Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, dr Kasil Rokhmat menyuntikkan vaksin Sinovac dosis pertama kepada warga lansia di Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (19/10/2021). | ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/rwa.

Nasional

12 Nov 2021, 03:45 WIB

Baru 43 Persen Lansia Divaksinasi

Sekitar 21,5 juta jiwa lansia menjadi target sasaran vaksin Covid-19

JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sekitar 21,5 juta jiwa lanjut usia (lansia) menjadi target sasaran vaksin Covid-19. Namun, hanya sekitar 9,2 juta lansia di Tanah Air atau sekitar 43 persen yang telah mendapatkan vaksin Covid-19 hingga Kamis (11/11).

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menjelaskan, vaksinasi Covid-19 untuk lansia sebenarnya sudah dimulai sejak Maret 2021. Namun, cakupan vaksinasi kelompok manula berbanding terbalik dengan target sasaran lain yang tinggal 40 persen. 

Ia menambahkan, masih ada 60 persen lansia masih belum divaksinasi. Ia menyebutkan, beberapa provinsi yang sudah mencapai target lebih dari 50 persen, yaitu DKI Jakarta, Bali, Yogyakarta, dan Kepulauan Riau yaitu antara 40 hingga 50 persen. 

Cakupan vaksin untuk lansia di daerah lainnya masih di bawah 30 persen. "Bahkan ada yang (cakupan vaksinasinya) baru 12 persen yaitu di daerah Aceh, Sumatra Barat, Papua," katanya saat mengisi konferensi virtual FMB9 bertema Dialog Produktif Kabar Kamis: Kabar Perkembangan Vaksinasi Lansia, Kamis (11/11).

photo
Dokter dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta bersiap melakukan vaksinasi Covid-19 untuk lansia di UPT Rumah Pelayanan Lansia Budi Dharma, Umbulharjo, Yogyakarta, Senin (4/10). Pelayanan vaksinasi Covid-19 dilakukan dengan sistem jemput bola. Hal ini dilakukan untuk lansia yang memiliki keterbatasan untuk pergi ke sentra vaksinasi Covid-19. Ada sembilan warga lansia yang bisa divaksinasi kali ini setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Ia mengatakan, Kemenkes berharap bahwa vaksinasi Covid-19 untuk lansia, minimal dosis pertama bisa dikejar sampai akhir Desember 2021. Ia menambahkan, target ini penting dicapai karena kesakitan dan kematian pada usia di atas 59 tahun meningkat 6 sampai 7 kali lebih tinggi dibandingkan usia non-lansia. 

Bahkan, dia menambahkan, kalau belajar apa yang terjadi di Singapura ternyata sebagian besar  meninggal dunia adalah lansia yang belum mendapatkan vaksinasi Covid-19. "Jadi, kerentanan sakit berat usai terinfeksi Covid-19 pada lansia sangat tinggi. Rata-rata begitu tidak mendapatkan vaksin langsung menjadi berat dan kemudian berujung pada kematian," katanya.

Apalagi, dia menambahkan, dunia saat ini berhadapan dengan varian delta yang lebih ganas, lebih cepat menular, dan meningkatkan tingkat keparahan penyakit. Untuk meningkatkan cakupan vaksinasi, Nadia menambahkan Kemenkes telah menetapkan kebijakan selain vaksin untuk seluruh kelompok umur di atas 12 tahun. 

Selain itu, vaksinasi untuk lansia juga menjadi salah satu indikator penurunan level kabupaten/kota dalam penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). 

Kemenkes juga menilai rendahnya cakupan vaksin Covid-19 karena masih banyak yang mendapatkan informasi yang tidak tepat. "Banyak lansia mendapatkan informasi kurang tepat. Misalnya kalau punya banyak penyakit penyerta (komorbid) maka seharusnya tidak mendapatkan vaksin Covid-19 karena bisa mendapatkan efek samping," kata Siti Nadia.

Ia mengakui, informasi yang tidak benar dan kemudian didengar oleh lansia akhirnya membuat mereka ragu-ragu untuk mendapatkan vaksinasi.

Di kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Penyakit Dalam/Vaksinolog Dirga Sakti Rambe menambahkan, adanya hoaks dan misinformasi di zaman media sosial (medsos) seperti saat ini memang tidak terhindarkan dan fenomena itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Kabar bohong mengenai vaksin Covid-19 telah terjadi di lingkup global.

"Tetapi kita tak boleh kalah, harus terus melawan. Makanya saat pandemi ini para dokter, ilmuwan 'turun gunung', tak hanya mengurusi pasien atau berkutat di laboratorium," ujarnya.

Diharapkan dengan cara-cara praktisi kesehatan yang kompeten di bidangnya yang terus membanjiri medsos atau media konvensional dengan berita yang benar dari sumber yang kredibel bisa membendung arus kabar yang keliru. "Tetapi memang ada pengaruhnya (lansia yang terpengaruh kabar hoaks)," ujarnya.

Diantaranya, ada kabar bahwa lansia kebanyakan berada di rumah maka tak perlu divaksin Covid-19. Ia menegaskan, anggapan itu salah karena betul memang kelompok renta ini banyak ada di rumah tetapi anggota keluarga lainnya yang serumah dengannya yang lebih muda mencari uang, bepergian atau aktivitas di luar rumah. Kemudian kalau ada yang tertular virus kemudian saat pulang ke rumah akhirnya bisa menularkan virus tersebut pada lansia yang serumah.

photo
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin Covid-19 kepada nenek bernama Tarmi di rumahnya Kelurahan Kalinyamat Wetan, Tegal, Jawa Tengah, Kamis (21/10/2021). Tarmi merupakan lansia tertua dengan usia 102 tahun yang mengikuti vaksinasi Covid-19 di Kota Tegal. - (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/foc.)

"Jadi, bukan berarti di rumah saja maka pasti aman. Lansia harus tetap divaksin Covid-19," katanya. Selain itu, dia menambahkan, ada juga anggapan lansia banyak penyakitnya dan sisa hidupnya tak lama lagi sehingga tak perlu divaksin. Tetapi ia menegaskan itu pemahaman yang salah. 

Artinya, dia menegaskan, lansia meski sudah memiliki banyak penyakit penyerta termasuk diabetes tetap harus dilindungi dengan vaksinasi. Ia menegaskan, lansia merupakan kelompok berisiko tinggi.

Artinya kalau mengalami Covid-19 maka kemungkinan bisa mengalami gejala berat termasuk tingginya potensi kematian akibat Covid-19. "Meski ada lansia yang masih segar dan produktif, ini yang harus dijaga (dengan divaksin Covid-19)," ujarnya.

Ia menambahkan, lansia juga penting mendapatkan vaksin Covid-19 karena terbukti aman dan efektif. Fakta ini bisa dilihat dari 200 juta dosis satu dan dosis kedua lebih telah disuntikkan dan sejauh ini relatif aman. "Jadi, mudah membantah hoaks, bisa dilihat data-datanya keluarga kita, saudara kita. Vaksin terbukti aman dan efektif," katanya.


×