Keluarga bahagia (ilustrasi) | Freepik

Kitab

07 Nov 2021, 21:12 WIB

Resep Imam Al-Ghazali: Bahagia itu Sederhana

Buku ini merangkum tema kebahagiaan dari delapan kitab karya sang Hujjatul Islam.

Kalau naik mobil mewah, punya uang banyak plus rumah mewah, pasangan hidup cantik atau ganteng, sering traveling ke luar negeri bolak balik, apa itu semua menandakan hidup bahagia? Tidak.

Kalau bahagia diukur dengan itu semua, maka sungguh kebahagiaan hanya milik orang berharta melimpah, bos eksekutif, dan tokoh papan atas. Padahal mereka dengan segala kemewahan dan kelebihan yang dimiliki terkadang diselimuti nafsu hebat berupa ketidakpuasan. Apa tandanya?

Ini dia: Sudah punya rumah tiga tingkat, masih kurang. Maunya rumah sepuluh tingkat. Sudah punya mobil dengan empat pintu masih kurang. Pengen-nya mobil dengan sepuluh pintu (Apakah ada?) Sudah punya pasangan hidup yang baik lagi cantik atau ganteng, masih melirik pasangan hidup orang lain. Orang seperti ini tidak akan merasakan bahagia meskipun orang lain menganggap mereka bahagia

Lalu bagaimana dengan mereka yang tak punya harta, tak berjabatan, bahkan tak punya apa-apa. Apa dianggap tak bahagia? Apakah para salik seperti bangsawan Ibrahim bin Adham (abad ke-8) yang meninggalkan istana beserta segala kegemerlapan tidak bahagia?

Pandangan mata awam mungkin menganggapnya menyedihkan. Tapi coba perhatikan batinnya. Dia selalu mengagungkan asma Allah. Dia mempermainkan dunia, sengaja hidup sederhana, seadanya. Rezeki yang dia dapatkan dimanfaatkan menjadi tenaga berzikir. Bukan untuk dipermainkan dunia: foya-foya, sibuk dengan keduniaan, jauh dari Allah, sehingga hubbuf dunya. 

Tulisan reporter Republika Muhyiddin ini akan menggambarkan singkat tentang apa itu bahagia menurut Hujjatul Islam Al-Ghazali, maestro tasawuf yang pandangannya begitu dihormati mistikus dan filsuf Barat William James dan pengkaji Islam masa kini Michael Marmura.

*****

SETIAP orang cenderung menginginkan kebahagiaan. Bagi seorang Muslim, perasaan bahagia tidak hanya dimaknai dari perspektif duniawi. Sebab, ada kehidupan sesudah kematian. Dan, negeri akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan (QS al-Ankabut: 64).

Maka dari itu, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kaum Muslimin untuk berdoa, mengharapkan kebaikan di dunia dan juga akhirat. Alhasil, yang menjadi penanda bahagia bukanlah hal-hal materiil belaka.

Lebih dari itu, para ulama menganjurkan umat untuk meraih kebahagiaan yang hakiki. Dalam khazanah sejarah Islam, banyak sekali alim ulama yang menulis kitab tentang cara-cara mencapai puncak kebahagiaan. Salah satunya ialah sang Hujjatul Islam, yakni Imam al-Ghazali.

Dai terkemuka ini lahir di Kota Tus, Khurasan (Iran), pada 1058 M. Sejak masih kecil, dirinya sudah berstatus yatim. Namun, kenyataan itu tidak menyurutkan semangatnya.

Di antara kesibukan yang disenanginya ialah belajar. Al-Ghazali berkesempatan mengenyam pendidikan yang sangat berkualitas mulai dari usianya belia. Berbagai cabang ilmu agama Islam dipelajarinya. Rihlah keilmuan dilakukannya di banyak kota, seperti Gurjan, Nishapur, dan Baghdad.

Saat berusia 33 tahun, penguasa setempat mengangkatnya sebagai pimpinan Madrasah Nizamiyah Baghdad. Bisa dikatakan, inilah puncak kariernya sebagai seorang ahli ilmu. Di sana, dirinya dapat dengan mengajar para murid yang datang dari pelbagai penjuru dunia. Di samping itu, waktunya semakin leluasa untuk menulis dan berkarya.

Akan tetapi, baru empat tahun memimpin universitas itu, al-Ghazali dilanda kegalauan. Batinnya tidak bahagia. Sebab, ia mengalami krisis spiritual dan intelektual yang sangat serius sesudah mendalami ilmu kalam, khususnya dari Syekh al-Juwaini. Disiplin itu membahas berbagai aliran yang kadang kala satu sama lain berkontradiksi.

Rektor Nizamiyah Baghdad itu merasa, sudah tiba waktu baginya untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya. Dia meyakini, pengetahuan yang diperoleh melalui pancaindera tak dapat dipercaya. Sebab, kelima indra bisa saja keliru. Kepercayaannya bahwa pengetahuan yang pasti bisa diperoleh melalui akal juga kian tergerus.

Akal rasional dan metode empiris, menurutnya, ternyata tidak bisa diandalkan sebagai jalan menuju kebenaran. Satu-satunya pilihan yang baginya terbuka lebar ialah tasawuf. Begitulah curahan hatinya, seperti termaktub dalam karangannya, Al-Munqidz Mina adh-Dhalal.

Pada 1905, al-Ghazali meletakkan jabatan di Akademi Nizamiyah. Ia mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Rihlah itu ditempuhnya untuk memalingkan hati dan pikiran dari kekayaan, pangkat, popularitas, dan segala pernak-pernik duniawi. Justru, dengan itulah dirinya merasa kebahagiaan bisa diraih.

photo
Buku ini merupakan terjemahan atas delapan kitab karya Imam al-Ghazali, khususnya yang membahas perihal kebahagiaan. - (DOK IST)

Kimia kebahagiaan

Bagi umat Islam, khususnya Muslimin di Indonesia, sosok Imam al-Ghazali tersohor akan karya monumentalnya, Ihya Ulum ad-Din Namun, masih banyak kitab selain itu yang juga ditulis oleh sang mujadid.

Di antara buku-bukunya yang menyinggung tentang tema kebahagiaan ialah Kimiya as-Sa’adah (Proses Kebahagiaan), Ayyuha al-Walad (Wahai Anakku), Ar-Risalah al-Wa’dziyyah (Untaian Nasihat Keimanan), Mi’raj as-Salikin (Tangga-tangga Para Salik), Misykat al-Anwar (Cahaya di Atas Cahaya), Minhaj al-Arifin (Jalan Para Pencari Tuhan), Al-Adab fi ad-Din (Etika Beragama), dan Risalah ath-Thair (Risalah Burung).

Kedelapan kitab itu telah diterjemahkan secara terpadu oleh Penerbit Turos Pustaka. Hasilnya ialah buku berjudul Resep Bahagia Imam al-Ghazali. Seperti tampak pada sampulnya, kumpulan naskah itu berupaya menawarkan gagasan tentang upaya merasakan kebahagiaan, menurut sang Hujjatul Islam.

Buku ini diawali dengan pembahasan tentang proses kebahagiaan. Rujukannya ialah Kimiya as-Sa’adah. Pada bagian ini, pembaca diajak untuk berkenalan dengan makna kimia yang dikaitkan dengan kebahagiaan. Konsep itu digagas al-Ghazali.

Kimiya merupakan sebuah istilah pada masa sang penulis untuk menggambarkan proses pengubahan sesuatu yang tidak berharga menjadi logam mulia, semisal emas atau perak. Karena itu, al-Ghazali menggunakan istilah ini untuk menggambarkan proses transisi atau transformasi manusia dari makhluk yang hina menjadi yang mulia.

Sang imam menjelaskan, maksud dari kimia adalah menanggalkan segala kekurangan dan mengenakan segala sifat kesempurnaan. Karena itu, lanjut dia, hendaknya setiap insan kembali menuju Allah SWT, Zat Yang Mahasempurna. Dengan perkataan lain, untuk mencapai kebahagiaan seseorang mesti selalu berupaya dekat dengan-Nya.

Menurut al-Ghazali, setidaknya ada dua tahap “kimia” kebahagiaan yang harus dilalui, yaitu mengenal diri sendiri dan mengetahui Allah Ta’ala. Dua fase tersebut akan membawa manusia untuk mencapai puncak kebahagiaan.

Dalam kitabnya itu, dia menjelaskan bahwa kunci mengetahui (atau mencapai pengetahuan) Allah (makrifatullah) ialah mengenali diri sendiri. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Alquran surah al-Fushshilat ayat 53.

Artinya, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah kebenaran bagimu.” Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Siapa yang mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya.”

Al-Ghazali juga menjelaskan bahwa kebahagiaan yang sempurna tergantung pada tiga potensi, yaitu amarah, syahwat, dan ilmu. Ketiganya ada bukan untuk saling meniadakan. Seyogianya, seorang insan bisa menyelaraskan semua potensi tersebut agar tercapailah kebahagiaan yang hakiki.

Kalau tidak begitu, niscaya dirinya akan galau dan sengsara. Misalnya, ketika amarah lebih unggul, maka yang muncul ialah kebodohan. Atau, jika syahwat lebih unggul, yang lahir ialah keserampangan.

Al-Ghazali menjelaskan, semestinya seorang Muslim menempatkan potensi syahwat dan amarah di bawah kendali akal. Keduanya jangan melakukan apa pun kecuali atas perintah akal. Jika akal telah berposisi demikian, maka orang itu layak disebut memiliki akhlak yang mulia. Inilah bagian dari benih-benih kebahagiaan.

Dalam Resep Bahagia Imam al-Ghazali, terekam pula petuah-petuah sang sufi, khususnya yang bersumber dari kitab Ayyuha al-Walad. Di dalamnya, ulama dari masa keemasan peradaban Islam itu memaparkan banyak nasihat kepada para muridnya.

Menurut al-Ghazali, ada dua macam nasihat, yakni yang berbicara dan yang diam. Pertam itu ialah Alquran, sedangkan yang terakhir merupakan kematian. Alquran dan maut sudah cukup sebagai nasihat bagi orang-orang yang beriman. Siapa saja yang tidak mengambil hikmah dari Kitabullah dan kematian, tidak pantas untuk menasihati orang lain.

Buku ini kemudian ditutup dengan pembahasan kitab Risalah at-Thair, yang berarti risalah burung. Di dalamnya, sang penulis menyajikan cerita alegori tentang sebuah usaha, pengorbanan, pencarian, dan keberhasilan.

Dengan membaca buku terjemahan ini, pembaca akan lebih mudah untuk mengetahui pemikiran dan ajaran Imam al-Ghazali. Terlebih lagi, karya yang terbit pada Oktober 2021 itu menjahit kedelapan kitab sekaligus dari karya sang alim.

Kualitas penerjemahan yang sangat baik juga menjadi salah satu kelebihan dari buku ini. Untuk mereka yang kurang menguasai bahasa Arab, membaca risalah ini adalah opsi yang layak diambil.

Judul : Resep Bahagia Imam al-Ghazali

Penulis : Imam al-Ghazali

Penerjemah: Kaserun AS Rahman

Penerbit : Turos Pustaka

Tebal : 388 halaman


×