IoT (Ilustrasi) | Pixabay

Inovasi

04 Nov 2021, 12:32 WIB

Melirik Potensi Besar Ekspansi IoT

Indonesia menyimpan potensi besar di persaingan pasar IoT.

Saat ini, khadiran teknologi IoT (Internet of Things), makin banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari, hal sederhana seperti penggunaan smart watch, smart home hingga hal yang lebih komplek seperti sistem perbankan atau industri manufaktur yang menggunakan robot. 

Mengacu pada International Telecomunication Union (ITU-TY.2060), pengertian IoT adalah infrastruktur global bagi masyarakat yang memungkinkan layanan canggih dan dapat terhubung secara fisik dan virtual, menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi ini juga dapat diibaratkan sebagai jaringan raksasa yang menghubungkan berbagai macam hal. 

Jadi, IoT dapat menghubungkan berbagai perangkat dan sistem melalui jaringan internet. Secara garis besar, terdapat empat layer yang mendasari IoT, yakni perangkat sensor, jaringan dan gateway, platform, seperti perangkat manajemen, keamanan, analitik, serta aplikasi dan solusi. 

Meski hanya memiliki porsi sembilan persen dari keseluruhan hal yang mendasari IoT, namun tanpa jaringan internet, sebuah perangkat canggih tidak akan berfungsi istimewa lagi. Menyoal ketersediaan jaringan internet sangat erat kaitannya dengan operator seluler. 

Saat ini para operator berlomba memberikan layanan data tercepat dengan tarif yang terjangkau pada masyarakat. Meski secara bisnis sudah berdarah-darah, sebab tarif internet di Indonesia adalah yang termurah kedua di dunia setelah India, kini para operator pun dipaksa untuk berpikir cerdas mencari solusi bisnis yang mendatangkan keuntungan.

Konsolidasi bisnis atau merger merupakan salah satu solusinya. Saat ini, industri telekomuikasi Indonesia, tengah menantikan kelanjutan rencana merger antara Indosat Ooredoo dan Hutchison Tri Indonesia. 

Kolaborasi keduanya tidak hanya akan menggabungkan jumlah pelanggan menjadi 104 juta. Tapi juga mengoptimalkan pemanfaatan frekuensi, kualitas layanan, dan infrastruktur lain yang dimiliki. 

Founder Asosiasi IoT Indonesia, Teguh Prasetya, pada Diskusi Masa Depan Industri Telekomunikasi Indonesia yang digelar Indonesia Technology Forum (ITF), Rabu, (3/11) menjelaskan, operator dapat lebih banyak masuk ke industri IoT dan bertransformasi menjadi digital solution company untuk mendatangkan pendapatan yang cukup tinggi.

“Sepertinya rekan-rekan operator sudah punya unit khusus yang mengembangkan IoT. Modal utama berupa frekuensi sudah ada, sehingga siap untuk dikembangkan dari jarigan 4G ke 5G,’ ujarnya. 

Selanjutnya, Teguh melanjutkan, operator juga bisa menyediakan solusi platform yang menyasar industri-industri tertentu. “Peluang ini masih cukup terbuka lebar celahnya,” tambah Teguh yang juga Ketua Bidang Industri dan Kemandirian IOT, AI dan Big Data Masyarakat Telematika Indonesia/MASTEL ini.

 

 
Operator masih memiliki peluang untuk menyediakan solusi platform yang menyasar industri-industri tertentu.
TEGUH PRASETYA, Founder Asosiasi IoT Indonesia
 

Pasar IoT Indonesia 

photo
Pemanfaatan teknnologi IoT (Ilustrasi) - (Freepik )

Kebutuhan pasar IoT di Indonesia juga cukup besar dan penetrasinya bisa dilakukan ke berbagai sektor industri. Muai dari, manufaktur, kesehatan, agrikultur, retail, sektor publik, dan lain sebagainya. 

Pasar yang menjanjikan ini, ditunjang juga dengan kondisi pasar aplikasi dan platform IoT di Indonesia yang terus berkembang. Kebutuhan setiap tahunnya meningkat signifikan dan berpotensi naik hingga 78 persen pada 2025.

Implementasi IoT juga memiliki potensi yang besar pada efisiensi biaya, jaminan pertumbuhan pendapatan, mempermudah quality control sesuai standar yang ditetapkan, keamanan lebih tinggi dan keselamatan yang lebih terjaga. 

IoT sendiri menduduki urutan pertama dari empat industri teknologi teratas selain kecerdasan artifisial (AI), cloud infrastructure, dan big data analytics yang memberi dampak, berdasarkan survei dari Deloitte. Industri ini bahkan tidak terpengaruh oleh pandemi yang terjadi sekarang. 

Melihat potensi dan perkembangannya ke depan, dapat dikatakan bahwa IoT berpeluang cukup tinggi sebagai salah satu pemasok pendapatan bagi operator. Teguh mengungkapkan, pada 2019, baru sekitar 1,5 juta rumah di Indonesia yang berstatus smarthome

Artinya, rumah-rumah ini telah memiliki akses internet dan berbagai aktivitas di rumah telah menggunakan digital. Situasi pandemi Covid-19 ternyata ikut pula mendongkrakkan jumlah smarthome menjadi sekitar 6,5 juta. 

Menurut ICT Expert pada 2021 bukan tidak mungkin, Indonesia akan memiliki 12,5 juta smarthome. Potensi IoT di rumah-rumah juga masih sangat besar. 

Perkuat Keamanan Siber

Huawei Indonesia makin menegaskan komitmennya dalam mendukung kesiapan ekosistem di Indonesia dalam mengoptimalkan pendayagunaan teknologi 5G yang tak lama lagi akan terimplementasi di berbagai sektor.

Salah satu wujud komitmen tersebut ditunjukkan melalui gelaran pelatihan standar keamanan 5G yang diselenggarakan bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) di Huawei ASEAN Academy Engineering Institute Jakarta.

photo
Direktur Kebijakan Teknologi Keamanan Siber dan Sandi BSSN, Soetedjo Joewono, SE MM (kiri) dan Cybersecurity and Privacy Protection Officer Huawei Indonesia, Syarbeni. - (Dok Huawei Indonesia )

Pada pelatihan yang bertajuk 5G Security Training and NESAS Best Practices Discussion, Selasa 92/11), Huawei melakukan alih pengetahuan sekaligus membagikan kepakarannya di bidang 5G kepada para peserta. Peserta dari pelatihan ini adalah para perwakilan unit kerja di BSSN yang memiliki kaitan dengan teknologi 5G, baik dalam hal strategi kebijakan dan standardisasi, teknologi, operasional, tata kelola dan keilmuan.

Direktur Kebijakan Teknologi Keamanan Siber dan Sandi BSSN, Soetedjo Joewono SE MM menjelaskan, keamanan siber menjadi salah satu faktor kritikal penentu optimalisasi pendayagunaan teknologi 5G di masa depan.

“Kami sangat mengapresiasi komitmen dan kontribusi Huawei yang terus berkelanjutan dalam meningkatkan pengetahuan ekosistem terhadap potensi sekaligus risiko-risiko yang harus diantipasi dari kehadiran teknologi-teknologi mutakhir,” ujarnya. 

Menurut Soetedjo, kepakaran Huawei di bidang teknologi 5G dan teknologi-teknologi lainnya, serta best practices yang mereka bagikan, sangat bermanfaat dalam membangun kesiapan BSSN dalam menyongsong era 5G. Termasuk, memberikan wawasan yang bermanfaat bagi kami dalam menyusun kebijakan-kebijakan terkait.

Senada, Cybersecurity and Privacy Protection Officer Huawei Indonesia, Syarbeni menjelaskan, teknologi 5G menghadirkan keunggulan-keunggulan optimalisasi pendayagunaannya yang berpotensi besar dalam meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Namun, selain keunggulan kecepatan, rendahnya latensi, hingga kapabilitas sebagai pemampu hadirnya beragam inovasi layanan nirkabel yang revolusioner. 

Selain itu, ada pula faktor-faktor fundamental yang berperan kritikal dalam mengoptimalisasi pendayagunaan teknologi 5G. Faktor tersebut antara lain adalah jaminan keamanan ruang siber.

“Saat ini kita tengah masuk ke peradaban dunia baru di mana semua serba terkoneksi dengan cerdas. Bersamaan dengan beragam peluang baru yang dihadirkan oleh teknologi-teknologi mutakhir seperti 5G, Internet of Things (IoT), Kecerdasan Artifisial (AI) dan Cloud, hadir pula tantangan-tantangan baru yang harus diantisipasi, seperti munculnya risiko-risiko keamanan,” jelas Syarbeni.

Untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut, Syarbeni mengungkapkan, pendekatan sistematis ke seluruh industri dan masyarakat sangat dibutuhkan, Pada pelatihan standar keamanan 5G ini, para peserta mendapatkan pembekalan seputar pengenalan teknologi 5G. 

Termasuk tren industri, serta faktor-faktor pemacu dan skenario pengaplikasian teknologi. Selain itu disampaikan pula tantangan dan kebutuhan terkait keamanan layanan berbasis teknologi 5G, standardisasi dan solusi keamanan 5G.


×