Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

03 Nov 2021, 03:30 WIB

Berlebihan Mencintai Dunia

Pelajaran yang amat berharga bagi orang beriman untuk berhati-hati dengan dunia.

OLEH FAJAR KURNIANTO

Manusia sering kali berlebihan mencintai dunia sehingga lupa Allah dan tujuan hidup di dunia. Mencintai dunia pada hakikatnya tidak dilarang sepanjang dalam batas yang wajar dan sekadar wasilah atau perantara untuk beribadah kepada Allah dan beramal saleh terhadap sesama sebagai wujud syukur atas sebagian kecil dunia yang Dia berikan. Terlalu berlebihan mencintai dunia atau membabi buta dalam mencarinya, justru dapat berakibat buruk.

Dalam kitab Bahr ad-Dumu’ karya Ibnu al-Jauzi, dikisahkan bahwa suatu ketika Nabi Isa dan para pengikutnya melewati sebuah desa. Beliau mendapati seluruh penduduknya telah mati. Kondisi mereka benar-benar mengenaskan. Jasad-jasad mereka bergelimpangan dan wajah-wajah mereka terlumuri kotoran binatang. Beliau pun penasaran ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di sana. 

Nabi Isa lalu berkata kepada para hawariyun-nya (pengikut setianya), “Wahai para hawariyun, sungguh mereka mati karena kemurkaan Allah. Karena, andai kata mereka mati karena keridaan-Nya, tentu mereka akan saling menguburkan.” Mereka berkata, “Wahai Nabiyullah, kami sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Nabi Isa pun berdoa dan meminta petunjuk kepada Allah. Allah pun mewahyukan kepada beliau, “Jika malam tiba, serulah mereka, niscaya mereka akan menjawabmu.”

Pada malam harinya, Nabi Isa naik ke atas bukit dan berseru, “Wahai penduduk desa!” Tak lama kemudian, salah satu jasad penduduk desa bangun dan menjawab, “Kami mendengarmu, wahai Nabiyullah!” Beliau bertanya, “Apa yang terjadi pada kalian? Ceritakanlah yang sebenarnya.” Jasad itu pun menjawab, “Wahai Nabiyullah, pada saat itu kami tengah tidur terlelap dalam keadaan yang aman. Namun, keesokan harinya, kami menemukan diri kami telah hancur seperti ini.”

Nabi Isa bertanya, “Mengapa demikian?” Jasad itu menjawab, “Kami sangat mencintai dunia. Kami juga gemar bermaksiat dan meninggalkan amar makruf nahi mungkar.” Beliau bertanya lagi, “Seperti apa bentuk cinta kalian terhadap dunia?” Jasad itu menjawab, “Kami mencintai dunia seperti anak kecil yang mencintai ibunya. Jika ibu datang, kami riang. Jika ibu pergi, kami sedih dan menangis.”

Nabi Isa kembali bertanya, “Mengapa hanya kamu yang bangun, sementara yang lainnya tidak?”

Jasad itu menjawab, “Wahai Nabiyullah, mereka sedang dijerat dengan rantai besi neraka di tangan para malaikat yang keras dan mengerikan.” Beliau bertanya lagi, “Lalu, bila kamu seperti mereka, mengapa kamu bisa bangun dan menjawabku?”

Jasad itu menjawab, “Dulu aku memang hidup di tengah mereka, tetapi aku tidak ikutan-ikutan seperti mereka yang gemar bermaksiat. Sekarang, aku tergantung di jurang neraka. Aku tidak tahu apakah nanti aku akan selamat atau tidak.” 

Kisah ini menggambarkan nasib tragis orang-orang yang berlebihan mencintai dunia, sehingga lupa kepada Allah. Sebuah pelajaran yang amat berharga bagi orang beriman untuk berhati-hati dengan dunia.

Wallahu a’lam.


×