Ahmad Syafii Maarif | Daan Yahya | Republika
16 Nov 2021, 03:45 WIB

Ekonomi Syariah dan Permasalahannya (II)

Asal dilakukan dengan cermat dan rendah hati, tidak mustahil sistem ekonomi syariah bisa punya hari depan cerah.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Sengaja saya kemukakan latar belakang sejarah ini untuk mengingatkan penggagas sistem ekonomi syariah untuk lebih berhati-hati dalam kerja mengusung proyek “mewah”, dengan mengataskan agama itu.

Asal dilakukan dengan cermat dan rendah hati, tidak mustahil sistem ekonomi syariah bisa punya hari depan cerah, sekalipun dunia Muslim sekarang lagi berada pada tingkat peradaban yang rendah dan lemah.

Ibn Khaldun menulis karya monumentalnya juga pada saat dunia Muslim sedang kacau balau dilanda perpecahan teramat parah untuk akhirnya daerah kekuasaannya di Eropa lenyap sama sekali, direbut pihak lain.

Terkait

Peninggalan monumen-monumen kebesaran itu masih bisa disaksikan sampai sekarang. Teori Ibn Khaldun dapat dibaca dalam al-Muqaddimah yang terkenal itu.

Ibn Khaldun, misalnya, mengutip  al-Isra ayat 16, yang artinya: “Dan bilamana Kami ingin menghancurkan sebuah kota, Kami suruh orang-orang yang bergelimang dalam kemewahan yang serba melampaui batas itu [untuk mengikuti perintah Kami], tetapi mereka durhaka, maka pantaslah menerima azab, lalu Kami hancurkan sehancur-hancurnya.”

 
Dengan hati gelisah, Ibn Khaldun harus mengutip ayat di atas karena memang seperti itulah realitas getir yang berlaku di Andalusia, Afrika Utara, dan di Asia Barat Daya pada abad-abad kejatuhan itu.
 
 

Dengan hati gelisah, Ibn Khaldun harus mengutip ayat di atas karena memang seperti itulah realitas getir yang berlaku di Andalusia, Afrika Utara, dan di Asia Barat Daya pada abad-abad kejatuhan itu.

Imperium Muslim sedang bergumul dengan detik-detik kejatuhan, karena sudah lupa daratan dan lupa lautan. Agama hanya menjadi serimoni tanpa roh.

Sebelum mengutip ayat ini, Ibn Khaldun menulis, “Manakala kerusakan sudah meluas di kota dan di lingkungan umat, maka Tuhan membunyikan lonceng kehancuran dan kematiannya.” (Lih Ibn Khaldun, Al-Muqaddimah. Al-Qahira: Musthafa Muhammad, tt, hlm. 373).

Dalil agama diberikan kemudian setelah fakta sejarah dikemukakan. Tidak dibalik, dalil mendahului fakta. Di sinilah terletak segi ilmiah al-Muqaddimah. Amat disayangkan, bumi Muslim pasca-Ibn Khaldun mandul untuk melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar, bahkan sampai hari ini.

Kita kembali kepada pokok bahasan. Dalam Alquran surah al-Maidah ayat 66 terbaca maknanya seperti berikut: “Dan sekiranya mereka menjalankan [ajaran] Taurat dan Injil dan apa-apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, niscaya mereka akan mendapat makanan (rezeki) dari atas mereka dan dari bawah kaki-kaki mereka. Sebagian mereka adalah umat yang adil, moderat (ummatun muqtashidah), tetapi kebanyakan mereka melakukan perbuatan buruk.”

 
Dalil agama diberikan kemudian setelah fakta sejarah dikemukakan. Tidak dibalik, dalil mendahului fakta. Di sinilah terletak segi ilmiah al-Muqaddimah
 
 

Sekalipun ayat ini menyangkut perilaku umat Yahudi dan Nasrani, umat Muslim pun terikat  ketentuan itu. Karena wahyu itu merupakan satu kesatuan yang intinya berpusat pada tauhid dan implikasinya di muka bumi dalam bentuk tegaknya keadilan dan prinsip persamaan.

Radius keadilan ini menjangkau ranah ekonomi, politik, dan terbukanya kesempatan yang sama bagi semua manusia untuk mengembangkan potensi dirinya sejauh mungkin. Di bawah kekuasaan oligarki Quraisy pra-Islam, kesempatan semacam ini tertutup rapat. Semuanya dimonopoli elite suku itu.

Ketimpangan sosial ekonomi inilah yang kemudian ingin diubah secara radikal oleh Nabi Muhammad SAW, dengan mengibarkan bendera keadilan dan persamaan. Maka tidak pelak lagi elite Quraisy merasa dipojokkan karena hak-hak istimewanya akan runtuh dengan sendirinya oleh gerakan Muhammad itu.

Ujungnya, Muhammad dan para pengikutnya yang setia, tetapi berjumlah kecil itu, harus hijrah meninggalkan Makkah untuk sementara. 

Namun, pada satu ketika kota itu harus direbut, karena memang di sanalah terletak Ka’bah, pusat ibadah warisan Nabi Ibrahim dan Ismail yang dalam perjalanan waktu telah dipenuhi berhala.

Sekalipun dari Kota Madinah strategi perjuangan itu dirancang untuk merebut Makkah, pusat spiritual umat beriman sedunia tetaplah di kota tempat berdirinya Ka’bah.

 
Perjalanan sejarah Muslim ini penuh darah dan air mata, karena rupanya itulah sunatullah yang harus dijalani. Sekiranya Tuhan berkehendak, Muhammad tidak perlu patah giginya dalam peperangan Uhud.
 
 

Sekiranya elite Quraisy bersikap ramah kepada Muhammad, Kota Makkah tidak perlu ditinggalkan. Namun, inilah jalan sejarah yang harus dilalui dengan segala penderitaan dan kerja keras. Dan di ujung penderitaan itulah, kemenangan yang dijanjikan itu didapatkan.

Perjalanan sejarah Muslim ini penuh darah dan air mata, karena rupanya itulah sunatullah yang harus dijalani. Sekiranya Tuhan berkehendak, Muhammad tidak perlu patah giginya dalam peperangan Uhud.

Namun, itu bukan pilihan yang diberikan kepada nabi dan rasul terakhir itu. Dia harus merasakan sendiri bagaimana pahitnya perjuangan menegakkan keadilan dan prinsip persamaan itu di muka bumi yang satu ini.

Keadilan ekonomi dalam ajaran Islam menempati posisi utama. Tanpa tegaknya keadilan ekonomi dalam masyarakat, orang akan sia-sia belaka menggagas sistem ekonomi dan lembaga-lembaga keuangan lainnya dengan label syariah.

Karena itu, seperti telah disinggung di depan, cita-cita besar ini mestilah dikerjakan bersama-sama melalui apa yang disebut ijtihad kolektif oleh para pakar yang paham agama secara mendalam dan paham pula dunia kontemporer yang jauh dari suasana adil.

Jeritan Iqbal seperti dikutip di atas adalah lensa buram tentang betapa rapuhnya posisi kelompok, yang mengaku ahli agama dalam mengurus dunia yang semakin rumit ini. 


×