Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika
14 Nov 2021, 05:55 WIB

Cerita Sumpah Pemuda ‘Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa'

Nama asli Sumpah Pemuda itu adalah Putusan Kongres Pemuda Indonesia Kedua.

 

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Selama sidang-sidang Kongres Pemuda Indonesia Kedua, para peserta menggunakan bahasa Indonesia. Tapi, seperti dilaporkan Darmokondo, koran milik Budi Utomo, “Nona Sitisoendari sebab tidak paham basa Indon, telah berbitjara dalam basa Belanda.”

Saat itu, ia berbicara mengomentari isi pidato Muh Yamin pada hari pertama kongres. Di kemudian hari, ia menikah dengan Muh Yamin. Yamin merupakan sekretaris panitia kongres dan yang menyiapkan naskah trilogi resolusi pemuda.

Terkait

Naskahnya sudah disiapkan sejak Kongres Pemuda Indonesia Pertama pada 2 Mei 1926, diberi nama Ikrar Pemuda yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

“Tiga serangkai, Tabrani-Soemarto-Yamin, bertugas mengulas, mengolah, merintis cita-cita ‘Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa’. Kepada Yamin, diberi tugas menyusun konsep usul yang akan dimajukan ke sidang umum Kongres,” tulis Tabrani, ketua Panitia Kongres Pemuda Indonesia Pertama, dalam kata pengantar untuk terjemahan laporan panitia kongres.

Pada hari kedua kongres, Ahad, 28 Oktober 1928, Nona Poenamawoelan membacakan pidatonya juga dalam bahasa Belanda. “Karena beliau tidak faham basa Indonesia, begitoepoen basa sendiri (Djawa) sebab di tanah Melajoe koerang banjak jang mengerti, maka beliau terpaksa memakai basa Belanda,” tulis Darmokondo.

Acara Kongres Pemuda Indonesia Kedua pada Ahad malam digambarkan oleh Ki MA Machfoed berlangsung dalam suasana syahdu. Ia hadir di kongres sebagai salah satu utusan dari Jong Islamieten Bond. Inilah malam pembacaan Sumpah Pemuda dan penampilan WR Supratman membawakan lagu "Indonesia Raya". 

“Banyak pasang mata tampak berkedip-kedip basah. Banyak pasang bibir tampak berkomat-kamit syukur berterima kasih kepada Tuhan YME. Tampak pula kini di mata batin kami banyak tokoh kita, antara lain, Mr Dr Mahammad Nazif (sekarang almarhum Gouvernement Secretaries VNI) mengguncang tangan pemimpin Kongres Pemuda II nan sukses itu: Sugondo Djojopuspito, putra Tuban keturunan Adipati Ronggolawe, senopati agung negara Majapahit,” tulis Machfoed di buku 45 Tahun Sumpah Pemuda.

Selama kongres, agenda rapat umum dilakukan sebanyak tiga kali. Di rapat-rapat umum ini, kata Sugondo Djojopuspito selaku ketua panitia kongres, dihadiri oleh tamu undangan dan masyarakat umum. Karenanya, jumlah peserta kongres disebut berbeda-beda. Ada yang menyebut ratusan, ada yang menyebut ribuan. Darmokondo menyebut, dihadiri lebih kurang 1.000 orang.

 
Jumlah peserta kongres disebut berbeda-beda. Ada yang menyebut ratusan, ada yang menyebut ribuan. Darmokondo menyebut, dihadiri lebih kurang 1.000 orang.
 
 

Para remaja anggota pandu yang juga melibatkan diri dengan mengadakan pawai sepeda sore harinya --membawa bendera kecil merah-putih-- merasa jengkel dengan perlakuan polisi yang merampas bendera-bendera mereka.

Oleh karena itu, seperti diceritakan Frits KN Harahap yang dulu menjadi anggota pandu di buku 45 Tahun Sumpah Pemuda, mereka mendesak agar kakak-kakak mereka sesegera mungkin melaksanakan acara Sumpah Pemuda. Mereka tidak tahu jika pembacaan Sumpah Pemuda sudah dijadwalkan pada Ahad malam.

“Sumpah Pemuda seperti yang biasanya diucapkan berbunyi sebagai berikut:  I. Bertanah air satu ‘Tanah Air Indonesia’, II. Berbangsa satu ‘Bangsa Indonesia’, III. Berbahasa satu ‘Bahasa Indonesia’. Isi Sumpah Pemuda tersebut adalah resolusi yang disetujui oleh Kongres Pemuda Kedua…” tulis Subagio Reksodipuro dan Subagijo IN, penyusun buku 45 Tahun Sumpah Pemuda.

Dalam kata pengantarnya, penerbit buku Laporan Kongres Pemuda Indonesia Pertama di Weltevreden menyebut, “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa persatuan, Indonesia”. Hingga kini, yang populer adalah “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa” seperti yang ada di dalam lirik lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” karya L Manik.

Nama asli Sumpah Pemuda itu adalah Putusan Kongres Pemuda Indonesia Kedua. Mengulas hasil kongres itu, Darmokondo menurunkan tulisan bersambung dengan judul “Satoe Toempah Darah, Satoe Bangsa, dan Satoe Basa” pada 7-10 November 1928.

photo
Petugas membersihkan pajangan diorama di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Rabu (27/10/2021). Museum dengan koleksi foto dan benda-benda bersejarah dalam pergerakan nasional tersebut berbenah menyambut peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober. - (ANTARA FOTO/ Reno Esnir)

Tapi, koran ini menganggap bahasa persatuan belum diperlukan. Sebab, tulis Darmokondo, “Fatsal terpenting dari pergerakan jang bersemangat, hati bergerak jang senantiasa hidoep, jalah perasaan jang perloe dioendjoek disini ta’ dapat dipisahkan dari boedi pekerti.”

Namun, Darmokondo memuji Putusan Kongres Pemuda itu. “Soeatoe poetoesan penting jang sedikitnja tentoe merengoetkan lawan pergerakan nasional kita.” Putusan itu dinilai Darmokondo terbit dan bersendikan perasaan yang besar.

Untuk mengulas putusan para pemuda di kongres itu, Darmokondo mengutip pernyataan Mussolini. Kata Mussolini, “Perasaanlah jang memboeat ra’jat bergerak; hati, amat berlebihan daripada otak. Perasaan itoelah kekoeatan jang terbesar. Perasaan mempengaroehi segala apa dan menghela-hela apapoen djoega. Ra’jat ditoentoen oleh perasaannja.”

Dengan dasar pernyataan Mussolini itu, Darmokondo menyatakan, “Bersandarkan atas itoe, maka poetoesan jang telah diambil, jalah bahasa pemoeda-pemoedi, poetra2 dan poetri2 kita mengakoe bertoempah darah satoe (Indonesia), berbangsa satoe (Indonesia), dan berbasa satoe (Indonesia), itoelah membesarkan pengharapan kita akan tenaga mereka jang tentoe terpakai apabila mereka telah tiba dipergaoelan hidoep Indonesia.”

Meski Darmokondo mengakui betapa menghidupkan bahasa itu perlu dan menyebut dirinya sebagai “Soerat harian oemoem dalam basa Indonesia (Djawa dan Melajoe)”, tetapi tetap menganggap bahasa bukan sebagai yang utama untuk persatuan. Pandangan ini bukan berarti hendak meniadakan bahasa, sebab bahasa merupakan gambaran budaya tiap-tiap bangsa.

 
Bangsa tanpa bahasa adalah bangkai kapal, tidak memiliki landasan yang kokoh.
 
 

Darmokondo lalu mengutip pendapat-pendapat ahli dari Barat terkait hubungan bahasa dan bangsa. Ada ahli yang menyebut bahasa merupakan bukti keberadaan suatu bangsa. Tapi, ahli lain membantahnya dengan mengatakan bahwa bukti dari suatu bangsa itu bukan dari persatuan adat-istiadat dan lain-lain, dan terutama bukan pula dari persatuan bahasa. Bukti suatu bangsa adalah karena kehendak menumpuk kekuatan untuk mengejar satu cita-cita menjadi satu bangsa.

Tabrani sebagai pencetus nama bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan mengatakan di buku Ons Wapen yang ia terbitkan di Belanda pada 1929, "Pengetahuan bahasa Indonesia bukan satu-satunya karakteristik keindonesiaan kita.” Pernyataan Tabrani itu menunjukkan bahasa persatuan memang bukan satu-satunya yang mengikat persatuan bangsa untuk mencapai kemerdekaan.

Menurut Tabrani, antara bahasa persatuan dan pergerakan kemerdekaan, saling mendukung. Bahasa persatuan itu, menurut Tabrani, merupakan senjata untuk menyampaikan ide-ide perjuangan, sehingga semakin banyak yang memahami ide-ide kemerdekaan itu.

“Bangsa tanpa bahasa adalah bangkai kapal, tidak memiliki landasan yang kokoh,” tulis Tabrani di Ons Wapen.


×