harga cabai,” katanya.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan mengatakan, kenaikan harga minyak goreng paling tinggi ada di komoditas minyak goreng curah. Menurutnya, minyak goreng curah memiliki kelemahan daya tahan yang pendek. Ini berbeda dengan minyak goreng kemasan yang bisa bertahan selama satu tahun.

Kondisi daya tahan yang pendek itu membuat harga minyak goreng curah sangat bergantung pada pergerakan harga CPO. Oleh karena itu, pemerintah bersama industri berupaya melakukan stabilisasi dengan memasok minyak goreng kemasan khusus dengan harga Rp 14 ribu per liter. Kemendag juga menyiapkan strategi agar penyaluran minyak goreng kemasan khusus itu tepat sasaran.

“Tidak bisa diborong. Kalau diborong minyak yang harganya murah digunting kemudian jadi minyak curah dan dijual jadi Rp 16 ribu,” katanya.


×