Pamer di media sosial menjadi kebiasaan masyarakat masa kini. | AP/Andy Wong

Khazanah

28 Oct 2021, 08:52 WIB

Pandangan Islam Soal Pamer di Media Sosial

Pamer di media sosial menunjukkan kurang empati kepada orang lain yang hidupnya mengalami kemalangan.

Media sosial (medsos) ibarat koin yang memiliki dua sisi. Di satu sisi, bisa berdampak positif bagi penggunanya. Namun, di sisi lain, bisa mendatangkan perbuatan dosa. Di antaranya, media sosial berpotensi dijadikan sarana memamerkan banyak hal, seperti harta, kendaraan, barang-barang mahal lainnya, bahkan anak.

Ketua Bidang Dakwah Persatuan Islam (Persis) KH Wawan Shofwan menjelaskan, sebetulnya sudah jelas bahwa sikap pamer itu dilarang dalam Islam. Apalagi, jika tidak diimbangi dengan kepekaan terhadap orang-orang di sekitar di mana saat ini masih banyak yang hidup dalam kemiskinan.

Jika sikap pamer itu ditujukan untuk memotivasi banyak orang, alasan tersebut bisa saja digunakan. Namun, tetap tidak bisa dielakkan bahwa sekarang ini ada lebih banyak orang yang hidup berkekurangan. Karena itu, setiap orang yang aktif di media sosial harus peka terhadap kehidupan orang lain ketika hendak mengunggah sesuatu di sana.

"Niat untuk memotivasi seperti itu bisa saja, tetapi lihatlah kenyataannya. Misalnya, orang miskin sekarang lebih banyak. Bahkan, orang yang susah makan saja sekarang masih banyak, tetapi ada yang pamer kemewahan tanpa berbagi kepada orang-orang," ujar Kiai Wawan kepada Republika, belum lama ini.

Menurut dia, orang yang melihat unggahan tersebut, yang keadaan ekonominya sedang susah, bisa saja kemudian menggerutu di dalam hati mereka. Kiai Wawan mengingatkan, fakir miskin itu masih punya "senjata" berupa doa.

"Mereka yang miskin pun kalau berdoa kan bisa. Maka inilah yang harus dijaga. Jangan sampai nanti memancing sifat hasad," ujarnya.

Kiai Wawan memaparkan, kekayaan itu sejatinya bukan untuk dipamerkan. Kekayaan adalah untuk menjaga diri, menyelamatkan diri, dan menolong orang lain. Inilah kekayaan yang sejati. Justru, ketika ada orang yang senang memamerkan berbagai hal yang dimilikinya, sebesar itulah apa yang harus dipertanggungjawabkannya.

"Kalau hanya sekadar menunjukkan mobil yang banyak, tapi dipakainya jarang, dan sebagainya, itu sebetulnya bagi orang yang mengerti bukan sedang pamer kekayaan, melainkan sedang pamer betapa banyak hal yang harus dipertanggungjawabkan," ujar dia.

Hal yang lebih parah, Kiai Wawan melanjutkan, yakni ketika tidak suka meringankan beban orang yang berkesusahan, tetapi pamernya luar biasa. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong meski hanya sebesar biji zarah. Tidak akan pula masuk neraka, yaitu seorang yang di dalam hatinya terdapat keimanan meski hanya sebesar biji zarah."

Seorang sahabat kemudian berkata kepada Rasulullah, "Sesungguhnya aku merasa bangga, jika pakaianku bagus dan sandalku juga bagus." Lalu Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa Allah SWT menyukai keindahan, tetapi yang dimaksud kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.

"Maka kalau pamernya itu semata-mata karena kesombongan dan kepongahan bahwa saya hebat dan lain tidak, itu dosanya besar luar biasa," kata Kiai Wawan.

Dia mencontohkan kisah kesombongan Abu Lahab yang diabadikan dalam surah al-Lahab. Kiai Wawan menjelaskan, surah tersebut menunjukkan bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan Abu Lahab di hadapan Allah SWT, baik kekayaan maupun keturunannya. 

"Dari surah ini menunjukkan bahwa harta itu hakikatnya Allah titipkan untuk bisa menjadi penolong kita di akhirat," katanya.

Kiai Wawan juga menyinggung ihwal anak yang bisa menjadi sarana berbuat sombong bagi kalangan orang tua yang aktif di media sosial. Dia mengingatkan, niat harus betul-betul diluruskan saat hendak mengunggah foto anak di media sosial. Kalau dengan unggahannya itu tidak jelas apa tujuan yang ingin dicapai, artinya orang tua tersebut hanya ingin mengikuti tren.

"Kalau hanya sekadar tampan, cantik, itu buat apa (di-posting). Namun, kalau ketika anaknya berprestasi, itu baru bisa untuk memotivasi. Tidak sedikit anak jadi korban eksploitasi karena terlalu diekspos. Mungkin jadi kebahagiaan orang tua, tapi mungkin bagi anak sendiri belum tentu demikian.”


×