Pekerja mengolah sampah organik di bank sampah organik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh, Jumat (2/10/2020). Perguruan Tinggi dinilai bakal berperan strategis mencapai karbon netral | IRWANSYAH PUTRA/ANTARA FOTO

Opini

02 Nov 2021, 03:45 WIB

Menuju Perguruan Tinggi Karbon Netral

Perguruan Tinggi dinilai bakal berperan strategis mencapai karbon netral

ACENG HIDAYAT; Dosen Departemen Ekonomi Sumber Daya dan Lingkungan, FEM-IPB University

Pada November 2021 ini, sekitar 200 kepala negara berkumpul di Glasgow, Irlandia, dalam forum Konferensi Perubahan Iklim. Pertemuan ini mengevaluasi komitmen negara-negara penanda tangan Konvensi Perubahan Iklim tahun 2015 di Paris.

Indonesia merupakan salah satu negara yang ikut meratifikasi Konvensi Paris tersebut. Yaitu, konvensi negara-negara untuk menahan laju peningkatan temperatur global maksimal 2 derajat celsius di atas suhu rata-rata dunia sebelum revolusi industri.

Ini dilakukan melalui penetapan target karbon netral setiap negara. Karbon netral salah satu parameter penting tujuan pembangunan berkelanjutan. Karbon netral adalah kondisi keseimbangan antara karbon yang dilepaskan dan karbon yang diserap secara alamiah.

Upaya mencapai karbon netral dengan dua cara. Pertama, meningkatkan penyerapan karbon oleh ekosistem alami.

Kedua, mengurangi kegiatan yang menghasilkan karbon tinggi, seperti penggunaan bahan bakar fosil, menggantinya dengan energi baru dan terbarukan (EBT), seperti energi tenaga air, tenaga surya, turbin angin, atau biomasa.

 
Upaya mencapai karbon netral dengan dua cara. Pertama, meningkatkan penyerapan karbon oleh ekosistem alami.
 
 

Indonesia menargetkan pengurangan karbon 26  persen pada 2030, dengan kemampuan nasional dan 40 persen dibantu lembaga internasional. Sementara, target kondisi karbon netral dicapai pada 2060.

Ini tantangan berat yang memerlukan komitmen bersama dan melibatkan semua pihak, termasuk perguruan tinggi (PT). PT dinilai bakal berperan strategis mencapai karbon netral bahkan dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). 

Karena, pertama, PT berperan menyiapkan SDM yang mengedukasi warga dunia tentang pembangunan berkelanjutan. Kedua, PT menyediakan ilmu dan teknologi yang mendukung pembangunan berkelanjutan.

Ketiga, kampus PT dapat menjadi role model kehidupan masyarakat berkelanjutan melalui realisasi kampus karbon netral.  

Merujuk kutipan di atas, karbon netral adalah kondisi keseimbangan antara karbon yang dihasilkan dan diserap secara alamiah. Ini dapat dicapai dalam kampus karena ia memiliki otoritas mengatur keseimbangan keduanya, yaitu demand dan supply-nya.

Kondisi tersebut dapat dicapai, pertama, PT harus memiliki komitmen melakukan perubahan mendasar dalam pengelolaan kampus. Dari kampus boros energi menjadi kampus hemat energi. Komitmen ini diwujudkan dalam bentuk kebijakan.

 
Merujuk kutipan di atas, karbon netral adalah kondisi keseimbangan antara karbon yang dihasilkan dan diserap secara alamiah. 
 
 

Kedua, kebijakan tersebut diikuti peta jalan pengurangan karbon. Peta jalan ini nanti menggambarkan target pengurangan, waktu dan strategi, serta program kerja yang  terencana dan terukur.

Karena itu, PT mesti punya data karbon yang dihasilkan seluruh aktivitas dalam kampus. Baik aktivitas yang menghasilkan karbon langsung berupa pembakaran sampah dan transportasi, maupun tak langsung, seperti konsumsi listrik, travelling, dan lain-lain.

Di luar itu,  PT  juga mesti memiliki data kemampuan lingkungan kampus menyerap (demand) karbon secara alamiah. Kemampuan alamiah ini didekati dengan mengetahui luasan kawasan bervegetasi, baik horizontal (ground) maupun vertikal.

Juga jenis tanamannya ataupun kawasan terbuka lainnya yang menyerap karbon secara alamiah. Pada 2019, IPB melakukan perhitungan jejak karbon. Tahun ini, IPB memperbarui data-datanya.

IPB menerbikan SK Rektor tahun 2021 tentang komitmen mencapai kampus karbon netral pada 2030. Target bauran EBT dengan energi fosil maksimal 30 persen pada 2030. Ini segera dilengkapi peta jalan, program kerja, dan dukungan sumber daya.

Kontribusi PT 

Kontribusi dan peran PT pada pencapaian SDGs dinilai THE Impact Ranking, lembaga pemeringkat PT pertama di dunia yang menilai kinerja pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) oleh universitas.

THE Impact Ranking diluncurkan 2018. Saat ini telah diikuti sekitar 1.000 perguruan tinggi di dunia. Penilaiannya berdasarkan   empat aspek, yaitu kegiatan akademik, penelitian, pengabdian pada masyarakat, dan pengelolaan kampus.

 
Karena itu, kebijakan, rencana strategis, peta jalan, dan program kerja pencapaian karbon netral menjadi penting.
 
 

Mereka mengevaluasi kinerja universitas dengan 223 pertanyaan dari 17 SDGs.

Dari 223 pertanyaan, 42 terkait kebijakan universitas, sembilan terkait akademik, delapan terkait SDM atau kepegawaian, lima kebijakan mengenai bisnis berkelanjutan, dan 20 kebijakan mengenai PT berkelanjutan, salah satunya kebijakan karbon netral.

Karena itu, kebijakan, rencana strategis, peta jalan, dan program kerja pencapaian karbon netral menjadi penting.

Sesuai Rencana Jangka Panjang (RJP), IPB menargetkan universitas berkelanjutan dicapai pada 2045. Saat itulah, IPB mencapai kondisi karbon netral. Seluruh sampah terpilah, terolah, dan termanfaatkan. Air terkonservasi. Minim kendaraan bermotor dalam kampus.

Sebagian kebutuhan pangan dicukupi suplai internal dan bersifat organik. Kampus hemat energi dan 30 persennya bersumber dari EBT yakni energi matahari, mikrohidro, angin atau biomasa. Ini realitas indah masa depan yang dimimpikan hari ini. 


×