Foto udara permukiman dan kawasan pelabuhan di Jakarta, Selasa (19/10/2021). Bank Indonesia (BI) optimistis perekonomian Indonesia masih tumbuh positif dan tinggi pada kuartal III 2021 terutama menyusul pelonggaran PPKM dan menggeliatnya perekonomian. | ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/aww.

Kabar Utama

06 Nov 2021, 03:45 WIB

Ekspor Topang Pertumbuhan Kuartal III

Pertumbuhan ekonomi kuartal III 2021 sebesar 3,51 persen merupakan hal yang positif.

JAKARTA -- Ekonomi Indonesia tetap mampu tumbuh positif pada kuartal III 2021 meskipun ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKKM) Darurat yang berlanjut dengan PPKM berlevel.

Kinerja ekspor menjadi penopang di tengah pelemahan berbagai mesin pertumbuhan akibat diperketatnya pembatasan aktivitas seiring melonjaknya kasus Covid-19 akibat varian delta. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi pada Juli-September mencapai 3,51 persen terhadap periode sama tahun lalu (year on year/yoy) dan tumbuh 1,5 persen terhadap kuartal II 2021 (q-to-q). Tingkat pertumbuhan kuartal III yang sebesar 3,51 persen lebih rendah dibandingkan kuartal II 2021 yang tumbuh 7,07 persen (yoy). Adapun sepanjang Januari-September 2021, ekonomi tumbuh 3,24 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. 

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, penerapan PPKM Darurat serta PPKM Level 4 selama Juli-Agustus berdampak pada terbatasnya mobilitas masyarakat. Hal tersebut juga berdampak pada berbagai sektor, terutama sektor transportasi.

"Semua moda transportasi, mulai dari darat hingga udara mengalami penurunan jumlah penumpang. Ini juga berujung pada lesunya sektor pariwisata yang rata-rata mengalami kontraksi, kecuali Bali tumbuh 2,64 persen,” kata Margo dalam konferensi pers, Jumat (5/11). 

Mobilitas penduduk baru mulai meningkat pada September seiring semakin masifnya vaksinasi. Menurut dia, hal ini menambah kepercayaan masyarakat untuk beraktivitas. “Tapi, secara keseluruhan mobilitas penduduk lebih rendah dibandingkan kuartal II 2021 ataupun 2020,” ujarnya. 

Pengetatan pembatasan membuat sumber pertumbuhan berdasarkan pengeluaran mengalami penurunan cukup dalam. Konsumsi rumah tangga yang berperan besar dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB), misalnya, hanya tumbuh 1,03 persen pada kuartal III (yoy). Pada kuartal II, konsumsi masyarakat sempat tumbuh 5,96 persen (yoy).  Konsumsi pemerintah juga turun dari 8,03 persen pada kuartal II menjadi 2,96 persen pada kuartal III.

Sementara, ekspor barang dan jasa hanya turun tipis. Komponen tersebut tumbuh 29,16 persen (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan kuartal II yang tumbuh 31,98 persen (yoy). 

Margo mengatakan, BPS mencatat nilai ekspor pada kuartal III 2021 mencapai 61,42 miliar dolar AS, meningkat 50,9 persen dibandingkan periode sama 2020 yang sebesar 40,7 miliar dolar AS.

"Kinerja ekspor turut mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2021. Perkembangan harga komoditas pangan atau tambang memengaruhi kinerja ekspor kuartal III 2021 tumbuh cukup signifikan," ujarnya. 

Pertumbuhan ekspor tertinggi terjadi pada sektor pertambangan dan lainnya yang tumbuh 161,2 persen (yoy). Lalu, ekspor migas tercatat tumbuh 56,13 persen (yoy) dengan nilai 3 miliar dolar AS dan industri pengolahan tumbuh 38,96 persen (yoy) senilai 46,6 miliar dolar AS. Sementara, sektor pertanian mencatatkan kontraksi 5,69 persen (yoy) menjadi 1,04 miliar dolar AS. 

Momentum terjaga 

Pemerintah menilai pertumbuhan ekonomi kuartal III 2021 sebesar 3,51 persen merupakan hal yang positif mengingat terjadi eskalasi kasus varian delta Covid-19 dan penerapan PPKM.  Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan, aktivitas ekonomi sempat tertahan akibat varian delta yang merebak pada Juli-Agustus.

 "Capaian pertumbuhan tersebut  menunjukkan momentum pemulihan tetap terjaga dan akan semakin kuat pascapenurunan kasus varian delta pada pertengahan Agustus hingga akhir September 2021,” kata Febrio dalam keterangannya, Jumat (5/11). 

photo
Petugas mengawasi aktivitas bongkar muat peti kemas saat pelepasan ekspor komoditas pertanian serentak di Pelabuhan Sukarno Hatta, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (14/8/2021). Pelepasan ekspor komoditas pertanian yang mengangkat tema Merdeka Ekspor tersebut digelar secara serentak di sejumlah wilayah Indonesia yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo secara virtual. - (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)

Menurut dia, momentum yang relatif terjaga ini tecermin pada pertumbuhan antarkuartal yang tercatat positif sebesar 1,55 persen. Pertumbuhan ini ditopang oleh semua komponen pengeluaran, khususnya ekspor yang tumbuh 29,16 persen. 

Selain itu, kata Febrio, tren pemulihan ekonomi diikuti kondisi ketenagakerjaan yang membaik pada Agustus 2021. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun dari sebelumnya 7,07 persen pada Agustus 2020 menjadi 6,49 persen pada Agustus 2021. Pemulihan ekonomi juga mampu membuka lapangan kerja baru sebesar 2,6 juta lapangan kerja dalam masa pemulihan. 

Kinerja perekonomian sangat dipengaruhi oleh langkah pengendalian pandemi. Pada awal kuartal III, kasus varian delta menyebabkan pemerintah harus menarik rem darurat dengan penerapan PPKM Level IV di berbagai wilayah demi menjaga keselamatan masyarakat. Kebijakan tersebut berdampak cukup signifikan pada mobilitas masyarakat yang turun hingga rata-rata 17,6 persen di bawah level pra-pandemi. 

Namun, kebijakan ini terbukti berhasil menekan tingkat penyebaran kasus Covid-19. Saat ini, berbagai indikator pandemi terus membaik. Tambahan kasus harian, kasus aktif, positivity rate, dan rasio keterisian tempat tidur rumah sakit terjaga tetap rendah. 

Staf Khusus (Stafsus) Presiden Bidang Ekonomi Arif Budimanta mengatakan, data BPS menunjukkan bahwa Indonesia mampu mempertahankan tren pertumbuhan positif pada kuartal III 2021. “Ekonomi tetap berada di zona positif saat puncak pandemi Covid-19 menghebat pada Juli-September 2021,” ujar Arif, kemarin. 

Menurut Arif, pertumbuhan ekonomi sebesar 3,51 persen di tengah penerapan PPKM menandakan masyarakat mulai beradaptasi untuk berkegiatan di tengah pandemi. Hal itu dinilai menjadi modal yang kuat bagi pemulihan ekonomi ke depannya meski pandemi belum berakhir. 

Arif meyakini, ekonomi akan lebih menggeliat pada kuartal IV 2021 setelah kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat mulai diperlonggar. Hal itu juga diperkuat dengan kondisi pandemi Covid-19 yang terus mereda. Tingkat vaksinasi di Indonesia saat ini bahkan telah mencapai hampir 60 persen untuk suntikan dosis pertama dan 37 persen untuk suntikan dosis kedua. 

Ekonom Senior Center Of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, perlambatan kasus Covid-19 saat ini akan mendorong konsumsi rumah tangga tumbuh lebih tinggi.  Karena itu, pemerintah diharapkan bisa menjaga kasus Covid-19 tetap melambat agar pembatasan kegiatan masyarakat tak kembali diketatkan seperti awal kuartal III. 

"Pada kuartal III 2021, pertumbuhan konsumsi rumah tangga relatif rendah dibandingkan komponen lain. Padahal, komponen ini merupakan penyumbang terbesar pada kue perekonomian Indonesia," ujar Yusuf. 

Yusuf menilai, melambatnya konsumsi rumah tangga juga selaras dengan bantuan pemerintah, terutama untuk kelompok menengah dalam bentuk bantuan sosial tunai (BST), yang hanya disalurkan pada Juli untuk periode dua bulan. Setelah itu, bantuan untuk kelompok tersebut tidak disalurkan. 

"Hal ini juga terkonfirmasi dari pertumbuhan belanja pemerintah yang juga ikut melambat pada kuartal III seiring dengan penyesuaian yang dilakukan dalam beberapa pos belanja pemerintah, termasuk di dalamnya soal bantuan sosial," katanya.


×