Suasana rapat kerja antara Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin (kedua kiri) dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/11/2021). Menkes memaparkan rencana membeli sejuta dosis obat Covid-19 Molnupirarvir | ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Kabar Utama

09 Nov 2021, 03:55 WIB

Indonesia Beli Sejuta Obat Terapi Covid

Indonesia mengupayakan bisa memproduksi obat Covid-19 di Tanah Air.

JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan membeli sebanyak 600 ribu hingga 1 juta tablet obat terapi Covid-19 Molnupiravir pada akhir Desember 2021. Pembelian obat dalam jumlah besar ini merupakan upaya untuk mengantisipasi risiko gelombang ketiga kasus Covid-19.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, sudah bertemu dengan pihak Merck & Co, perusahaan yang memproduksi Molnupiravir di Amerika Serikat, beberapa hari lalu. Kesepakatan sudah tercapai untuk pembelian 600 ribu hingga 1 juta dosis pada Desember 2021.

"Jadi (pembelian ini untuk) mempersiapkan diri. Mudah-mudahan tidak terjadi (gelombang ketiga). Tapi, kalaupun terjadi, kita punya stok obatnya," kata Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Senin (8/11).

Budi menjelaskan, obat molnupiravir akan diberikan kepada pasien Covid-19 bergejala ringan-sedang. Salah satu indikatornya adalah pasien dengan saturasi oksigen masih di atas 95. "(Sebab) hasil uji klinis di luar negeri, 50 persen pasien bisa sembuh, tidak masuk rumah sakit," ujarnya.

Setiap pasien, lanjut Budi, membutuhkan 40 tablet. Dia memperhitungkan harga 40 tablet itu sekitar 40-50 dolar AS. "Tidak terlalu mahal karena masih di bawah Rp 1 juta," ujarnya.

Dengan perkiraan harga 50 dolar AS atau Rp 713 ribu per 40 tablet, Kemenkes akan mengeluarkan dana sebesar Rp 17,82 miliar untuk membeli 1 juta tablet Molnupiravir. Perhitungan itu mengacu pada kurs hari ini, Rp 14.275 per dolar AS.

Budi menambahkan, untuk jangka menengah, pihaknya akan berupaya agar obat molnupiravir ini bisa diproduksi di dalam negeri. Kini, sejumlah perusahaan BUMN dan swasta sudah mengajukan lisensi kepada Merck & Co mengenai hal itu. "Kalau bisa cepat, mudah-mudahan tahun depan kita buat ini di sini sehingga bisa memperkuat ketahanan sistem kesehatan kita," ucap Budi.

Molnupiravir yang dijual dengan merek Lagevrio merupakan salah satu obat terobosan Covid-19. Obat tersebut mulanya dirancang untuk menangani influenza. Otoritas kesehatan Inggris menjadi yang perdana mengizinkan penggunaannya bagi pasien Covid-19 pada November ini.

Selain molnupiravir, obat yang juga digadang-gadang ampuh belakangan adalah paxlovid buatan Pfizer. Uji klinis sementara diklaim menunjukkan bahwa obat itu mampu mengurangi 89 persen risiko keparahan dan kematian. Belum ada negara yang mengizinkan penggunaan paxlovid meski pemesanan sudah mulai dilakukan.

photo
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengikuti rapat kerja (Raker) dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/11/2021). Rapat tersebut membahas evaluasi penanganan pandemi Cpvid-19 dan strategi mitigasi gelombang ketiga melalui ketersediaan obat, alat kesehatan, vaksin, dan tenaga medis, serta keterjangkauan akses testing dan tracing bagi masyarakat. - (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, penjajakan kerja sama akan dilakukan pemerintah terhadap sejumlah perusahaan farmasi besar, di antaranya Merck & Co, Pfizer, hingga Johnson & Johnson.

Luhut mengatakan, pemerintah ingin perusahaan tersebut berinvestasi di sektor farmasi dan memproduksi obatnya di Indonesia, terutama obat dan vaksin Covid-19. Sebab, Indonesia membutuhkan obat dan vaksin Covid-19 dalam jumlah besar.

"Sekarang pembicaraan kita sudah pada tahap-tahap yang berlanjut," ujar Luhut saat memberi sambutan secara virtual dalam Forum Nasional Kemandirian dan Ketahanan Industri Sediaan Farmasi, Senin (8/11). Kesuksesan uji klinis Molnupiravir dan Paxlovid telah membuat pemerintah tertarik menjajaki kerja sama dengan perusahaan-perusahaan tersebut.

Luhut menekankan, dari pengalaman sebelumnya, ketergantungan dunia farmasi dengan pasokan dari luar negeri menyebabkan Indonesia kesulitan saat negara-negara melakukan restriksi atau pembatasan.

"Respons Merck dan Pfizer sangat baik merespons usulan kita. Negosiasi dengan Merck sudah dilakukan dan mereka sangat terbuka untuk memberikan lisensi produksi molnupiravir di Indonesia. Dan bukan hanya molnupiravir, juga kita bicara kepada macam-macam obat lainnya yang bisa diproduksi di Indonesia dan ini semua kita jajaki," katanya.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito mengatakan, produksi Molnuvirapir di dalam negeri memang terus diupayakan. “BPOM sudah dihubungi yang mendapat yang jadi fasilitas produksi, salah satunya India, untuk molnuvirapir ini," ujar Penny dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Senin (8/11).

Ia menyampaikan, BPOM telah menerbitkan informatorium obat Covid-19 di Indonesia. "Ini untuk merespons terhadap perkembangan dari uji klinis pengembangan obat-obat Covid dan tentunya perkembangan terapi dari obat-obat Covid-19," kata Penny.

photo
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Penny Kusumastuti Lukito mengikuti rapat kerja (Raker) dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/11/2021). Rapat tersebut membahas evaluasi penanganan pandemi Covid-19 dan strategi mitigasi gelombang ketiga melalui ketersediaan obat, alat kesehatan, vaksin, dan tenaga medis, serta keterjangkauan akses testing dan tracing bagi masyarakat. - (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Pasien Gejala Berat

Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Masdalina Pane menilai, rencana Kemenkes membeli satu juta tablet obat Covid-19 Molnupiravir tidaklah urgen. Sebab, pasien bergejala ringan tak membutuhkan obat. Seharusnya, Kemenkes fokus menyediakan obat untuk pasien bergejala berat sehingga bisa mengurangi angka kematian.

Masdalina menjelaskan, pasien dengan gejala ringan tak memerlukan obat untuk pulih dari infeksi korona. Pemulihannya cukup dengan menjaga pola makan, jangan stres, olahraga, dan tingkatkan imun dengan meminum suplemen. Jika gejala memburuk, segera rujuk ke rumah sakit.

"Jadi, tidak ada urgensinya orang tanpa gejala dan gejala ringan diberi obat itu (molnupiravir)," kata Masdalina kepada Republika, Senin (8/11). 

Sebelumnya, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Dr dr Zubairi Djoerban SpPD-KHOM turut merespons hadirnya obat Covid-19 bermerek Molnupiravir. Ia menganggap obat itu masuk golongan "tukang tipu". 

Zubairi mengatakan maksud "tukang tipu" bukan berarti Molnupiravir menipu masyarakat. Ia menjelaskan "tukang tipu" merujuk pada kemampuan Molnupiravir dalam melawan penyakit. 

Molnupiravir ialah obat oral atau obat yang bisa diminum. Fungsinya menghambat replikasi RNA virus corona di fase awal. Kemampuan molnupiravir mencegah virus memperbanyak diri membuat obat tersebut sangat efektif mencegah perburukan Covid-19. 

"Profil Molnupiravir si tukang tipu ialah calon obat oral pertama pasien Covid-19. Dirancang menipu virus agar tak bereplikasi," kata Zubairi dalam keterangan di akun Twitternya beberapa waktu lalu. 

Zubairi sependapat dengan klaim bahwa Molnupiravir dapat menurunkan resiko kematian penderita Covid-19. Ia menganggap kemunculan molnupiravir ialah kabar positif dalam perang melawan Covid-19. "(Molnupiravir) kurangi risiko rawat inap dan kematian 50 persen untuk pasien gejala ringan-sedang," ujar Zubairi.

Bahkan Zubairi menyebut Molnupiravir mampu meredam penyakit lain. Sebab, riset awal Molnupiravir ditujukan untuk melawan influenza dan ebola. "Berguna lawan Ebola, Chikungunya, influenza," sebut Zubairi. 

Walau demikian, Zubairi mengimbau semua pihak bersabar sebelum dapat mendatangkannya ke Tanah Air. Molnupiravir masih perlu menuntaskan uji klinis tahap tiganya. "Tunggu uji klinis tiganya," ucap Zubairi.

Pengujian

Sementara, Inggris akan mulai meluncurkan pil antivirus Covid-19 molnupiravir melalui sebuah pengujian obat akhir bulan ini. Pekan lalu Inggris menjadi negara pertama yang mengizinkan obat Covid-19 itu, yang dikembangkan oleh perusahaan AS Merck & Co Inc dan Ridgeback Biotherapeutics tersebut. 

"Ini adalah kabar baik dan itu (Molnupiravir) akan mulai diluncurkan melalui pengujian obat pada akhir bulan ini atau awal Desember," kata Kepala Penasehat Medis di Badan Keamanan Kesehatan Inggris Susan Hopkins, Ahad (7/11).

Dia mengatakan, semua pengujian sejauh ini dilakukan pada orang yang belum divaksin, sehingga pengujian di Inggris akan membantu memahami efektivitas obat tersebut pada populasi yang sudah divaksin. 

photo
Kapsul Molnupiravir yang disebut ampuh mengobati pasien Covid-19. - (AP Photo)

Pemerintah Inggris pada Oktober mengatakan telah mengamankan 480 ribu paket obat anti Covid-19 buatan Merck dan 25 ribu paket obat serupa yang dikembangkan Pfizer. "Obat baru buatan Pfizer itu mungkin belum akan diizinkan hingga sekitar pergantian tahun," kata Hopkins. "Kemungkinan masih beberapa bulan lagi." 

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Selandia Baru Andrew Little  menyatakan bahwa badan konsumen obat-obatan nasional Pharmac mengamankan pasokan obat lainnya, yaitu "Baricitinib".

"Baricitinib menjadi obat kelima yang diamankan oleh Pharmac dan menambah daftar obat remdesivir, tocilizumab, molnupiravir dan Ronapreve sebagai pengobatan yang dapat dilakukan oleh dokter untuk membantu masyarakat dengan berbagai gejala COVID-19," katanya, akhir pekan lalu. 

Seperti halnya tocilizumab, baricitinib dapat digunakan untuk mengobati pasien gejala berat sebab obat tersebut mengurangi keparahan gejala dan mempersingkat rawat inap serta menurunkan risiko kematian. Pharmac berharap dapat memperoleh 500 dosis baricitinib pada November ini, yang menjadi penting karena terjadi kelangkaan global tocilizumab.

Obat baricitinib juga menjadi opsi lain bagi para dokter, katanya.Pembiayaan seluruh kelima obat tersebut akan dialokasikan dari dana penanganan Covid-19 pemerintah. Obat tersebut belum direstui oleh Medsafe untuk digunakan dalam pengobatan Covid-19.


×