Pekerja menimbang dan mengemas gula pasir kiloan di Gudang Perum Bulog Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Jumat (2/4/2021). Kementerian Perdagangan menambahkan stok gula pasir impor untuk Pemerintah Aceh sebanyak 8.000 ton untuk memenuhi kebutuhan gula pasir sel | ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Ekonomi

08 Nov 2021, 09:24 WIB

Raksasa Gula UEA Siap Kembangkan Produk Bioetanol

Guna mendorong investasi gula UEA, Kemenperin telah mengundang pihak AKS untuk datang ke Indonesia.

DUBAI -- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan mengawal rencana investasi Al Khaleej Sugar Co (AKS) di Indonesia. Produsen gula asal Uni Emirat Arab (UEA) itu berpotensi menghasilkan produk turunan, yaitu bioetanol. Hasil hilirisasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi baru dan terbarukan (EBT).

“Hasil samping proses produksi gula tebu dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi baru dan terbarukan antara lain bioetanol untuk substitusi BBM dari minyak bumi, dan biomassa dari bagas tebu sebagai sumber energi pembangkit tenaga listrik,” kata Plt Dirjen Industri Agro Putu Juli Ardika di Dubai, UEA, Ahad (7/11).

Putu menyampaikan, pihaknya akan memfasilitasi rencana investasi AKS yang saat ini menjadi produsen gula terbesar di kawasan Timur Tengah dan lima besar dunia. Dia mengatakan, investasi ini akan membantu pemenuhan kebutuhan gula nasional dan juga kebutuhan energi di Sulawesi dan kawasan Timur Indonesia.

"Karena dia (AKS) besar investasinya. Dia sangat tertarik dan kita sedang membuat langkah-langkahnya supaya dia bisa berinvestasi," tuturnya.

Guna mendorong investasi raksasa gula UEA tersebut, Kemenperin telah mengundang pihak AKS untuk datang ke Indonesia dan melihat potensi yang ada. Putu mengatakan, investasi AKS membutuhkan ketersediaan lahan seluas 100 ribu hektare.

Saat ini, lahan yang diproyeksikan untuk ditanami tebu itu terdapat di Sulawesi. Selain memproduksi gula, AKS juga tertarik dengan produk turunan lainnya dari tebu, yakni biomassa yang dapat dijadikan energi listrik dan etanol untuk pencampuran bahan bakar.

"Biomassa merupakan produk samping gula dengan jumlah mencapai 30 persen dari setiap produksi gula. Etanol ini terbuat dari produk samping proses gula yang bernama molasis dengan jumlah sebesar empat persen,” ujarnya.

Putu mengatakan, etanol berperan untuk meningkatkan oktan bahan bakar. Umumnya, untuk kendaraan roda empat sudah bisa menggunakan bahan bakar dengan kandungan etanol 20 persen dan kendaraan roda dua 10 persen.

“Di Indonesia, kebutuhan etanol masih sangat besar dan belum dipenuhi oleh produksi dalam negeri,” tandasnya.

Sejalan dengan rencana investasi AKS, pemerintah pun berkeinginan untuk menjadikan industri gula nasional dapat menerapkan teknologi Industri 4.0 dan lebih lebih ramah terhadap lingkungan. Melalui teknologi industri 4.0 atau digitalisasi, akan terjadi efisiensi yang akan memberikan nilai tambah bagi produk-produk Indonesia.


×