Prof Agus Setyo Muntohar dari UMY. Dosen Fakultas Teknik Sipil itu termasuk jajaran Top 2 Percent World Ranking Scientists untuk tahun ini. | DOK IST
14 Nov 2021, 08:21 WIB

Menjadi Saintis Rujukan

Prof Agus Setyo Muntohar mengungkapkan beberapa kiat dalam menjadi saintis rujukan.

 

“Top 2 Percent World Ranking Scientists” rutin disiarkan tiap tahun. Pada Oktober 2021, para peneliti dari Stanford University merilis kajian bertajuk “Data for Updated Science-Wide Author Databases of Standardized Citation Indicators.”

Isinya mengungkapkan daftar dua persen ilmuwan dunia yang karyanya paling sering dikutip dalam jurnal-jurnal bereputasi global. Untuk tahun ini, Indonesia menyumbang nama sebanyak 58 ilmuwan ke dalam daftar tersebut.

Jumlah itu menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada 2020 lalu, ada 40 nama pakar dari berbagai lembaga riset dan perguruan tinggi di Indonesia dalam list tersebut.

Terkait

Kabar itu disambut gembira Prof Agus Setyo Muntohar ST MEngSc PhD (Eng). Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu termasuk dalam daftar “Top 2 Percent” untuk tahun ini.

Saintis kelahiran Purworejo, Jawa Tengah tersebut tidak hanya diakui telah menghasilkan penelitian berkualitas. Berbagai risetnya juga sering dikutip dalam banyak jurnal ilmiah internasional. “Saya bersyukur atas apa yang sudah diberikan Allah kepada saya,” katanya mengomentari pencapaian ini.

Akademisi yang juga aktif dalam Persyarikatan Muhammadiyah itu mengungkapkan beberapa kiat dalam menjadi seorang saintis rujukan. Di antaranya, seorang periset haruslah memerhatikan rumpang (gap) dari penelitian-penelitian sebelumnya dalam dunia ilmu yang ditekuninya.

“Riset harus mengisi gap sehingga bisa berkontribusi nyata,” imbuhnya.

Berikut petikan wawancara wartawan Republika, Muhyiddin, beberapa waktu lalu dengan alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini.

Selamat atas pencapaian Anda, yakni termasuk dalam daftar “Top 2 Percent World Ranking Scientists” menurut data yang rilis Oktober 2021. Bagaimana Anda melihat prestasi ini?

Saya bersyukur atas apa yang sudah diberikan Allah kepada saya. Sebab, semua itu terjadi atas izin-Nya. Dan saya terus berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada umat dan bangsa.

photo
Menurut Prof Agus Setyo Muntohar, salah satu kiat dalam menulis karya ilmiah ialah bahwa road map penelitian yang digunakan haruslah mengisi rumpang dari riset-riset sebelumnya. - (DOK IST)

Sekitar 58 ilmuwan Indonesia masuk daftar tersebut. Bila dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 40 ilmuwan, apakah fakta ini menunjukkan peningkatan dunia akademik Tanah Air?

Saya pikir, belum bisa menjadi tolok ukur peningkatan akademik secara signifikan. Namun, kita semua berproses menuju itu. Kenaikan dari 40 menjadi 58 orang itu masih sedikit sekali. Artinya, kontribusi peneliti dan dosen Indonesia yang jumlahnya ratusan ribu orang itu baru nol sekian persen.

Belum ada kesadaran masif bahwa di dunia akademik, penelitian itu sebuah hal yang penting bagi seorang dosen. Saya melihat, saat ini kebutuhan penelitian dan publikasi juga baru sebatas rutinitas untuk pemenuhan syarat-syarat minimal akademik. Misalnya, dosen atau peneliti hanya ingin memenuhi syarat demi naik pangkat menjadi golongan lektor kepala atau guru besar.

Kalau dilihat secara menyeluruh, posisi RI masih tertinggal jauh dengan negara-negara lain dalam daftar yang sama, semisal Jepang (menyumbang 4.483 nama), Cina (12.948 ilmuwan), atau India (9.104 ilmuwan). Komentar Anda?

Saya pikir, itu wajar. Sebab, infrastruktur kita dalam penelitian masih sangat rendah dibandingkan dengan negeri-negeri lain. Saya merasakan itu saat menjadi senior lecturer di Curtin University Malaysia pada 2011 atau juga ketika mengambil post doctoral atau menjadi visiting professor di beberapa negara, seperti Jepang dan Belanda.

Di negara-negara itu, saya lihat, infrastruktur penelitiannya sangat luar biasa. Mereka mempunyai laboratorium-laboratorium kunci dan pusat-pusat keunggulan. Kalau kita, belum bisa disediakan oleh pemerintah, apalagi oleh swasta kita yang tidak ada kontribusi besar.

Minimnya dukungan pada infrastruktur penelitian menjadi faktor?

Tentu hal itu menjadi penghambat sehingga kita masih berada jauh di bawah Jepang. Jangankan dengan Jepang, Cina, atau India. Bahkan dengan sesama negara ASEAN kita masih jauh sekali. Kita hanya lebih tinggi dari Filipina.

Anggaran penelitian di kita masih sangat rendah, hanya nol koma sekian persen dari APBN. Berbeda dengan negara-negara yang saya sebutkan itu. Mereka memberikan perhatian yang besar pada penelitian. Yakni, satu koma sekian persen dan bahkan sampai lima persen dari total APBN-nya.

 
Mungkin kalau mereka kembali ke Tanah Air, justru tidak mendapatkan sarana prasarana yang memadai. Alhasil, beberapa tidak memilih kembali ke Indonesia.
 
 

Apakah kualitas dari kaum akademisi juga menjadi sorotan?

Kalau dari segi kemampuan, saya yakin peneliti-peneliti yang warga Indonesia itu sebenarnya sudah banyak yang cerdas. Banyak mendapatkan beasiswa untuk belajar ke luar negeri. Bahkan, yang memproduksi penelitian-penelitian mereka itu adalah anak bangsa Indonesia sendiri.

Namun, mungkin kalau mereka kembali ke Tanah Air, justru tidak mendapatkan sarana prasarana yang memadai. Alhasil, beberapa tidak memilih kembali ke Indonesia.

Jadi, kata kuncinya, harus ada keberpihakan, baik dari pemerintah maupun swasta, terhadap peneliti. Dukungan itu baik dari segi prasarana maupun sistem penghidupan.

Perihal daftar ilmuwan “Top 2 Percent” itu, nama mereka tentunya sering dikutip dalam jurnal ilmiah bereputasi internasional. Apa yang membedakan tulisan seorang ilmuwan sehingga kerap dinukil?

Pertama, ketika kita melakukan sebuah penelitian itu harus menjawab kebutuhan, bukan keinginan. Jadi, seseorang peneliti harus bisa melihat gap. Misalnya, penelitian saya yang banyak dikutip sekitar tahun 2000-2005.

Saya meneliti masalah yang sederhana, yaitu tentang abu sekam padi (rice husk ash). Tulisan saya itu banyak dikutip karena ada gap pada risetnya. Dengan melihat adanya gap dari penelitian-penelitian sebelumnya, hasil kerja si peneliti bisa dikatakan berkontribusi bagi perkembangan ilmu.

 
Ketika kita melakukan sebuah penelitian itu harus menjawab kebutuhan, bukan keinginan. Jadi, seseorang peneliti harus bisa melihat gap.
 
 

Bagaimana pengalaman Anda sebagai seorang ilmuwan yang tulisannya sering dikutip?

Saya mempunyai sebuah kajian lain yang sederhana juga—selain tentang rice husk ash itu. Namun, hasil kajian itu ternyata banyak dikutip karena dapat merumuskan sebuah persamaan atau formula yang rumit menjadi sederhana. Dan, rumus ini dibutuhkan banyak dalam praktik.

Karena itu, saya kemarin dihubungi teman-teman dari EPA (The United States Environmental Protection Agency atau Badan Perlindungan Lingkungan AS). Mereka mengirimkan surel kepada saya bahwa mereka akan menggunakan rumus yang sudah saya buat di dalam sebuah jurnal.

Sebab, menurut mereka, rumus itu lebih masuk akal. Bahkan, mereka minta tolong untuk dijelaskan tentang cara menggunakan rumus itu. Artinya, yang seharusnya kompleks itu sebenarnya bisa kita sederhanakan sehingga kemudian banyak manfaatnya.

Apa saja kiat Anda tentang menulis artikel ilmiah agar mendapatkan atensi banyak pembaca?

Sejak awal, kita harus membuat yang namanya road map riset. Biasanya, mahasiswa saya yang mau studi S-3 saya minta road map risetnya itu apa. Risetnya harus mengisi gap sehingga bisa berkontribusi nyata. Yang paling penting juga sebetulnya, riset itu tidak harus sangat mahal atau sangat kompleks.

Yang penting, berusaha untuk menyelesaikan permasalahan yang dibutuhkan pada masanya dan juga isu-isu yang kira-kira akan datang. Seorang peneliti harus bisa menjawab tantangan riset minimal dalam lima tahun ke depan. Jadi, agar bisa mendapatkan perhatian harus bisa menjawab suatu isu global. Atau, mengangkat isu lokal menjadi global.

Selanjutnya, network atau kerja sama. Jaringan ini juga penting. Kita harus punya konsorsium dengan teman-teman di negara-negara lain. Misalnya, saya punya konsorsium dengan teman-teman dari Italia ataupun Belanda.

Setidaknya, dua hal itulah yang menjadi kunci. Namun, tidak mudah juga membangun network. Sebab, basisnya adalah trust (kepercayaan). Orang percaya kalau kita reputable dan punya keahlian. Kalau kita tidak punya keahlian dan tidak pula punya reputasi, mereka juga tidak akan mau bekerja sama.

 
Seorang peneliti harus bisa menjawab tantangan riset minimal dalam lima tahun ke depan.
 
 

Menurut Anda, bagaimana seharusnya peran kampus dan juga pemerintah dalam mendorong peningkatan kualitas dunia akademik?

Harusnya kita semua bisa mengubah paradigma dan orientasi di dalam dunia pendidikan atau dunia akademik. Harus yakin bahwa penelitian adalah basis dari kemajuan dan perkembangan negara. Dengan begitu, porsi alokasi anggaran untuk penetian bisa menjadi perhatian juga.

Selama ini, nyatanya tidak begitu. Masih (anggaran APBN untuk penelitian –Red) sangat kurang sekali. Namun, mudah-mudahan dengan adanya pemisahan antara Kemenristek (Kementerian Riset dan Teknologi) dan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) ke depannya bisa bersinergi. Jadi, sebagian besar dananya dialokasikan kepada para peneliti.

Di kampus tempat saya mengajar, UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), saya sudah memikirkan untuk peningkatan kualitas dunia akademik sejak tahun 2017. Saya sebagai tim ikut memikirkan, bagaimana mengembangkan dunia akademik di kampus. Jadi, para dosen kita itu harus terus dikembangkan kualitasnya. Sebab, mereka adalah aset.

Kalangan dosen memiliki tanggung jawab yang juga besar?

Dosen semuanya adalah aset. Karena itu, kualitasnya mesti didorong untuk berkembang. Kalau ada dosen yang belum bisa meneliti dan menulis, maka harus dilatih. Setelah para dosen dipandang kapabel, barulah dana-dana diberikan sebagai stimulan. Cara demikian diterapkan di UMY.

Adapun untuk dosen-dosen yang reputasinya sudah baik, tetap perlu juga didorong untuk kompetitif. Mereka diajak aktif berkompetesi, baik di level regional, nasional, sampai mendunia.

Kemudian untuk meningkatkan kualitas akademik, kampus juga harus pandai menggandeng pihak-pihak swasta. Perusahaan bisa menopang penelitian-penelitian para dosen. Setelah itu, hasil-hasil risetnya juga dapat digunakan untuk proses mengajar atua oleh masyarakat dan industri.

Dengan begitu, hasil risetnya insya Allah akan membawa kemaslahatan umum. Jadi, kalau semua itu dilakukan, maka akan terjadi peningkatan dalam dunia akademik di Indonesia.

Kalau diminta menyimpulkan, menurut Anda, bagaimana pemaknaan menjadi dosen di abad ke-21 ini?

Awal abad ini ditandai dengan kemajuan yang sangat pesat, khususnya dalam perkembangan teknologi informasi. Dan, itu harus kita manfaatkan sehingga bisa mengubah pola-pola riset dari yang sifatnya berbasis lokal atau tradisional jadi global.

Yang tak kalah penting, jangan sampai kecepatan penyebaran informasi membuat kita melakukan misleading informasi. Misal, ketika saya mengeluarkan sebuah peringatan dini terkait bencana longsor. Kalau tidak dikeluarkan pada saat yang tepat, peringatan itu justru akan menyebabkan misleading informasi. Maka, perlu berhati-hati.

 

photo
Tidak hanya berkhidmat di dunia kampus, Prof Agus Setyo Muntohar juga aktif dalam organisasi dan dakwah, terutama melalui Persyarikatan Muhammadiyah. - (DOK IST)

Pernah Bermimpi Jadi Jenderal

Saat masih kecil, Prof Agus Setyo Muntohar tidak membayangkan akan menjadi seorang akademisi. Cita-citanya saat itu ialah menjadi jenderal. Kekagumannya akan dunia militer wajar kiranya. Sebab, ayahnya adalah seorang tentara infanteri.

Lulus dari sekolah menengah atas (SMA), Agus sempat mendaftar sebagai calon taruna Akademi ABRI (kini disebut Akademi Militer/Akmil). Namun, usahanya itu gagal. Ia pun meninggalkan asanya di dunia militer. Pilihannya kemudian jatuh ke dunia akademik.

Setelah melalui beberapa tes, putra daerah Purworejo, Jawa Tengah, ini berhasil terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM). “Barulah di UGM itu, saya lebih termotivasi untuk jadi ilmuwan,” ujar peraih gelar doktor dari National Taiwan University of Science and Technology itu kepada Republika beberapa waktu lalu.

Saat menjadi mahasiswa, ia kerap mengikuti lomba karya ilmiah. Bahkan, Agus pernah menjadi juara nasional. Saat menempuh semester akhir, dirinya ditawari pekerjaan sebagai dosen.

Namun, karena suatu hal, periset yang ahli ilmu tanah itu memilih berkiprah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Dan, hingga kini bapak tiga orang anak itu berstatus sebagai dosen di sana.

Pada mulanya, Fakultas Teknik Sipil UMY justru sempat menimbulkan kesan skeptis. Sebab, waktu itu fasilitas-fasilitas yang ada di kampus tersebut sangat minimal. Bagaimanapun, Agus pantang berpangku tangan.

“Semua peralatan laboratorium waktu itu saya bongkar, saya perbaiki, dan otak-atik. Itulah yang kemudian menjadi alat-alat sederhana yang justru mengantarkan saya bisa banyak (membuat) publikasi. Jadi, kata kuncinya adalah, tidak boleh pasrah dengan keadaan,” kata pimpinan Ranting Muhammadiyah Taman Tirto Selatan itu menjelaskan.

Berbicara tentang dunia akademik, ada seorang tokoh yang menginspirasinya, yakni Prof Robert M Koerner dari Drexel University Philadelphia, AS. “Dia itu saya sangat menginsiprasi saya. Bidang yang ditekuni itu langka, tapi dia tekun sejak lulus sampai dia pensiun tetap di bidang Geosintetik,” paparnya.

Karena ketekunan itu, ilmuwan dari Negeri Paman Sam ini menjadi rujukan satu-satunya di dunia dalam bidang geosintetik, khususnya untuk periode 1980-an dan 1990-an.


×