Pemanfaatan teknnologi IoT (Ilustrasi) | Freepik

Inovasi

28 Oct 2021, 16:59 WIB

Aneka Rupa Pengembangan IoT

Pemanfaatan IoT dapat membantu menjamin terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati.

Pengembangan teknologi internet of things (IoT) kini semakin luas ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan. Pada Kamis, (28/10) Alita Praya Mitra menandatangani kerja sama dengan Taman Nasional Bali Barat terkait pembangunan sarana komunikasi jaringan kabel serat optik di zona khusus Taman Nasional Bali Barat, Kabupaten Buleleng, Bali.

Penandatangan perjanjian kerja sama dilakukan oleh Kepala Balai Taman Nasional Bali Barat Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup, Agus Ngurah Krisna dengan Direktur Utama PT Alita Praya Mitra, Teguh Prasetya di Bali. 

Taman Nasional Bali Barat (TNBB) merupakan salah satu Kawasan Pelestarian Alam (KPA) di Bali yang memiliki ekosistem asli habitat terakhir satwa prioritas Curik Bali (Leucopsar rothschildi). TNBB dengan luas 19.026,97 hektare merupakan bagian dari Kelompok Hutan Bali Barat seluas 86.649,84 hektare.

Direktur Utama PT Alita Praya Mitra, Teguh Prasetya mengatakan tujuan kerja sama ini adalah untuk menjamin terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati, keutuhan, dukungan penguatan fungsi dalam rangka mendukung efektivitas penyelenggaraan TNBB. Hal ini dilakukan melalui pemasangan solusi IoT thermal terminal, CCTV dengan sistem monitoring dan analitik, pendampingan konsultan teknologi, serta meminimalkan dampak langsung maupun tidak langsung. 

photo
Penandatangan Perjanjian Kerja Sama Alita Praya Mitra dengan Taman Nasional Bali Barat, Kamis (28/10). - (Dok Alita Praya Mitra )

Menurut Teguh, pembangunan jaringan kabel serat optik diperlukan dalam pengembangkan dan peningkatan layanan penyediaan jaringan infrastruktur untuk menghadirkan akses internet berkualitas bagi masyarakat Pulau Bali. "Hal ini sekaligus mrupakan bagian dari program penyediaan jaringan 5G,” ujarnya.

Kepala Balai Taman Nasional Bali Barat Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup, Agus Ngurah Krisna menambahkan ruang lingkup kerja sama ini meliputi pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan jaringan kabel serat optik, peningkatan kualittas pengembangan dan promosi pariwisata alam, dukungan sarana dan prasarana pengelolaan, serta monitoring dan evaluasi.

“Kerja sama ini berlangsung selama sepuluh tahun dan dapat diperpanjang sesuai dengan kebutuhan,” Agus mengungkapkan.

Alita saat ini memiliki lebih dari 1.300 kilo meter kabel serat optik di Pulau Bali dan memberikan layanan berupa fiber access network, managed service, active network, smart pole, dan site access termination.

Bisnis Menjanjikan

photo
IoT (Ilustrasi) - (Pixabay)

Penurunan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) membuka harapan baru bagi industri teknologi. Salah satunya, FoxLogger, pelaku bisnis global positioning system (GPS) tracker di Tanah Air.

Alamsyah Cheung selaku CEO FoxLogger Indonesia, pada Selasa (26/10), menyampaikan keyakinannya hal ini akan meningkatkan mobilitas masyarakat. Termasuk juga, kebutuhan akan perangkat pelacak GPS.

Mengutip data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), bisnis otomotif memang kian melaju. Gaikindo mencatat selama Januari-September 2021, volume penjualan dari pabrik ke diler mencapai 627.537 unit. Tren ini menunjukkan pertumbuhan hingga 68,67 persen dibandingkan realisasi di periode yang sama pada 2020.

Di sisi lain, volume produksi mobil di periode Januari-September 2021 juga mencapai 794.454 unit. Jumlah ini meningkat 64,41 persen dibandingkan periode yang sama pada 2020. “Semakin banyaknya penjualan kendaraan bermotor melahirkan pasar yang baru untuk bisnis GPS tracker,” kata Alamsyah.

Sebab, kata dia, setiap kendaraan bermotor yang keluar dari pabrikan pasti membutuhkan perangkat seperti, FoxLogger untuk memberikan analisis data pergerakan kendaraan. Selain itu, ketika kendaraan keluar dari pabrikan melalui perusahaan pembiayaan (leasing), maka lebih dipastikan lagi mereka membutuhkan perangkat GPS tracker untuk membantu meminimalisasi risiko kehilangan kendaraan.

Dengan tren yang menjanjikan di pengujung tahun ini, Alamsyah meyakini, bisnis perangkat IoT, khususnya GPS tracker juga akan terus tumbuh pada 2022. Terlebih dengan rencana masuknya mobil listrik dari sejumlah produsen, salah satunya Hyundai.

Waspadai Ancaman Keamanan

Tak hanya di Indonesia, tren peningkatan pemanfaatan teknologi IoT juga terjadi secara global. Pada Selasa (10/26), Palo Alto Networks, mengumumkan hasil survei IoT yang menyoroti peningkatan perangkat IoT nonbisnis yang terhubung pada jaringan perusahaan dalam satu tahun terakhir.

Perangkat nonbisnis ini bervariasi, mulai dari bohlam lampu, alat monitor detak jantung, peralatan gym, mesin kopi, konsol gim, sampai ke pengumpan hewan peliharaan. Hasil survei ini juga memperingatkan diperlukannya perubahan keamanan untuk melindungi jaringan perusahaan yang terhubung pada perangkat IoT nonbisnis.

Riset yang dilakukan, Palo Alto Networks bersama firma riset teknologi Vanson Bourne ini, menyurvei 1.900 profesional IT pengambil keputusan di organisasi di 18 negara, di antaranya Amerika Serikat (AS), Kanada, Brasil, Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, Timur Tengah, Spanyol, India, dan Jepang.

Hasilnya, 98 persen responden mengakui, pendekatan organisasi mereka terhadap keamanan IoT masih memerlukan peningkatan. Sementara, 30 persen responden menyatakan perlunya perbaikan total dengan kemampuan keamanan terbaik yang di seputar perlindungan terhadap ancaman siber.

Principal Researcher Unit 42 di Palo Alto Networks, Vicky Ray, dalam keterangan pers yang diterima Republika menjelaskan, adopsi IoT telah menjadi penggerak bisnis yang penting. “Hal ini menghadirkan tantangan keamanan baru yang dapat dipenuhi jika karyawan dan pengusaha berbagi tanggungjawab bersama untuk melindungi jaringan perusahaan,” ujarnya.

Menurutnya, pekerja jarak jauh saat ini perlu mengetahui perangkat rumah pribadi yang mungkin terhubung ke jaringan perusahaan melalui routerrumah mereka. “Di sisi lain, perusahaan juga perlu memantau berbagai ancaman dan akses ke jaringan dengan lebih baik sambil mempraktikkan segmentasi jaringan yang tepat untuk melindungi karyawan jarak jauh dan aset-aset organisasi yang paling berharga,” kata Ray menjelaskan.

 

 
Menurut penelitian Palo Alto Networks, yang memeriksa 135 ribu kamera keamanan pada Maret 2021, 54 persen dari kamera yang diperiksa memiliki setidaknya satu kerentanan. Hal ini itu memungkinkan kamera untuk dibajak dan kemudian dipersenjatai oleh penjahat dunia maya. Kamera keamanan juga kerap dijadikan batu loncatan untuk melakukan serangan dan mengakses jaringan perusahaan yang lebih luas.
 
 

 


×