Ilustrasi Mitratel | Youtube

Ekonomi

11 Nov 2021, 11:18 WIB

Mitratel Perkuat Bisnis Menara

Mitratel ditargetkan menjadi perusahaan terbaik dalam industri menara dan infrastruktur digital setelah IPO.

 

 

JAKARTA -- Anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, yakni PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel), segera melantai di bursa. IPO Mitratel merupakan upaya Telkom Grup untuk unlock bisnis menara.

Direktur Utama Telkom Indonesia Ririek Ardiansyah menjelaskan, ada sejumlah faktor yang menjadi alasan untuk initial public offering (IPO) Mitratel. Ia mengatakan, infrastruktur menara dan jaringan telekomunikasi memiliki nilai yang sangat strategis untuk ketahanan nasional dan menjadi aset penting dalam pengembangan masyarakat digital Indonesia pada masa depan.

Menurut Ririek, adanya tower sharing dapat mendorong perluasan perluasan layanan telekomunikasi di seluruh Indonesia. "Telkom memiliki rencana strategis meningkatkan nilai perusahaan secara jangka panjang, yang mana salah satunya dengan unlock bisnis tower IPO," kata Ririek saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (10/11).

Berdasarkan tolok ukur dengan perusahaan telekomunikasi dunia, Ririek menambahkan, bisnis menara dipisahkan dari bisnis telekomunikasi dengan pertimbangan utama akan meningkatkan efisiensi dan fokus bisnis pada yang lebih tinggi dari telekomunikasi. Oleh karenanya, ia mengatakan, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) mengalihkan menara ke Mitratel untuk monetisasi serta meningkatkan efisiensi dan fokus bisnis di seluler.

"Pada saat yang bersamaan, Mitratel didorong menjadi perusahaan menara terbesar di Indonesia dan direncanakan untuk IPO pada kuartal IV 2021," ujar Ririek.

Ririek menilai, IPO tersebut merupakan upaya Telkom Grup untuk unlock bisnis menara yang memiliki valuasi lebih tinggi dibanding telekomunikasi dan diharapkan dapat meningkatkan nilai Telkom dalam jangka panjang. Melalui IPO, Ririek berharap Mitratel menjadi perusahaan terbaik dalam industri menara dan infrastruktur digital, meningkatkan profesionalisme, transparan, dan memperkuat struktur permodalan, serta siap menyongsong tantangan masa depan.

Ririek menyampaikan, carve out atau perusahaan induk menjual saham di anak perusahaan baru melalui IPO menjadi tren dan prioritas bagi para operator telekomunikasi di seluruh dunia untuk memperkuat posisi keuangan dan mengembangkan portofolio lain.

"Dengan IPO Mitratel, nilai bisnis menara Telkom dapat di-unlock dan pada akhirnya akan meningkatkan nilai Telkom secara keseluruhan. penjualan menara akan meningkatkan saham induknya hingga sembilan persen karena menara secara valuasi lebih tinggi daripada telekomunikasi," kata Ririek.

IPO akan mendorong Mitratel menjadi perusahaan menara independen terbaik dengan akses modal sendiri untuk meraih peluang pertumbuhan yang signifikan. Termasuk, meningkatkan indepensi Mitratel untuk lebih agresif memburu anchor co-location, mengerek kapasitas finansial dan fleksibilitas, serta profesionalisme kerja.

Tak hanya bagi Mitratel, menurut Ririek, IPO tersebut juga memberikan dampak positif bagi Telkom Grup karena menjadi kristalisasi dan membuka true value dari aset menara nasional, mendapatkan manfaat dari tren positif jangka panjang industri menara dengan mempertahankan identitas menara yang diperdagangkan secara publik, serta meningkatkan valuasi.

"Bagi negara, dampak IPO akan memberikan potensi pendapatan dari pajak akibat transaksi yang akan bertambah ke depannya seiring pertumbuhan pendapatan bersih dari Mitratel pasca-IPO, mendorong iklim positif investor asing masuk, serta mendorong dan membuka kesempatan berinvestasi bagi masyarakat di pasar modal," ujar Ririek.

Ririek menyebutkan, rencana IPO Mitratel telah mendapatkan persetujuan dari dewan direksi, komisaris, dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada Agustus 2021. Telkom telah mengajukan pendaftaran kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada September 2021 dan kemudian melakukan public expose mini hingga akhirnya mendapatkan free effective statement dari OJK pada 25 Oktober lalu.

Rangkaian proses IPO akan ditutup secara resmi dan Mitratel resmi melantai di bursa menggunakan kode MTEL pada 22 November 2021. Ia menyebutkan, kisaran harga saham Mitratel akan berada di angka Rp 775 sampai Rp 975 per saham dengan jumlah saham maksimal yang akan ditawarkan maksimal 29,85 persen atau setara 25,5 miliar lembar saham.

IPO tersebut akan memberikan dana segar hingga Rp 15 triliun sampai Rp 24 triliun kepada Mitratel. Seluruh dana tersebut akan diberikan kepada Mitratel untuk pengembangan bisnis, penguatan modal kerja, membangun menara baru, maupun mengakuisisi menara lain, termasuk menara milik Telkomsel.

Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan, perusahaan saat ini fokus menatap IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ia menjamin proses IPO Mitratel akan mengedepankan tata kelola kelola perusahaan yang baik dan menjamin tidak terjadinya insider trading. "Kami sudah menandatangani pakta integritas untuk tidak membocorkan hal tersebut karena ada undang-undang yang mengatur," kata Ardi.

IPO merupakan upaya perusahaan untuk lebih adaptif dalam menghadapi perubahan teknologi yang dinamis. Dengan IPO,  Ardi menyatakan, Mitratel dituntut melakukan akselerasi dalam pengembangkan bisnis, termasuk mempersiapkan infrastruktur teknologi yang mendukung program 5G ke depan.

Mitratel juga berkomitmen mengedepankan upaya lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and governance (ESG) dalam memitigasi tantangan sosial dan lingkungan yang semakin kompleks.

Pimpinan Komisi VI DPR RI Mohammad Haekal mengatakan, Komisi VI DPR RI mendukung penuh langkah IPO anak usaha Telkom tersebut guna meningkatkan nilai perusahaan. Ia menyebutkan, Mitratel saat ini mengelola lebih dari 28 ribu menara telekomunikasi.

"Mitratel punya keunggulan penggunaan serat optik Telkom Grup yang tidak dimiliki perusahaan menara telekomunikasi mana pun di Indonesia," kata Haekal.

Haekal berharap keunggulan tersebut menjadikan Mitratel untuk berperan lebih besar dalam mendukung optimalisasi digitalisasi dan industri 4.0 seiring meningkatnya jaringan 5G.

Haekal juga berharap IPO memberikan dampak positif bagi Mitratel, Telkom, dan masyarakat. Menurut Haekal, Mitratel dapat menjadi perusahaan yang independen, akuntabel, transparan, dan lebih cepat mengejar pertumbuhan bisnis.

"Dengan begitu, diharapkan ketahanan digital nasional tercapai dengan Mitratel sebagai market leader. IPO juga diharapkan menarik minat investor untuk investasi di Indonesia," kata Haekal.


×