Personel BPBD Kabupaten Bogor mengecek alat perlengkapan kebencananaan saat apel Kesiapsiagaan Antisipasi Bencana Alam di Lapangan Tegar Beriman, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (10/11/2021). Apel tersebut guna meningkatkan kesiapsiagaan mengh | ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

Kabar Utama

11 Nov 2021, 03:50 WIB

Daerah Terapkan Siaga Bencana

Pemerintah terus berupaya mengurangi potensi banjir dengan membangun infrastruktur pengendali banjir.

BANDUNG — Sejumlah pemerintah daerah telah menetapkan status siaga bencana seiring maraknya musibah banjir dan tanah longsor. Status siaga bencana, antara lain, diterapkan di Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil telah meminta kepala daerah dan kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Jabar untuk siaga satu menghadapi musim hujan. Hal itu dilakukan agar seluruh daerah meningkatkan kesiagaan menghadapi potensi bencana pada musim hujan.

"Saya sudah mengimbau kepala daerah, bupati, wali kota, kepala BPBD siaga satu pada musim penghujan ini," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Kota Bandung, Rabu (10/11).

Perintah untuk memberlakukan status siaga bencana ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 360/Kep.606-BPBD/2021 tentang Status Siaga Darurat Bencana Banjir dan Bencana Tanah Longsor di daerah Jabar. Emil mengatakan, surat itu sudah ditandatanganinya sejak 19 Oktober 2021.

photo
Bupati Indramayu Nina Agustina (tengah) melihat peralatan saat apel gelar pasukan kesiapsiagaan penanggulangan bencana di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Selasa (9/11/2021). Apel tersebut guna meningkatkan kesiapan menghadapi bencana saat musim hujan di Kabupaten Indramayu seperti banjir, longsor, gelombang ekstrem dan abrasi. - (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)

Emil mengatakan, musim hujan diperkirakan berlangsung sampai awal 2022. Menurut dia, ada dua potensi bencana saat musim hujan, yakni banjir dan tanah longsor. Apalagi, musim hujan diprediksi berlangsung hingga Maret 2022.

Emil pun mengimbau masyarakat Jabar agar menjaga kebersihan saluran air, termasuk selokan yang berada di lingkungan sekitar serta tidak membuang sampah sembarangan. “Kurangi potensi banjir dengan kitanya disiplin,” katanya.

Menurut Emil, pemerintah terus berupaya mengurangi potensi banjir dengan membangun infrastruktur pengendali banjir. Salah satunya adalah Kolam Retensi Andir yang rencananya selesai dalam dua bulan ke depan.

Kolam itu untuk melengkapi Danau (Kolam) Retensi Cieunteung dalam mengatasi potensi banjir di Citarum.

Dengan adanya infrastruktur pengendali banjir, kata Emil, fenomena bencana alam akan berangsur berkurang jika musim hujan tiba. “Jadi, masih ada (banjir), tapi media boleh bandingkan volumenya sudah berkurang, tidak berlama-lama seperti dulu. Tetapi, kita tidak boleh takabur bagaimanapun itu fenomena alam,” katanya.

Jabar merupakan salah satu provinsi yang kerap dilanda bencana banjir dan longsor. Di Kota Sukabumi, misalnya, tercatat ada sebanyak 55 titik bencana sejak Selasa (9/11) hingga Rabu (10/11) pagi.

Kepala BPBD Kota Sukabumi memerinci, musibah banjir terjadi di sebanyak sebanyak 37 titik, longsor 14 titik, angin kencang pohon tumbang 1 lokasi, dan kebakaran 1 titik, dan bencana lainnya.

Bencana banjir, kata Imran, antara lain, terjadi di Terminal Tipe A Sukabumi Jalur Sukabumi. Selanjutnya, Perumahan Gading dan Jagakarsa RT 03, RW 01 Jayaraksa, Kecamatan Baros, serta Jalan Parigi RT 01, RW 08 Kelurahan Situmekar, Lembursitu. Banjir juga terjadi di Kelurahan Sudajahilir RT 01, RW 03 dan air meluap masuk ke rumah warga Kelurahan Cikundul.

Adapun bencana longsor mengakibatkan rumah terbawa ke Sungai Cipelang, Tanjungsari, RT 05, RW 04 Karang Tengah, Gunungpuyuh. Selain itu, banjir juga menerjang rumah warga di RT 02, RW 03 Kelurahan Limusnunggal.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Sukabumi Zulkarnain Barhami mengatakan, petugas BPBD dan relawan telah dikerahkan ke lokasi bencana untuk penanganan lebih lanjut. Harapannya, keberadaan petugas dapat membantu warga yang terdampak bencana.

''Warga diminta tetap waspada menghadapi bencana karena hujan intensitas tinggi,'' kata Zulkarnain. Langkah ini untuk menekan timbulnya korban jiwa maupun kerugian materi.

photo
Foto udara banjir rob yang menggenangi rumah dan tambak warga di Kampung Sembilangan, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (9/11/2021). Banjir rob akibat pasang surut air laut menggenangi wilayah tersebut selama empat hari dengan ketinggian 30-50 cm. - (ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah)

Di Kabupaten Garut, bencana tanah longsor dan banjir sudah terjadi sejak beberapa pekan terkahir. Intensitas hujan yang tinggi dinilai menjadi salah satu pemicu kejadian bencana tersebut.

Kepala BPBD Kabupaten Garut, Satriabudi, mengatakan, bencana banjir dan longsor terjadi di sembilan kecamatan. Namun, intensitasnya masih dalam skala kecil. Baru satu kecamatan yang telah ditetapkan tanggap darurat bencana, yaitu Kecamatan Sukaresmi.

"Karena, di daerah itu diperlukan percepatan penanganan, khususnya untuk mengatasi jembatan yang terputus," ujar dia kepada Republika, Rabu (10/11).

Sebelumnya, wilayah Desa Sukalilah, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut, diterjang banjir bandang pada Sabtu (6/11). Akibatnya, jembatan yang menjadi akses utama warga sekitar terputus. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut menetapkan status tanggap darurat bencana di wilayah kecamatan itu selama tujuh hari.

Ia menyebutkan, dari beberapa kejadian bencana selama November di Kabupaten Garut, tak ada korban jiwa yang meninggal dunia. "Mudah-mudahan tidak ada," ujar dia.

Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim hujan kali ini akan disertai fenomena La Nina. Artinya, curah hujan kemungkinan lebih tinggi dibanding musim hujan sebelumnya.

Selain Jabar, Jawa Tengah juga menetapkan siaga bencana. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menginstruksikan semua instansi dan elemen masyarakat, terutama yang bergerak dalam bidang kebencanaan, agar siaga sampai April 2022 guna mengurangi risiko bencana saat musim hujan.

"Informasi BMKG mencatat, Jateng akan dilanda cuaca ekstrem berupa hujan lebat pada Desember nanti, Januari akan turun dan Februari akan tinggi lagi. Kita harus siap siaga sampai April tahun depan dan siap menghadapi situasi yang terburuk," katanya di Semarang, Selasa.

Hal itu disampaikan Ganjar saat memimpin apel kesiapsiagaan bencana di halaman kantor Gubernur Jawa Tengah yang diikuti jajaran TNI-Polri, Kejaksaan, dan seluruh elemen kebencanaan hingga sukarelawan di Jateng.

Ganjar juga memerintahkan seluruh kepala terus melakukan edukasi dan menyebarkan peta bencana sekaligus informasi kepada masyarakat. "Gunakan early warning system meskipun dengan alat sederhana, bisa kentongan dan lainnya yang masyarakat sudah paham," ujarnya.

Tempat-tempat pengungsian, Ganjar menambahkan, juga harus disiapkan dengan penerapan protokol kesehatan ketat, khususnya di daerah-daerah rawan bencana. Dia turut meminta ada minimal satu kali pada bulan ini agar masyarakat siap menghadapi situasi terburuk.

photo
Seorang warga mendorong keluar sepeda motor dari banjir yang merendam Desa Ampeh, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, Selasa (9/11/2021). Banjir akibat luapan sungai yang tidak mampu menampung tingginya intensitas hujan itu menerjang Tiga kecamatan di Aceh Utara dan ratusan jiwa warga dilaporkan mulai mengungsi. - (ANTARA FOTO/Rahmad)

Selain kesiapsiagaan bencana, Ganjar meminta instansi pada sektor kehutanan terus menggalakkan penanaman dengan melibatkan masyarakat dan mengedukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

"Mumpung ini musim hujan, ayo giatkan penanaman. Sambil menanam, kita standby terus, mudah-mudahan tidak ada bencana, tapi kalau ada kita sudah siap semuanya," ujarnya.

Di luar Pulau Jawa, Kalimantan Selatan juga telah menetapkan status siaga bencana. Kepala BPBD Kota Banjarmasin, Fahruraji mengatakan, daerahnya menetapkan status siaga bencana karena air sungai mulai meluap.

"Sejumlah wilayah mulai terjadi genangan cukup tinggi sejak Selasa malam ," ujarnya di Banjarmasin, Rabu.

Menurut Fahruraji, sejak 1 November 2021, daerahnya sudah menetapkan status siaga bencana banjir, tanah longsor, dan gelombang pasang. “Khususnya kita ingatkan ini di wilayah berdekatan dengan sungai," ujarnya.

Air sungai yang meluap ditambah sering terjadi hujan yang curahnya cukup tinggi, kata Fahruraji, hingga mengakibatkan ada sebagian wilayah permukiman warga yang mengalami genangan hingga 40 sentimeter.

Sumber : Antara


×