IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika
15 Nov 2021, 03:51 WIB

Agama Baru yang Ditolak Al Azhar

Dalam pidatonya, pemimpin tertinggi Al Azhar itu langsung menyerang pembentukan Agama Abraham.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Ada agama baru, namanya ad Diyanah al Ibrahimiyah atau ad Dien al Ibrahimi alias Agama Abraham. Saya sengaja menggunakan Abraham, bukan Ibrahim.

Agama Abraham, tak ada hubungannya dengan agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim AS dulu, sebelum datangnya agama Yahudi, Nasrani, dan Islam.  Agama Abraham menyatukan tiga agama samawi tadi dalam satu agama.

Agama baru ini bermula dari pernyataan mantan presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pada 13 Agustus 2020, ia — ketika itu masih presiden — menyebut normalisasi hubungan Israel-UEA sebagai Abraham Accord atau Kesepakatan Abraham.

Terkait

Nama ini kembali digunakan Trump untuk menyebut normalisasi hubugan Israel dan Bahrain pada 11 September 2020, Israel dan Sudan pada 23 Oktober 2020, serta Israel dan Maroko pada 10 Desember 2020.

Sejak kesepakatan Israel-UEA, lantas diikuti sejumlah negara Arab lain, muncul suara di kalangan intelektual AS terutama dari Peace Islands Institute, menyerukan agar negara Arab segera menormalisasi hubungan dengan negara Yahudi itu.

Normalisasi ini mereka sebut perwujudan penyatuan tiga agama samawi di bawah satu agama yang mereka katakan Agama Abraham. Tujuannya, membentuk negara konfederasi di bawah satu agama yang menyatukan bangsa di Timur Tengah, di bawah komando Israel.

 
Normalisasi ini mereka sebut perwujudan penyatuan tiga agama samawi di bawah satu agama yang mereka katakan Agama Abraham.
 
 

Suara pembentukan agama baru muncul sporadis, hingga dibedah Sheikh Akbar Al Azhar Mesir, Prof Dr Sheikh Ahmad Tayeb. Dalam peringatan 10 tahun pendirian Bait al ‘A-ilah al Misriyah (Rumah Keluarga Mesir) pada 8 November, dalam pidatonya, pemimpin tertinggi Al Azhar itu langsung menyerang pembentukan Agama Abraham.

Menurutnya, pembentukan agama baru justru merampas kebebasan berkeyakinan, beriman, dan memilih. Ia menekankan, mustahil menyatukan umat manusia dalam satu agama.

Ia menjelaskan, ada perbedaan antara menghormati dan mengakui keyakinan orang lain. Menghormati tidak berarti menghilangkan perbedaan keyakinan dan akidah antara satu agama dan lainnya.

‘Rumah Keluarga Mesir’ bermarkas di perkantoran Sheikh Al Azhar di Kairo. Lembaga ini dipimpin Sheikh Al Azhar dan Paus dari Gereja Ortodoks Mesir. Tujuannya, memastikan kerukunan antarumat beragama dan mencegah konflik sektarian di Mesir.

Sheikh Al Azhar mengawali pidatonya dengan mengatakan, ada sebagian orang berupaya memunculkan keraguan hubungan persaudaraan Islam dan Kristen. Mereka membawa ide mencampuradukkan dua agama dan menghilangkan perbedaan.

 
Menghormati tidak berarti menghilangkan perbedaan keyakinan dan akidah antara satu agama dan lainnya.
 
 

Seperti yang sedang ngetren dengan pembentukan agama baru, Agama Abraham, yang tampaknya ingin menyatukan Kristen, Yahudi, dan Islam dalam satu agama untuk menghilangkan akar konflik.

Ia mempertanyakan maksud pembentukan agama baru itu, apakah untuk kerja sama antarpemeluk agama dengan membawa nilai mulia agama masing-masing atau pembentukan agama baru yang belum jelas warna, rasa, dan baunya.

Sheikh Al Azhar menjelaskan, agama baru tampak di permukaan mempersatukan umat manusia dan menghapus penyebab perselisihan dan konflik tetapi sejatinya mengekang kebebasan berkeyakinan, beragama, dan kebebasan memilih.

"Menyatukan umat manusia dalam satu agama adalah mustahil, tak sesuai fitrah yang diciptakan Tuhan untuk manusia," jelas Tayeb. Jadi, lanjutnya, "Menghormati kepercayaan orang lain adalah satu hal, dan kepercayaan terhadapnya adalah hal lain."

Seperti biasanya, yang disampaikan Sheikh Tayeb menjadi trending topic di media sosial. Media utama di Timur Tengah (Timteng) seperti Aljazirah, al Sharq al Awsat, BBC Arabic, Al Ahram, mengupasnya. Media-media inilah sumber tulisan ini.

Sejumlah pengamat di Timteng mendukung Sheikh Al Azhar. Menurut mereka, pembentukan agama baru itu tak jauh dari politik di Timur Tengah, yakni normalisasi hubungan Israel-negara Arab, konflik Israel-Palestina, dan pembangunan permukiman Yahudi di daerah pendudukan.

Agama baru yang dirancang, digerakkan, dan didanai lembaga-lembaga Zionis internasional berikut para akademisinya, persis seperti gerakan mereka ketika mendirikan negara Israel di tanah air Palestina.

 
Agama baru yang dirancang, digerakkan, dan didanai lembaga-lembaga Zionis internasional berikut para akademisinya, persis seperti gerakan mereka ketika mendirikan negara Israel di tanah air Palestina.
 
 

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya teringat pandangan almarhum Abah Hasyim —KH Hasyim Muzadi, mantan ketua umum PBNU. Dalam kerja sama menciptakan harmonisasi hubungan antarpemeluk agama, carilah kesamaan dan bukan perbedaannya.

Setiap agama, menurut Abah, memiliki perbedaan dan kesamaan. Perbedaan itu, antara lain, menyangkut akidah, keyakinan, dan ritual keagamaan. Sedangkan kesamaan, di antaranya, muamalah, semisal muamalah mengisi kemerdekaan dan membangun bangsa.

Bagi umat Islam, kata Abah, Islam agama paling benar. Namun, pada waktu yang sama, mereka harus menghormati orang beragama berbeda, yang meyakini agamanyalah yang benar.

Jadi, kalau tujuannya menciptakan kerukunan umat beragama di Timteng atau tempat mana pun, tak perlu membentuk agama baru, ad Diyanah al Ibrahimiyah alias agama baru apapun, cukup melaksanakan ‘fatwa’ Sheikh Al Azhar dan almarhum Abah Hasyim.


×