Asma Nadia | Daan Yahya | Republika
06 Nov 2021, 03:45 WIB

Pada Akhirnya, Hanya Allah

Pada akhirnya, hanya Allah tempat hamba-Nya bergantung, menyandarkan segala sesuatu.

OLEH ASMA NADIA 

Saat ini, tidak sedikit orang yang memercayakan nasib sepenuhnya pada diri sendiri. "Kamu adalah penentu nasibmu sendiri!”

"Jangan percayakan nasib pada orang lain, percayalah pada diri sendiri."

Di satu sisi, memiliki prinsip demikian tentu akan berdampak positif bagi perkembangan diri, tetapi menjadi buruk ketika lalu bermuara pada keyakinan bahwa diri sendirilah sesungguhnya penentu masa depan.

Terkait

Dalam film-film luar percakapan berikut misalnya, sering kita temukan. Saat satu tokoh cerita  memberi semangat dengan ucapan "Good luck". Lawan bicara merespons dengan, "Luck has nothing to do with this".

Bahkan, pencinta film pastinya pernah menemukan adegan seorang tokoh mendoakan dengan kalimat, "May God be with you". Namun menuai jawaban, "God has nothing to do with this". Atau, "I dont need God, I need more troops". Intinya, keberadaan Tuhan terasa kian terpinggirkan.

 
Maka itu, aneh jika masih ada manusia yang enggan menyandarkan nasib pada Sang Pencipta, dalam keseharian sejatinya tanpa sadar telah menyandarkan nasib pada manusia lain, tidak jarang, secara strata sosial justru tidak lebih tinggi.
 
 

Sebenarnya, tidak salah juga untuk percaya bahwa kita dalam skala tertentu memang harus menentukan nasib sendiri. Allah dalam Alquran pun berfirman bahwa Dia tidak mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah nasibnya sendiri.

Akan tetapi, ayat tersebut memiliki dua unsur penting. Pertama, manusia yang harus memulai untuk mengubah nasib. Kedua, ada unsur Allah sebagai pemegang keputusan final.

Sebagai hamba-Nya kita memang harus berusaha, melakukan tindakan, berikhtiar, dan berjuang seribu daya. Namun, aksi tak berhenti di sana.  Keyakinan manusia pada diri sendiri harus diimbangi dengan pengakuan atau kesadaran akan  keberadaan Allah sebagai penentu. 

Maka itu, aneh jika masih ada manusia yang enggan menyandarkan nasib pada Sang Pencipta, dalam keseharian sejatinya tanpa sadar telah menyandarkan nasib pada manusia lain, tidak jarang, secara strata sosial justru tidak lebih tinggi.

Ketika bepergian dengan kendaraan yang dikemudi sopir,  maka nasib tidak lagi berada dalam genggaman tangan sendiri, tetapi bergantung pada pengendara.

Lelaki super kaya, Dodi Alfayeed dan salah satu wanita terpopuler dunia, Lady Diana menemui episode akhir hidup mereka secara tragis akibat kelalaian sopir yang ditengarai sedikit dipengaruhi alkohol.

Berita-berita kecelakaan senada di jalan raya bukan hal baru. Terkini, kabar duka yang mengejutkan banyak orang. Kecelakaan yang menewaskan pasangan artis,  dan membuat bayi mereka seketika menjelma yatim piatu, juga diduga disebabkan kelalaian sopir yang mengantuk.

 
Fakta-fakta di atas bicara, betapa nasib kita sangat dipengaruhi orang lain. Jika orang luar saja bisa   berkontribusi akan nasib  kita, tentu saja Allah--Sang Pencipta dan Pemilik Semesta, mempunyai kekuasaan yang jauh, jauh lebih besar.
 
 

Begitu pun sewaktu naik pesawat, maka nasib tak lagi berada di tangan penumpang, tapi bertumpu pada sang pilot. Beberapa tahun lalu, sempat ramai berita pesawat komersial yang menabrak Pegunungan Alpen. Usut demi usut, sang pilot sengaja bunuh diri dan menyebabkan seluruh penumpang  tewas.

Militer Amerika pernah kehilangan ratusan nyawa ketika pesawat yang mengangkut tentara pulang --dari tugas di Irak-- terjatuh setelah transit di Kanada. Tercenung memikirkan ratusan prajurit yang secara hitung-hitungan di atas kertas, usai selamat dari medan peperangan hebat, seharusnya bisa segera menjumpai keluarga mereka, tapi menemui kematian gara-gara teknisi darat tidak menjalankan tugas dengan baik.

Fakta-fakta di atas bicara, betapa nasib kita sangat dipengaruhi orang lain. Jika orang luar saja bisa   berkontribusi akan nasib  kita, tentu saja Allah--Sang Pencipta dan Pemilik Semesta, mempunyai kekuasaan yang jauh, jauh lebih besar.

Tulisan ini tidak bermaksud menyurutkan siapa saja yang sedang membangun kepercayaan diri dan telah berjuang keras untuk itu. Percaya diri harus. Mengambil langkah-langkah sebagai ikhtiar mengubah nasib--tanpa harus menunggu kehadiran orang lain yang mencipta keajaiban--wajib.

Perubahan apa pun tidak akan terjadi jika kita hanya berpangku tangan. Namun, kawal segala sesuatunya dengan doa. Sebab pada akhirnya, hanya Allah tempat hamba-Nya bergantung, menyandarkan segala sesuatu; keinginan ataupun harapan sederhana, cita-cita, termasuk keselamatan kita dan keluarga. 


×